Dinding suci menjadi cermin buta
Bilik jiwa makin hening, makin kosong
Jarum jam berdetik, menusuk ngeri,
Sunyi menganyun, mencekik setiap sisi
Ada yang dicaci dari jiwa sendiri,
Dari setiap pilihan yang berakhir sepi
Bahaya samar mengintai, dari sudut gelap hati,
Ketakutan memburu, tak bisa lari.
BACA JUGA:
Kenyataan Pahit Negeri Ini
Sambil menanti Nasib, entah apa yang mendekat,
Ia terpelanting, seperti mendengar sebuah alunan.
Siapa memanggil? Suara apa yang mengambang?
Lutut bergetar, merosot, air mata basah.
Hanya satu nama yang terlepas dari bibir: bunda! Rangkul aku
BACA JUGA:
Pada Hari yang Mengingat
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!