Cerpen

Buah hati tak berdosa

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 4 Maret 2026 22:21 WIB • 👁 669 Pembaca
Buah hati tak berdosa
Ilustrasi: Pinterest

Erika Charlotte Maria, ya, itu aku. Aku anak yang tak diinginkan. Malam itu, aku bersembunyi di bawah meja makan. Piring pecah berantakan, kursi terbalik, dan suara ayah yang mabuk menggelegar bagai petir di rumah kecil kami. Ibu menangis tersedu. Aku hanya bisa menutup telinga dan berbisik pelan, berdoa agar badai itu berlalu.

Ibu akhirnya tak tahan. Dia pergi, meninggalkanku sendirian. Sejak itu, ayah melampiaskan amarahnya padaku setiap malam dengan pukulan. Aku tak melawan karna beliau adalah ayahku satu-satunya.

Saat dewasa, aku bertemu Evan. Kukira dia kunci kebahagiaanku. Tapi aku salah besar. Malam itu, dia menjualku ke preman kejam. Aku menangis darah, mengapa aku dicampakkan begitu saja dengan kekasihku sendiri. Dari neraka itu, lahirlah putri kecilku, Beryl, gadis cantik yang tak kuminta dengan cara sampah ini.

Beryl berusia lima tahun saat kecelakaan mengerikan merenggut kedua kakinya. Tingkahnya kembali seperti bayi, tak berdaya, bergantung padaku. Hatiku hancur berkeping. Aku tak mencuri, tak mabuk, tak menjual diri. Mengapa harus seperti ini?

Aku mulai ragu pada surganya Tuhan. setan jahat merayap di jiwaku. Suatu malam, aku membunuh anakku sendiri. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Tangisku menggelegar diiringi hujan deras dan kilat petir. Aku mencium jasadnya terakhir kali, lalu menusukkan pisau ke dadaku. Sambil memandangnya, aku perlahan tinggalkan dunia kejam ini.

Ketika mataku terbuka, aku berada di tempat asing, wangi busuk. aku di bakar, dilempar, ditusuk berulang-ulang kali. Panas, mendidih ubun-ubunku. kali ini gantian, aku dibiarkan tergeletak di tanah panas, dibiarkannya aku memandang sang malaikat menyakiti putri kecilku yang tak berdosa.. aku pun berteriak.

"JANGAN! JANGAN SAKITI DIA TUHAN. DIA TIDAK BERDOSA"

Tiba-tiba tangisan Beryl membangunkanku dari mimpi buruk. Aku terbangun di kamar Beryl, bersamanya. Traumamasih menghantui, ku pandang gadisku yang masih merah. Aku bersyukur itu hanya mimpi. Ku peluk putriku dalam dekapan hangat. " Maafkan mama nak, kamu anak yang tak berdosa".

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Hanifah tri atika kamila
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.