Cerpen

Rezeki Anak Pintar Ibu

Oleh:
Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 25 Februari 2026 23:01 WIB • 👁 292 Pembaca
Rezeki Anak Pintar Ibu
Ilustrasi: Pinterest

Hai, namaku William Eric. Biasanya dipanggil Eric. Padahal aku ingin sekali dipanggil William, biar keren gituu, haha! Cita-citaku menjadi dokter. Aku bisa dibilang pintar, sering juara, dan selalu menang olimpiade. Akan tetapi... ekonomiku sangatlah sulit, sehingga susah rasanya melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Tapi biar pun begitu, aku tetap semangat!

Aku tinggal bersama Ibu. Kami hanya tinggal berdua. Ayah sudah lama meninggal, sejak aku berumur 5 tahun. Dan sekarang aku sudah berumur 12 tahun. Aku ingin belajar terus-menerus biar bisa banggain Ayah di surga! Hehe.

Aku tinggal bersama Ibu di Desa Sunyiwuri, desa terpencil yang ada di Bandung. Di desa itu, hanya ada satu Sekolah Dasar gratis, dan itu sekolahku! Mengapa gratis? Ya, kalian benar, karena di desa itu dipenuhi orang-orang yang kurang mampu.

Hari ini, pada pukul 06.00 pagi, aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan seperti biasa, Ibu selalu sibuk: apakah aku sudah siap? Jangan bandel di sekolah. Dan... bekal, ya! Bekal.

"Eric! Nak! Kamu sudah siap belum? Ini bekalnya!" teriak Ibu dari dapur.

Kan? Apa ku bilang? Pasti Ibu bakal bilang begitu.

Apa lagi coba yang akan kubilang kecuali "Ya, Bu!" atau "Ya, Bu, Eric sudah siap!".

Setelah itu, aku mencium tangan Ibu dan berangkat ke sekolah. Memang begitu sih setiap harinya, haha!

Tetapi, saat aku mau berangkat... tiba-tiba Ibu berkata lagi.

"Nak, kamu belajar yang rajin ya," ucap Ibu dengan nada sedikit memelas.

Aku sedikit heran. Ibu tidak biasanya seperti ini...

"Ya, Bu. Aku memang harus belajar lebih giat lagi. Kan cita-citaku mau jadi dokter!"

"Iya, nak. Ya sudah, kamu berangkat sana. Nanti telat lagi," ucap Ibu sambil tersenyum.

Aku membalas senyuman Ibu, dan langsung berangkat.

Tapi aku tidak langsung berangkat... Aku diam-diam bersembunyi di tembok belakang Ibu. Aku penasaran, dan aku mendengar Ibu berkata...

"Maafkan Ibu, nak. Sepertinya kamu tidak bisa mencapai cita-citamu. Ekonomi kita sangatlah sulit... Sementara biaya untuk menjadi dokter sangatlah mahal..." ucap Ibu sambil menangis dengan suara pelan.

Deg... Aku langsung... Kenapa Ibu langsung menyerah begitu saja? Aku ini pintar. Sangat tidak mungkin tidak menjadi dokter. Tapi emang sih... biaya dokter tuh mahal. Tapi kita gaboleh menyerah gitu aja, kan? Aku akan berusaha keras!!!

Sesampainya di sekolah, seperti biasa: belajar, presentasi, dapat nilai, istirahat, dan begitu seterusnya sampai waktunya pulang.

Namun kali ini sedikit berbeda. Saat aku berada di kantin...

"Heh, anak orang miskin! Lo tuh caper banget ya? Sok pintar banget sih! Cuih!"

Aldo, anak yang suka iri padaku karena... kepintaranku mungkin, haha! Sebenarnya aku sudah tahu kalau dia benci sama aku. Tapi kali ini dia labrak aku dengan wajahnya yang songong itu, huh!

Tapi sebenernya dia sama kayak anak-anak di sekolah itu: ekonomi sulit. Tapi dia yang paling sok jagoan, sok paling berkuasa di sekolah, seolah-olah dia yang punya sekolah itu. Mana dia selalu ranking terakhir, haha! Bukan cuman itu, di antara anak-anak di sekolah itu, nilai yang paling buruk ya dia. Aku tahu juga ya, karena teman sekelas.

Aku tidak cuma diam. Aku membalasnya dengan tenang.

"Aku memang orang miskin, tapi aku pintar. Lah kamu? Udah miskin, bodoh lagi. Kalo udah miskin tuh ya, minimal pintar," ucapku sambil membalikkan bola mata.

Uhhhh, aku merasa sangatlah puas.

"Arghhhh! Dasar lo, Eric! Beraninya lo!" ucapnya dengan nada kesal.

