Feature

Ketika Perfeksionisme Hampir Membuat Sahal Berhenti Berkarya

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 9 Oktober 2026 10:18 WIB • 👁 229 Pembaca
Ketika Perfeksionisme Hampir Membuat Sahal Berhenti Berkarya
Sahal, siswa 11 tahun asal Payakumbuh yang sedang membuat sebuah karya seni Kriya Kramik pada kegiatan Workshop Kriya Kramik yang di selenggarakan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, di zona A lantai 4 Gedung Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (06/10/2026)

Bagi Muhammad Sahal Affan, seni pernah menjadi sumber tekanan ketika keinginannya untuk menghasilkan karya yang sempurna tidak terpenuhi. Namun, sebuah kompetisi membuatnya kembali percaya diri. Kini, siswa kelas 11 itu mulai melihat seni bukan sekadar hobi, melainkan kemungkinan jalan hidup.

Kedua tangan siswa yang kerap di sebut Sahal sibuk mengolah tanah liat di atas meja. Di hadapannya, material yang sejak kecil hanya dikenalnya sebagai bahan untuk bermain kini menjadi sesuatu yang sedang ia pelajari melalui Workshop Kriya.

Sahal, siswa kelas 11 Insan Cendikia Boarding School (ICBS) Harau, tengah mengikuti Workshop Kriya yang di selenggarakan UPTD Taman Budaya di Zona A lantai 4 Gedung Taman Budaya Sumatera Barat. Ia datang dengan pengalaman yang cukup panjang di bidang seni, terutama menggambar. Namun, berhadapan dengan tanah liat dan keramik membuatnya kembali berada pada posisi sebagai seorang pembelajar.

Ia bahkan baru mengetahui bahwa keramik yang selama ini ia kenal sebagai material lantai berasal dari tanah liat dan melalui proses pembakaran. Pengetahuan itu baru ia dapatkan setelah mengikuti workshop.

p
Sahal memperlihatkan karya Kriya Kramiknya yang ia buat dari tanah liat. Ia mengatakan karya ini dibuatnya dengan bentuk pot bunga dan sebuah karya yang ia gambarkan seperti sebuah tokoh di dalam gim. Karya ini ia buat dengan teknik pijit dan pilin yang ia pelajari pada Workshop Kriya UPTD Taman Budaya Sumbar. F/Zhiro.

Bagi Sahal, pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi seni memang bukan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ia telah mengenal seni sejak taman kanak-kanak melalui orang tuanya. Menggambar mulai menjadi kegiatan yang lebih serius ketika ia duduk di kelas 3 SD. Sebelum akhirnya fokus pada gambar, ia sempat bermain dengan berbagai material. Tanah liat digunakan sekadar untuk bermain, sementara kayu mulai ia eksplorasi ketika duduk di kelas 1 dan 2 SMP. Memasuki kelas 3 SMP, perhatiannya semakin terarah pada gambar.

Ibunya turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Sang ibu memiliki ketertarikan pada seni dan pernah menekuni tari ketika masih muda. Dukungan orang tua kemudian menjadi salah satu alasan Sahal terus mempertahankan ketertarikannya pada seni. Namun, semakin ia mencintai seni, semakin tinggi pula standar yang ia berikan kepada dirinya sendiri.

Ketika Karya Tidak Sesuai Bayangan

Sahal mengaku dirinya seorang yang perfeksionis ketika menggambar. Ia ingin apa yang berada di kepalanya dapat dituangkan ke atas kertas dengan hasil yang semirip mungkin.

"Karena kan aku perfeksionis ya. Sering gak mirip. Jadi akunya yang stres." ungkapnya kepada Ganto (06/10/2026).

Keinginan untuk menghasilkan karya yang sesuai dengan bayangannya sebenarnya menjadi tantangan tersendiri bagi Sahal. Ada kepuasan ketika ia berhasil mendekati apa yang ia inginkan. Tetapi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, tantangan itu berubah menjadi tekanan.

"Ekspektasi yang berlebih yang bikin malas. Sudah berulang kali buat, hasilnya jelek lagi, malas lagi lanjutin." ungkapnya sambil tertawa.

Sebelum menyelesaikan kelas sembilan, Sahal bahkan sempat berhenti menggambar. Saat itu ia sudah menerima pesanan gambar dan menjual hasil karyanya. Namun, keinginan untuk mendapatkan hasil yang sempurna membuat proses menggambar justru melelahkan.

"Kadang ga sesuai ekspektasi, trus ulang lagi. Ketika diulang masih sama aja. Ditinggal aja lagi sampai berhari-hari ga dilanjutkan lagi," pungkasnya.

Hingga, seni yang sebelumnya menjadi kesenangan menurutnya, perlahan berubah menjadi beban.

Kembali Melalui Sebuah Kompetisi

Suatu ketika, Sahal kemudian menemukan kembali jalannya melalui kompetisi seni. Dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kota dan ia mengikuti perlombaan dengan peralatan yang menurutnya sederhana. Kala itu, ia melihat peserta lain menggunakan perlengkapan yang lebih lengkap dan mengerjakan karya dengan usaha yang besar. Salah satu peserta bahkan menggunakan gerinda dan membuat karya kayu dengan detail yang membuat Sahal merasa kurang percaya diri.

"Ada satu peserta, karena terlalu effort sampai badannya di penuhi serbuk kayu. Disitu saya cukup insecure melihatnya," pungkas sahal malu.

Sahal sendiri hanya mengandalkan beberapa peralatan seperti palu, gergaji, dan bor. Ia tidak terlalu yakin dengan hasilnya. Namun, justru dari kompetisi itulah sesuatu berubah.

