Di ruang tamu yang kehilangan napas yang resah
jam dinding berdetak tanpa arah
seakan waktu ikut pasrah
di antara suara yang tak lagi berserah.
Langit senja di luar jendela mulai memudar
menguap warnanya perlahan samar
seperti mata Ibu yang kian nanar
tapi sudah lupa caranya membuat onar.
Di meja makan, sendok dan garpu saling membisu
kursi Ayah tetap utuh
namun kepergiannya seperti sembilu
yang tak bisa ditutup oleh apa pun.
Dua piring berhadap saling menampung sisa rindu
dan seulas senyum dipaksa tumbuh
di antara reruntuhan yang disembunyikan relung.
Ibu, dengan suaranya yang setipis helaan
menyulam tenang di antara retakan.
Ada cahaya palsu di sudut ratapan,
seolah dunia tak pernah berantakan.
Namun dari genggaman yang terlalu erat,
terdengar gemetar lirih penuh ringkih
seperti doa yang takut didengar.
Sore pun berlalu lalang seperti kabut,
ada tangan kecil mencari hangat hampir kalut,
ada lengan yang mencoba jadi rumah.
Namun dingin dengan tega membunuh harapan yang bahkan belum terdoakan,
sehingga napas pun terasa begitu asing
Malam menjelma bak kaca nenek yang retak,
memantulkan bayang yang kehilangan arwah.
Suara tangis terselip di sela detik yang senantiasa bergulir,
dan langit-langit menjadi saksi
bagi sunyi yang saling menyaru.
Di dinding ruang tengah,
foto itu masih tergantung miring,
warna-warnanya pelan-pelan pudar.
Sejak separuh cahaya pergi,
setiap pelukan terasa rapuh,
seperti dinding yang menahan hujan mengakibatkannya lusuh
dengan tubuh yang sudah tak utuh.
Dan untuk merdunya suara Ayah dulu,
Aku hanya ingin menitip rindu.
Bila Tuhan sudi memberi waktu, biarlah kita tidak usah saling bertemu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!