"Emang kamu siapa?" ucapku yang tidak mau kalah.

"Awas aja lo!" ucapnya sok keren, lalu pergi.

Padahal dia itu cuman orang pedesaan, sama kayak aku. Tapi dia sok kota banget! Pake lo-gue. Huh!

Tapi biarpun begitu, aku akan hadapi semua masalah.

Setahun berlalu. Aku sudah tamat SD. Aku bertanya pada Ibu...

"Bu, Eric SMP-nya di mana??"

Ibu tampak diam saja, tak berkutik... Selang beberapa waktu, Ibu pun berbicara.

"Nak, Ibu belum tahu. Mau menyekolahkan kamu di SMP mana... Biaya SMP dan SMA mahal, Ric..." ucap Ibu sedih.

Aku diam sejenak...

"Gapapa kok, Bu! Eric bisa belajar di rumah, hehe," jawabku.

Aku sedikit menahan air mata. Untuk melupakannya, aku menghidupkan televisi dan menonton.

"Berita terkini: Pemerintah adakan Program Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas secara GRATIS di Desa Sunyiwuri!!!" Suara yang terdengar dari televisi.

Aku yang mendengarnya senang dong! Akhirnya rezeki anak sholeh, haha! Alhamdulillah.

"Bu lihat ada program dari pemerintah ! wahh akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan, Buuuu aku mau menjadi dokter!" ucapku penuh haru dengan sedikit tangis. Hehe, ya! Aku menangis.

Ibu langsung memelukku dengan erat, diiringi tangis juga.

"Bu, ini juga pasti berkat doa Ibu," ucapku.

"Iya, nak," ucap Ibu dengan tangis tersedu-sedu.

"Udah, Ibu jangan menangis lagi ya. Nanti cantiknya hilang," ucapku mencoba menghibur Ibu.

"Haha, iya iyaaa. Dasar anak nakal," ucap Ibu tertawa. Ya! Aku berhasil membuat Ibu tertawa, haha!

Waktu terus berlalu, dan setibanya masuk SMP! Jujur... aku sangat bersemangat!

Saat masuk SMP, yaaa, semuanya baik-baik saja. Berjalan dengan mulus, tanpa gangguan. Dan yang terpenting, aku selalu mendapatkan JUARA PERTAMA !

Kemudian, 3 tahun berlalu begitu saja. Aku pun tamat SMP, dan memasuki SMA.

Saat SMA, semuanya juga berjalan dengan mulus, tanpa gangguan. Selalu juara, seperti saat SD, SMP, hingga kini di SMA pun begitu.

Sampai saatnya perpisahan kelas 3 SMA. Ada yang sangat membuatku dan Ibu menangis terharu. Apa itu?

"YANG MENDAPATKAN BEASISWA KULIAH S1 SAMPAI DENGAN S3 ADALAH...... SELAMAT KEPADA WILLIAM ERIC!!!" ucap Kepala Sekolah di tengah-tengah lapangan. Diiringi tepuk tangan para siswa-siswi dan guru.

Wahh... hatiku rasanya berdegup kencang. Keringat dingin mengucur deras di badanku. Lalu saat itu aku maju ke tengah lapangan. Rasanya keberuntungan selalu berpihak padaku, haha!

Lalu setelah itu aku menghampiri Ibu. Saat aku datang... Ibu sudah menangis tersedu-sedu. Wah, itu pertama kali aku melihat Ibu menangis dengan air mata yang durasinya yaaaa... cukup panjang. Huhuuu, aku jadi ikut menangis deh.

Aku memeluk Ibu dan menenangkannya. Setelah itu kami pulang. Acara juga sudah selesai.

"Selamat ya, Ric. Ibu bangga sama kamu, nak. Ayah kamu juga pasti bangga di atas sana." ucap Ibu pelan namun jelas.

Aku hanya tersenyum. Mengapa? Karena jika aku berbicara, bisa-bisa air mataku menetes sedikit demi sedikit, hehe. Aku menahannya.

Beberapa tahun berlalu. Aku akhirnya menyelesaikan kuliahku. Dan kini... aku berhasil menjadi dokter!!!!!!!!!

Ya! Aku menjadi seorang dokter, sesuai cita-citaku. Yang membuatku lebih bangga lagi aku di tempatkan di salah satu rumah sakit di China!! Aaaaaaaa!! Memang ya, rezeki tuh tidak ada yang tahu! Untung saja ya, aku tidak menyerah saat itu.

Dan kini, aku tidak cuma bekerja di China, tapi aku juga pindah ke China bersama Ibu. Ekonomi kami sekarang sudah sangat berkecukupan. Ini juga berkat doa Ibu.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Deviana
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.