Juri kemudian menanyakan apakah karya Sahal bersedia dibawa ke tahap berikutnya. Pengalaman tersebut menjadi titik balik setelah sebelumnya ia sempat meninggalkan kegiatan menggambar.

"Sampai akhirnya baru ikut FLS3N kemarin, nah baru tekun lagi. Mulai gambar lagi dan buat karya lagi." Ujarnya.

Prestasi tersebut juga membuat pandangannya terhadap dirinya sendiri berubah. Dari pengalaman mengikuti berbagai kegiatan seni di sekolah yang sebelumnya hanya sebatas lingkungan kelas, ia akhirnya melihat karyanya mendapatkan pengakuan di tingkat yang lebih luas.

Salah satu karya yang paling membuatnya bangga adalah Infinity Table Mirror. Karya tersebut menjadi salah satu titik yang membuat Sahal merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

"Saya membuat sebuah karya seni dengan nama Infinity Table Mirror. Karya ini yang merupakan karya paling berkesan saya yang di tampilkan di Universitas Negeri Padang," pungkasnya bangga.

Seni di Tengah Padatnya Kehidupan Pesantren

Sahal tidak menjalani kehidupan seperti siswa yang memiliki banyak waktu luang untuk berkarya. Sebagai siswa yang tinggal di lingkungan pesantren, aktivitas sekolah dan kegiatan lainnya membuat waktunya terbatas. Namun, keterbatasan waktu tidak membuatnya meninggalkan gambar.

Ia memanfaatkan waktu sore dan malam untuk berkarya. Ketika ada waktu kosong di sekolah, ia juga dapat menggunakannya untuk melanjutkan gambar. Bahkan ketika pelajaran selesai lebih cepat, waktu yang tersisa terkadang dimanfaatkan untuk menggambar. Ada dorongan sederhana di balik kebiasaan tersebut, ia ingin menyelesaikan satu karya agar dapat segera membuat karya berikutnya.

"Ketika pengen gambar, kan pengen cepat selesai biar bisa gambar yang lain. Kadang kalau ada tugas mencatat selesaikan cepat-cepat, waktu yang bersisa saya gunakan untuk menggambar," ungkapnya lirih.

Bagi Sahal, berkarya bukan hanya persoalan mengisi waktu kosong. Ada sesuatu yang ingin ia tuangkan melalui gambar.

Seni Sebagai Cara Berbicara

Sahal tidak selalu menggunakan seni untuk membuat sesuatu yang sekadar terlihat bagus. Kadang, ide datang dari sesuatu yang ia dengar atau baca. Ia pernah membuat gambaran tentang masa depan setelah membaca novel dan mendengarkan lagu. Dari sana, imajinasinya berkembang menjadi gambaran tentang laki-laki, perempuan, anak-anak, dan sebuah keluarga yang sedang berada di taman.

Bagi Sahal, karya menjadi ruang untuk menuangkan sesuatu yang ada dalam pikirannya.

"Pokoknya jadi ekspresi, ungkapan. Bisa itu melalui seni yang Sal buat," ungkap sahal dengan wajah yang tersipu malu.

Seni, dengan demikian, bukan hanya soal teknik. Ia menjadi cara Sahal menerjemahkan imajinasi dan perasaannya ke dalam bentuk yang dapat dilihat orang lain. Karena itu pula, ada dua pihak yang ingin ia yakinkan melalui karya-karyanya, yaitu orang tua dan dirinya sendiri.

"Pengen buktiin ke orang tua sih. Terus ke diri sendiri. Bahwa ini loh jalannya," ujarnya.

Kepada dirinya sendiri, ia ingin menunjukkan bahwa bidang yang selama ini ia tekuni mungkin memang merupakan jalannya.

"Kalau membuktikan ke diri sendiri tuh kayak, yuk lebih semangat lagi. Di sini nih jalannya." Kata Sahal dengan semangat.

Ketika Hobi Mulai Dibayangkan Sebagai Pekerjaan

Pengalaman mengikuti kompetisi dan mendapatkan apresiasi perlahan mengubah cara Sahal melihat masa depannya. Jika sebelumnya seni menjadi sesuatu yang ia lakukan karena suka, kini ia mulai membayangkannya sebagai pekerjaan.

"Setelah ikut workshop ini, kayaknya lebih ingin membuat karya seni sebagai pekerjaan," katanya.

Ia mengetahui dari orang-orang yang ditemuinya dalam lingkungan seni terutama peserta-peserta workshop kriya yang sudah berpengalaman di bidang seni, bahwa kemampuan menggambar dapat menghasilkan pendapatan. Gagasan bahwa sesuatu yang disukai bisa sekaligus menghasilkan uang membuatnya semakin tertarik.

"Hobi digaji tuh kayak wow. Ngerjain sesuatu yang bukan ya have fun, tapi have fun-nya dibayar, siapa yang tidak mau?," tanyanya dengan semangat.

Sahal masih membuka kemungkinan memiliki pekerjaan lain. Namun, ia ingin seni tetap menjadi bagian dari kehidupannya, setidaknya sebagai pekerjaan sampingan atau freelance.

Di usia kelas 11, keputusan tentang masa depan tentu belum sepenuhnya selesai. Tetapi satu hal mulai terlihat, Sahal tidak lagi memandang seni sebagai kegiatan yang sekadar dilakukan ketika memiliki waktu luang.

Ada kemungkinan bahwa sesuatu yang dahulu hampir ia tinggalkan justru akan menjadi bagian dari masa depannya.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Tuzhiro Buramad Arpa
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.