Resensi

Petualangan, Mitos, dan Misteri dalam Novel Mata dan Manusia Laut

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 24 Agustus 2026 20:05 WIB • 👁 365 Pembaca
Petualangan, Mitos, dan Misteri dalam Novel Mata dan Manusia Laut
ilustrasi: cover buku novel Mata dan Manusia Laut

Dunia sastra anak di Indonesia kerap kali terjebak dalam pemberian moral yang kaku, di mana pesan-pesan baik dan buruk dijejalkan secara eksplisit oleh karakter orang dewasa yang serba tahu. Di tengah kegelisahan akan minimnya teks bacaan anak yang berbobot dan natural, Okky Madasari hadir membawa angin segar lewat novel Mata dan Manusia Laut.

Sebagai buku ketiga dari tetralogi Mata, novel 232 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama (2019) ini menyuguhkan petualangan anak dengan sentuhan magical realism yang sangat kuat. Kali ini, Okky tidak sekadar menyajikan dongeng pengantar tidur yang manis, melainkan sebuah refleksi mendalam yang mempertemukan realitas sosial, sains, mitos, hingga kondisi ekologi dalam balutan petualangan bawah laut yang mendebarkan.

Petualangan di mulai ketika seorang anak perempuan urban asal Jakarta bernama Matara, bersama ibunya, berlayar ke Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kedatangan mereka dipicu oleh kabar media internasional mengenai kehebatan suku Bajo yang mampu menyelam hingga kedalaman puluhan meter tanpa alat bantu pernapasan.

Di Kampung Sama, sebuah perkampungan apung yang rumah-rumahnya berdiri di atas tiang kayu tinggi di tengah lautan, Matara bertemu dengan Bambulo, seorang anak lokal suku Bajo yang dijuluki manusia ikan karena kelincahannya mengarungi laut. Hubungan emosional antara anak kota yang mereka sebut manusia darat dan anak laut ini menjadi motor penggerak cerita.

Konflik utama pecah ketika Bambulo, didorong keinginan membuktikan eksistensinya kepada Matara, nekat mengajak gadis cilik itu mendayung sampan menuju atol (hamparan batu karang) untuk berburu ikan. Kecerobohan terjadi karena mereka melaut tepat saat bulan purnama, sebuah waktu yang sangat ditabukan dalam hukum adat suku Bajo.

Penggambaran mengenai fenomena alam dan kearifan lokal suku Bajo menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam novel ini. Aturan adat mengenai larangan mengambil ikan di atol saat bulan terang benderang digambarkan bukan sekadar mitos tak berdasar, melainkan sebuah kearifan lokal yang berjalan beriringan dengan pengetahuan modern. Melalui sudut pandang Matara, pembaca diajak memahami bahwa pantangan melaut saat purnama sesungguhnya adalah cara alamiah masyarakat Bajo menjaga siklus ekosistem, karena saat bulan terang, ikan-ikan sedang bertelur demi keberlanjutan generasi mereka berikutnya.

Ketika Bambulo mengabaikan peringatan tersebut, pengarang memperlihatkan bagaimana laut yang semula bersahabat seketika mengamuk. Pengarang secara visual menggambarkan fenomena alam yang mencekam: gravitasi bulan purnama memicu gelombang tinggi, gempa bumi berulang kali mengguncang, hingga puncaknya bencana tsunami dahsyat menerjang dan meluluhlantakkan Kampung Sama hingga Kaledupa.

Di tengah amukan tsunami tersebut, cerita melompat ke dalam dimensi magis yang luar biasa ketika Matara dan Bambulo terseret, lalu tenggelam ke dasar samudera yang paling dalam. Di sinilah pembaca dibawa menuju wilayah mistis yang menyerupai Segitiga Bermuda versi Indonesia, yakni Masalembo. Bagian yang paling menggetarkan dari narasi ini adalah pertemuan kedua bocah tersebut dengan para penghuni dimensi bawah laut, termasuk Sam yang menyelamatkan mereka, serta jiwa-jiwa manusia yang hilang akibat kecelakaan kapal atau pesawat dari ratusan tahun lalu. Pengarang menceritakan orang-orang yang terjebak di Masalembo ini seolah-olah mereka masih hidup, membangun peradaban, dan beraktivitas normal di dasar laut.

Namun, jika ditelaah dari perspektif yang lebih dalam sekaligus tragis, mereka sejatinya hanyalah jiwa-jiwa terasing yang terjebak di sana. Mereka terperangkap dalam keabadian yang sunyi karena jalan untuk kembali ke dunia nyata telah tertutup, sementara orang-orang di luar sana menganggap mereka telah mati dan hilang ditelan sejarah. Narasi ini memberikan kesan multidimensi yang magis, sekaligus menjadi penghormatan bagi korban-korban keganasan Masalembo yang tak pernah ditemukan.

Kelebihan utama dari Mata dan Manusia Laut terletak pada keberhasilan Okky Madasari dalam mengemas isu-isu ekologi dan kritik sosial yang berat ke dalam bahasa yang ramah bagi pembaca muda. Pengarang dengan berani menyisipkan sentilan tajam mengenai ketimpangan sumber daya listrik yang tidak merata di luar Pulau Jawa, serta ancaman nyata dari oknum-oknum modern yang memperdagangkan bom ikan dan racun yang merusak terumbu karang. Selain itu, adanya kepercayaan lingkungan yang mengajarkan pentingnya amanah, pengakuan dosa, hingga pertaubatan, menjadi poin edukasi karakter yang sangat natural tanpa terkesan menggurui. Kehadiran ilustrasi memukau di sepanjang buku juga menjadi nilai tambah yang efektif merangsang imajinasi pembaca.

Namun, di balik keindahan dan kedalamannya, novel ini memiliki sedikit kekurangan yang dirasakan oleh pembaca dewasa. Ekspektasi awal pembaca yang mengharapkan porsi eksplorasi lebih banyak mengenai antropologi budaya, interaksi sosial, serta detail keseharian masyarakat Bajo di atas rumah panggung mereka, terasa agak terpotong.

Cerita justru melompat terlalu cepat dan menghabiskan sebagian besar porsi halaman pada petualangan fantasi di bawah laut bersama para dewa laut dan makhluk mitos. Transisi dari realitas Kepulauan Wakatobi menuju dunia magis Masalembo terasa sangat kontras, sehingga melahirkan akhir cerita yang memicu skeptisisme, seperti yang digambarkan lewat karakter para dokter yang menganggap kisah penyelamatan bawah laut kedua bocah tersebut hanyalah halusinasi akibat tenggelam. Meski demikian, kekurangan kecil ini tentu dapat dimaklumi dan justru menjadi daya tarik fantasi yang kuat jika buku ini dibaca oleh target utamanya, yaitu anak-anak dan remaja.

Secara keseluruhan, Mata dan Manusia Laut adalah sebuah bacaan sastra anak yang sangat berbobot dan kaya akan ilmu pengetahuan. Melalui jalinan cerita yang apik, novel ini berhasil menyeimbangkan fungsi sastra sebagai media hiburan sekaligus alarm ekologis yang mengasah cara berpikir kritis (critical thinking) generasi muda. Buku ini mengajarkan bahwa keberanian dan rasa ingin tahu harus selalu berjalan beriringan dengan kewaspadaan serta kepatuhan terhadap hukum alam. Sebuah karya yang sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh anak-anak dengan dampingan orang tua, agar pesan moral dan keindahan kearifan lokal yang tersimpan di dalamnya dapat dipahami secara utuh.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Nurauffa Febrianti
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.