Puisi

Rasa yang Hampa

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 17 November 2025 14:46 WIB • 👁 222 Pembaca
Rasa yang Hampa
Ilustrasi : interaktif.kompas.id

Di sudut kota yang ramai,
aku melihat mereka
anak-anak kecil di antara banyaknya kendaraan,
menyodorkan bekas plastik makanan lusuh dengan sedikit memaksa
yang tak pernah disapa.

Mereka hidup dari lampu merah ke lampu merah,
menukar masa kecilnya
dengan recehan dan senyum terpaksa.
Namun, di balik pakaian lusuh dan wajah lesunya,
ada tawa yang hampa,
ada mimpi yang tak sempat tumbuh.

Aku menajamkan telinga
mendengarkan suara bergetar dari tenggorokan anak kecil di samping mobil berkilat merah,
menyambung hidup dari simpati yang kadang tak tulus.

Mereka bukan sekadar potret kemiskinan,
mereka adalah pengingat
bahwa dunia ini belum adil,
bahwa masih ada yang berjuang
tanpa pernah diminta untuk diperhatikan

Suara-suara serak itu ada setiap hari,
tetapi diabaikan
terhalang deru kendaraan
Padahal cukup dengan sedikit empati,
dunia mungkin terasa lebih manusiawi.

Di antara langkah terburu-buru,
aku ingin berhenti sejenak,
mendengar lebih lama suara mereka,
dan bertanya pada diri sendiri:
apakah aku masih manusia
jika tak mampu mendengar
suara-suara kemanusiaan yang memanggil pilu

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Venty Zulia Wati
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.