Cerpen

Botol-Botol Kaca

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 15 Juli 2011 13:45 WIB • 👁 4.513 Pembaca

Botol-botol kaca itu mulai bermunculan setelah sekian detik tenggelam dalam gelombang air laut. Gelombang-gelombang yang datang silih berganti membuat botol-botol tersebut bergerak menjauhi pantai. Sesekali tenggelam dan muncul kembali ke permukaan, seolah-olah enggan meninggalkan gadis kecil yang telah melemparkan mereka ke dalam gelombang air laut.

Dari kejauhan, kuperhatikan dia, si gadis kecil yang hampir tiap hari membuang botol-botol kaca ke dalam laut itu. Aku tak tahu mengapa dia selalu melakukannya. Setiap hari, menjelang matahari terbenam, dia pasti datang melemparkan beberapa buah botol kaca, kemudian meneriakkan sesuatu yang tak dapat kudengar dengan jelas. Terkadang, aku ingin menanyakan langsung kepadanya. Hanya saja, aku takut. Aku khawatir dia akan merasa terusik oleh orang asing seperti aku.

"Ma, apa Mama tahu, siapa gadis kecil yang hampir tiap sore melempar botol-botol kaca ke laut itu?" tanyaku suatu ketika pada mama.

"Gadis kecil? Gadis kecil yang mana?"

"Itu, Ma, gadis yang selalu memakai gaun dan membawa beberapa botol kaca."

"Perasaan, Mama tidak pernah melihat gadis itu. Yang selalu Mama lihat, orang-orang di pantai ini banyak atau tidak. Kalau banyak, berarti rejeki kita juga bisa banyak. Benar tidak?"

Aku tersenyum kecil. Tapi dalam hati, aku sedih mendengar ucapan terakhir mama. Kalau saja ayahku tidak meninggalkan kami, mungkin mama tidak perlu bekerja keras seperti ini dan aku tidak akan ditertawakan orang sebagai anak haram. Aku tahu, laki-laki yang tidak bertanggungjawab itu masih hidup sampai sekarang. Tapi, aku bersumpah. Aku tidak akan pernah menganggap dia sebagai ayah. Biarlah kakak-kakakku saja yang memanggil dia dengan sebutan itu, tidak dengan diriku.

Kubuang jauh-jauh pikiran tentang sosok laki-laki yang paling kubenci dan mungkin akan selamanya kubenci itu. Aku kembali memikirkan gadis kecil yang telah membuatku sangat penasaran. Keesokan harinya setelah selesai menjemput uang di kios-kios tempat mama biasa menitipkan kue, aku sempatkan pergi ke pantai agar bisa bertemu dengan si gadis kecil misterius tersebut.

Sore beranjak senja. Matahari mulai tenggelam di garis batas cakrawala. Langit pun mulai berubah menjadi oranye keemasan. Ini tandanya, sebentar lagi gelap akan menyelubungi seluruh pantai dan hari akan berubah menjadi malam. Namun, gadis kecil yang kutunggu-tunggu belum juga menampakkan diri.

"Jangan-jangan, hari ini dia tidak kemari. Padahal, aku ingin sekali melihat dia dari dekat." ucapku dalam hati.

Melihat hari yang semakin senja, kupikir gadis kecil itu tidak mungkin datang ke pantai lagi. Dengan penuh rasa kecewa, kulangkahkan kakiku menuju ke rumah yang jaraknya hanya sekitar beberapa ratus meter saja dari tempatku berdiri sekarang.

Belum beberapa kali kulangkahkan kakiku, tiba-tiba kulihat gadis kecil itu berlari-lari sambil membawa botol-botol kaca. Melihat kedatangannya, niat untuk pulang ke rumah segera kuurungkan. Pelan-pelan aku berjalan ke arahnya, sambil berpura-pura duduk di sekitar tempat dia berdiri.

Satu botol kaca, telah dilemparkannya ke dalam gelombang laut yang sedang menggunung. Seperti biasa, botol itu muncul dan tenggelam kemudian hanyut dalam arus. Sebelum dia melempar botol yang kedua, tiba-tiba dia menoleh kepadaku.

"Mengapa dari tadi Kakak memperhatikan aku?" tanya si gadis kecil.

"Kakak senang melihat kamu melempar botol-botol itu." jawabku sambil tersenyum.

Dia berjalan ke arahku dengan perlahan. Aku heran. Apakah gerangan gadis kecil ini mendekatiku?

"Nama Kakak siapa? Aku Ain. " ucapnya sambil mengulurkan tangan.

"Melan…" jawabku sembari menjabat tangannya.

