Di sudut kota yang ramai,
aku melihat mereka
anak-anak kecil di antara banyaknya
kendaraan,
menyodorkan bekas plastik makanan lusuh
dengan sedikit memaksa
yang tak pernah disapa.
Mereka hidup dari lampu merah ke lampu
merah,
menukar masa kecilnya
dengan recehan dan senyum terpaksa.
Namun, di balik pakaian lusuh dan wajah
lesunya,
ada tawa yang hampa,
ada mimpi yang tak sempat tumbuh.
Aku menajamkan telinga
mendengarkan suara bergetar dari
tenggorokan anak kecil di samping mobil berkilat merah,
menyambung hidup dari simpati yang kadang
tak tulus.
Mereka bukan sekadar potret kemiskinan,
mereka adalah pengingat
bahwa dunia ini belum adil,
bahwa masih ada yang berjuang
tanpa pernah diminta untuk diperhatikan
Suara-suara serak itu ada setiap hari,
tetapi diabaikan
terhalang deru kendaraan
Padahal cukup dengan sedikit empati,
dunia mungkin terasa lebih manusiawi.
Di antara langkah terburu-buru,
aku ingin berhenti sejenak,
mendengar lebih lama suara mereka,
dan bertanya pada diri sendiri:
apakah aku masih manusia
jika tak mampu mendengar
suara-suara kemanusiaan yang memanggil
pilu
BACA JUGA:
Kenyataan Pahit Negeri Ini
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!