Dulu aku pikir, hebat itu kalau namanya dikenal banyak orang,
harus terlihat paling sibuk, paling punya uang, bahkan paling terang.
Mati-matian lari cuma buat kejar tepuk tangan semu,
sampai lupa tanya sama cermin, "hei, apa kabar kamu?"
Makin ke sini, lingkaran temanku radiusnya makin kecil,
tak perlu ribuan kontak yang cuma bikin notifikasi kecil.
Aku mulai seleksi mana tangan yang tulus menggenggam,
dan mana yang cuma manis saat butuh lalu diam-diam menikam.
Soal gagal? Ah, itu sudah jadi menu sarapan pagi,
tak perlu drama nangis darah, cukup telan dan berdiri lagi.
Biarlah orang lain pamer lari mereka yang super kencang,
aku jalan santai saja, yang penting pondasiku tak terguncang.
Ternyata "kelas" itu bukan soal merek yang menempel di badan,
tapi soal mental baja saat menghadapi hujan badai di jalan.
Biarlah orang sibuk menilai dari apa yang mereka lihat di kulit luar,
aku sibuk memupuk damai di dalam, biar warasku tak pudar
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!