Kami berdua berkenalan dan saling bercerita tentang diri kami masing-masing. Ain menceritakan tentang kehidupannya padaku. Dia mengatakan bahwa ayahnya adalah pelaut yang bekerja sebagai koki di sebuah kapal penumpang yang sangat besar. Sekali waktu, Ain dan ibunya pernah diajak untuk menemani sang ayah di kapal tersebut. Berkeliling Indonesia sambil menikmati pemandangan laut lepas yang indah. Tapi sayang, kenangan-kenangan indah bersama sang ayah tidak akan mungkin terulang lagi. Ain mengatakan ayahnya sudah lama tidak pulang dan tidak memberi kabar. Itulah sebabnya, mengapa Ain membuang botol-botol kaca ke laut hampir setiap hari. Dia pikir dengan begitu, ayahnya akan kembali.

Langit semakin gelap, setelah Ain melemparkan botol keduanya, kusarankan agar dia segera pulang ke rumah. Aku khawatir, nanti ibunya cemas mencari-cari gadis polos itu. Setelah pamit, dia segera berlari. Namun, aku merasakan sedikit keanehan. Arah yang ditujunya, berlawanan dengan arah sewaktu dia datang. Tapi, aku yakin, dia pasti sudah tahu jalan pulang. Aku tetap berdiri di tempatku. Kuperhatikan dia terus menerus, hingga sosok tubuh mungilnya hilang di antara kerumunan para wisatawan yang ingin menikmati detik-detik berakhirnya sunset pada hari ini.

Hari ini adalah hari hari ketiga kami bertemu. Aku menunggu Ain di tempat biasa. Menjelang matahari terbenam, barulah Ain muncul. Dia membawa tiga botol kaca. Tapi, hanya satu botol kaca saja yang berisi gulungan kertas, sedangkan dua botol lain masih kosong.

"Ain, mengapa dua botol ini tidak ada gulungan kertasnya?" tanyaku heran.

"Ain sengaja mengosongkan dua botol itu untuk Kakak."

"Maaf ya Ain, Kakak tidak membutuhkan ini. Lebih baik, Ain yang pakai."

Gadis kecil itu terdiam. Dia menatapku dengan sejuta tanda tanya di wajahnya. Aku mengerti, dia pasti mengira aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Tetapi, situasi dan latar belakang yang aku dan dia alami sangat berbeda. Lagipula, aku tak pernah mau bertemu dengan ayahku.

"Kak, bukannya kita punya nasib yang sama? Kakak bilang, ayah Kakak tidak pernah kembali lagi. Apa, Kakak tidak rindu pada ayah Kakak?" katanya kemudian.

Aku tersenyum kecut. Kugelengkan kepalaku beberapa kali. Mungkin, Ain tidak mengerti dengan perasaanku, tapi dia bisa memahami isyarat yang kuberikan. Dia hanya diam. Berbalik arah dan melemparkan botol kaca yang berisi gulungan kertas ke laut.

"Kak, Ain harus pulang. Kakak simpan saja botol-botol ini. Permisi Kak, Ain pulang dulu." ucapnya sambil bergegas meninggalkanku sendiri.

Aneh. Mengapa hari ini Ain tergesa-gesa ingin pulang? Padahal biasanya dia baru pulang setelah matahari tenggelam. Entahlah. Kubawa saja dua botol kaca milik Ain itu. Setibanya di rumah, kuceritakan tentang Ain kepada mama dan kedua kakakku. Sungguh mengherankan. Kedua kakakku dan mama mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat aku berbicara dengan Ain, bahkan mereka pun tidak melihat aku berada di pinggiran pantai yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari rumah. Kalau memang demikian, lantas dari tadi aku berada di mana?

Sore ini angin bertiup sepoi-sepoi. Air laut tampak bewarna biru kehijau-hijauan. Langit kelihatan cerah dengan warna biru terang dihiasi awan putih yang indah. Kulihat Kak Mia asyik menyulam di bawah pohon ara sambil menikmati sejuknya belaian angin laut.

"Kak, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanyaku pada Kak Mia yang sedang asyik menyulam itu.

"Boleh, kamu mau tanya apa, Mel?"

"Sebenarnya, papa ke mana sih , Kak? Mengapa kakak dan mama tidak pernah memberitahukan kepadaku soal keberadaan papa?"

Kak Mia menghela napas panjang. Kemudian melepaskannya dengan cepat.

"Melan, sebelumnya Kakak mau tanya. Apakah Melan masih membenci Papa?"

"Tentu saja, Kak! Bagaimana Melan tidak membencinya? Dia sudah membuat Melan digelari anak haram oleh teman-teman." kataku emosi.

"Mungkin, sekarang waktunya, Melan. Kakak harus menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada kamu. Apalagi Kakak rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya menimpa keluarga kita."

Kak Mia mencoba berbicara dengan tenang. Sepertinya ini adalah hal yang sangat berat diungkapkan, sehingga Kak Mia harus berhenti sejenak. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.

