Di pinggiran kota Bandung yang luas dan asri, hiduplah seorang gadis yang penuh kegembiraan dengan rasa ingin tahu seluas samudra, gadis itu bernama Arasya Lavana. Arasya seorang gadis berusia 15 tahun yang hanya tinggal dengan neneknya. Arasya sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya, dikarenakan kedua orang tua Arasya harus bekerja di luar kota yang jauh tanpa pernah pulang melihat anaknya. Arasya sekarang duduk di bangku kelas sepuluh.
Arasya mempunyai rasa ingin tau yang tinggi mengenai dunia, ia selalu menanyakan ini dan itu pada nenek maupun gurunya. Arasya juga menyukai sesuatu yang berbau seni dan kebudayaan lokal. Suatu hari Arasya yang tengah bosan duduk di bawah pohon memandangi dedaunan yang tertiup oleh hembusan angin lembut, kemudian nenek Arasya datang dengan membawa setumpuk buku penuh warna dan pengetahuan. Arasya yang penuh dengan rasa ingin tahu, langsung mengambil salah satu buku berjudul "Kegagahan Rumah Adat Minangkabau". Arasya membaca buku itu dengan serius hingga ia lupa bahwa senja telah datang.
Di malam hari yang tenang Arasya tetap setia membaca tiap bait pada buku itu. Kemudian ia terdiam dan berpikir sejenak, memikirkan segagah apa rumah gadang itu, apakah sangat luas seperti yang diceritakan buku? Arasya ingin melihatnya secara langsung. Menyaksikan kearifan lokal yang dibalut kemegahan namun masih bisa menjaga keontetikannya. Keesokan harinya Arasya terbangun dengan semburat keceriaan di wajahnya ia merasa ada yang tampak berbeda. Arasya mendengar neneknya tengah berbicara dengan seseorang, ia seperti mengenal suara itu. Arasya yang penasaran berjalan menuju ruang tamu. Arasya terkejut karena akhirnya kedua orang tua Arasya pulang.
Arasya yang senang karena setelah sekian lama tidak bertemu, tanpa basa-basi dan pikir panjang langsung memeluk erat tubuh kedua orang tuanya. Setelah berhasil melepas rindu Arasya pun duduk bersama kedua orang tua dan neneknya. Mereka membicarakan banyak hal, kemudian ayah Arasya membicarakan mengenai rencana liburan semester Arasya yang sebentar lagi datang. Arasya memberi tahu kedua orang tuanya bahwa ia ingin melihat kemegahan rumah gadang. Awalnya orang tua Arasya terkejut dengan permintaan anaknya namun mereka tetap setuju untuk pergi berlibur dan melihat rumah gadang.
Dua bulan berlalu begitu cepat kini Arasya sudah menyelesaikan ujian semesternya. Itu berarti liburan telah tiba ia menghampiri orang tuanya dan menanyakan tentang rencana liburannya. Orang tua Arasya yang mendapati anaknya begitu bersemangat langsung memilih hari dan tiket pesawat menuju Sumatera Barat yang merupakan tempatnya rumah gadang sebagai rumah adat suku Minangkabau yang ada di Sumatera Barat.
Hari yang ditunggu pun tiba, Arasya dan kedua orang tuanya pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan ke kota Padang, Sumatera Barat. Waktu berlalu kini Arasya sedang bersiap untuk mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Baru saja turun dari pesawat Arasya sudah dibuat takjub dengan interior dan arsitektur yang ada di bandara yang berbeda dari bandara lainnya. Arasya teringat dengan buku yang ia baca sebelumnya mengenai kemegahan rumah gadang, ia berfikir bandaranya yang hanya memakai atap yang mirip saja sudah sangat megah apalagi rumah gadang aslinya.
Arasya dan kedua orang tuanya pun melanjutkan perjalanan mereka karena ternya orang tua Arasya memilih objek wisata rumah adat yang jauh dari kota Padang, yaitu objek wisata "SaribuRumah Gadang" yang terletak di Kabupaten Solok Selatan dan membutuhkan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam. Di perjalanan Arasya tidak pernah puas dengan keindahan yang disuguhkan begitu banyaknya perbukitan yang asri, udara yang sejuk sangat jarang sekali terasa di perkotaan.
Arasya bertanya kepada orang tuanya mengapa memilih objek wisata yang berada di desa, orang tua Arasya pun menjelaskan bahwa meskipun banyak tempat di kota Padang yang masih melestarikan rumah adatnya namun nuansanya akan berbeda dengan yang berada di desa karena tidak ada gedung-gedung tinggi maupun sibuknya aktivitas perkotaan sehingga cocok untuk Arasya yang penasaran dengan rumah gadang dan aktivitas di sekitarnya tanpa sentuhan unsur modern.
Pukul 20.00 WIB, Arasya dan keluarganya sampai di daerah tujuan yakni Kabupaten Solok Selatan, Arasya dan keluarganya memutuskan untuk istirahat dan memulai petualangannya besok. Pagi harinya Arasya terbangun dengan gembira mengingat ia yang akan berpetualang mengeksplor tempat baru yang sudah lama Arasya ingin lihat secara langsung.
Setelah sarapan Arasya dan keluarganya pun berangkat menuju destinasisaribu rumah gadang, Arasya begitu takjub dengan kearifan lokal yang ada di sana, semua tampak mengesankan dan kental dengan kebudayaan. Arasya tak menyangka rasa penasarannya kini terbayarkan, ia bisa melihat bahkan merasakan kemegahan itu, sungguh tak kan terlupakan Arasya banyak mengabadikan momen indah yang didapatkan Orang tua Arasya merasa senang karena dapat mewujudkan mimpi anaknya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!