"Memangnya apa yang sudah terjadi, Kak?" tanyaku memecah keheningan.

Kak Mia berdiri dengan perlahan, dia masuk ke rumah beberapa saat, kemudian keluar dengan membawa sepucuk surat. Diserahkannya surat itu padaku. Tak terasa air mata berlinang membasahi kedua pipi. Aku menangis. Penyesalan yang teramat dalam membuat dadaku sesak. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku benar-benar menyesal telah membenci ayahku.

"Kak, kalau memang ini kenyataannya, mengapa kalian semua tidak pernah memberitahukan hal ini kepadaku? Mengapa kalian membiarkan aku membenci papa?"

"Melan, Kakak terpaksa melakukan ini. Kakak tidak punya pilihan. Mama saja juga tidak mengetahui ini, Melan. Maafkan Kakak."

"Aku tidak terpacaya, Kak! Mana ada seorang istri yang tidak tahu kalau suaminya sudah meninggal?"

"Memang tidak ada, Melan. Tapi, Kakak melakukan ini semua karena terpaksa!" katanya sambil menangis.

Kak Mia menceritakan semua yang telah terjadi. Mendengar cerita Kak Mia, aku menjadi histeris. Aku segera berlari ke kamarku. Kuambil botol-botol kaca yang pernah Ain berikan. Kumasukkan dua botol itu ke dalam tas, kemudian aku berlari sekencang-kencangnya. Aku terus berlari menyusuri pinggiran pantai.

"Pa, maafkan Melan yang selama ini sudah menuduh Papa yang bukan-bukan. Melan anak durhaka, Pa! Seharusnya Melan bangga, punya orangtua seperti Papa." kataku sambil menulisi kertas dan kemudian memasukkannya ke botol-botol kaca itu.

Anak apa aku ini? Ayahku meninggal dalam sebuah misi kemanusiaan, tapi bukannya mendoakan, aku malah membeci ayahku sendiri. Anak apa aku ini, yang selalu berprasangka buruk, tanpa mencoba mencari tahu kebenaran terlebih dahulu?

Kak Mia benar, dia tidak mungkin menceritakan kepada mama kalau papa sudah meninggal saat itu. Penyakit jantung mama bisa kambuh. Lagipula saat itu mama sedang mengandung diriku. Bisa-bisa terjadi hal yang buruk pada mama dan padaku. Lagipula, ayahku meninggal di tengah laut. Kapal yang ditumpanginya karam dan jenazahnya pun tidak bisa ditemukan. Kalau mama tahu hal ini, mama pasti akan sangat terpukul. Tapi, biarlah. Mungkin ini yang terbaik untuk keluargaku.

Matahari telah kembali ke peraduannya. Tinggallah mega-mega oranye yang menghiasi langit. Kulemparkan botol-botol kaca yang berisi gulungan kertas yang kutulisi tadi. Berharap, ayahku akan menemukan botol-botol itu dan membaca pesanku. Meskipun aku tahu, ini hanya tindakan bodoh belaka, tapi aku percaya, botol-botol ini akan menyampaikan pesan rinduku pada ayah.

Kupandangi botol-botol kaca yang muncul dan tenggelam di permukaan laut itu. Sedikit demi sedikit, di bawa gelombang menjauhi bibir pantai. Tiba-tiba aku melihat sesosok gadis kecil di atas sebuah perahu yang sangat berkilauan. Gadis kecil itu mengambil botol-botol kacaku. Kemudian perahunya perlahan-lahan melaju meninggalkan pantai. Aku segera berlari mendekati perahu itu, hingga kakiku mulai basah terendam air. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata gadis kecil itu adalah Ain.

"Ain! Ain! Tunggu Kakak!" teriakku.

Ain tidak berkata sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum, sambil melambaikan tangannya. Semakin lama, perahu Ain semakin menjauh, hingga mengilang di garis batas cakrawala yang seolah-olah memisahkan langit dengan lautan.

"Melan! Bangun! Bangun, Melan! Papa sudah pulang!" kata Kak Mia sambil menguncang-guncangkan tubuhku.

Aku terperanjat. Terkejut setengah mati. Antara sadar dan tidak, antara percaya dan tidak percaya, aku mengusap-usap mataku. Kak Mia segera menarik tanganku ke ruang tamu. Di sana kulihat sesosok tubuh tinggi dan kurus dengan badan yang loyo dan tak berdaya sedang duduk di kursi.

"Melan? Sini, Nak?" kata lelaki itu sambil mengembangkan kedua tangannya.

Rasa heran bercampur haru, senang dan gembira. Aku tak tahu lagi harus bicara apa. Atau, jangan-jangan ini hanya mimpi? Kucoba beberapa kali mencubit tanganku dan ternyata aku merasa kesakitan. Berarti ini bukanlah mimpi. Ini benar-benar nyata. Ayahku telah kembali. Apa yang kutulis di ketas itu benar-benar terjadi. Terimaksih Tuhan.

Segera kupeluk ayahku. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hati, ternyata Tuhan masih mengijinkan aku bertemu dengan ayahku.

"Melan, bagaimana keadaan kepalamu, Nak. Apa masih sering sakit?" Tanya papa tiba-tiba.

Sakit? Perasaan selama ini aku tidak pernah mengidap sakit kepala. Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk menjawab pertanyaan beliau.

"Syukurlah. Papa minta maaf ya. Papa tidak bisa menjaga dan merawat kamu selama kamu di rumah sakit. Waktu itu Papa masih di Thailand, dan belum boleh kembali ke Indonesia karena Papa masih harus mengantarkan barang-barang ke negara lain."

"Rumah sakit? Apa-apaan ini? Mengapa semuanya menjadi sangat aneh bagiku." bisikku dalam hati.

"Sudahlah, Pa. Sepertinya Melan belum bisa mengingat semua dengan baik. Lihat, dia keheranan karena Papa bertanya terus. Lagipula, dokter bilang dia hanya amnesia ringan. Sekarang sebaiknya Papa istirahat saja." kata Mama sambil mengusap-usap kepalaku.

"Ini oleh-oleh untuk Melan. Papa membeli ini dari seorang anak kecil di Thailand. Papa kasihan melihat dia. Kecil-kecil begitu, disuruh jualan sama orangtuanya di pelabuhan. Tapi, baguskan?" kata Papa sambil memperlihatkan sebuah botol kaca dengan sedikit hiasan.

Aku tak habis pikir, mengapa botol ini mirip sekali dengan botol yang Ain berikan padaku. Dengan sejuta tanda tanya di dalam hati, kuterima oleh-oleh dari ayah yang kurindukan itu.

Kritik Cerpen

Oleh: M. Isa Gautama, M. Si,

Ketaksempurnaan Peta Enigmatik Hendrika

Semua bermula dari fakta. Setiap hari kita bertemu dan mengalami secara langsung segenap peristiwa, mulai dari yang fenomenal hingga yang klise. Hidup hakekatnya menjalani sebuah skenario nyata yang hanya manusia bisa merekamnya, mengingat, kalau perlu mengulang dan memperbaikinya. Tidak ada yang mampu lari dari fakta.

Fiksi apa pun, selalu berangkat dari fakta. Bedanya dengan berita yang kita baca dan tonton setiap hari adalah bahwa dalam sastra fakta diolah menjadi cerita. Sementara dalam jurnalistik fakta diolah menjadi berita. Beda tipis antara berita dan cerita adalah diskusi menarik yang tiada habis-habisnya. Sebagai contoh, hampir dalam setiap kata pengantarnya, dewan juri seleksi cerpen pilihan Kompas setiap tahunnya tak pernah beranjak dari pokok persoalan mengenai hal ini.

Cuma, fakta dalam sastra mendapatkan manipulasi sekaligus naturalisasi tertentu dari pengarangnya. Cerita (super) klise mengenai kasih tak sampai, sebagai misal, dalam sastra menjadi beranak-pinak dan mewujud ke dalam ribuan versi. Mulai dari Romeo-Juliet, hingga Galih dan Ratna. Kita pun bisa mengarang sebuah cerpen berjudul Jawinar dan Saripudin, sebagai misal berikutnya.

Keleluasaan yang "tanpa batas" dari diri pengarang, termasuk pengarang cerpen, kadangkala menjurus kepada semacam "kesewenangan"-nya dalam merangkai, membentuk, bahkan merekayasa sebuah fakta menjadi sebuah cerita versi dirinya. Padahal, cerita yang akhirnya menjadi sebuah cerpen, akan banyak menawarkan beragam tanggung jawab selain beragam masukan berharga kepada pembaca.

Selain misi dan pesan di dalamnya, sesungguhnya sebuah cerpen punya amanah untuk tidak "menyesatkan" pembacanya. Cerpen yang menyesatkan ibarat peta yang tidak jelas warna penunjuk ketinggian sebuah wilayah, batas, dan bahkan jalan dan penujuk kota dan pelosok. Di sinilah persoalan laten yang kerap muncul manakala cerpen sudah tersaji ke hadapan konsumennya. Kalau ini terjadi, maka bangunan komunikasi antara pengarang, cerpen, dan pembaca akan semakin membingungkan dan miskomunikasi tak terhindarkan.

Cerpen Hendrika Eka Farida menyiratkan sebuah peta yang tak selesai dan cenderung menyesatkan. Di awal hingga dua pertiga menjelang akhir cerpen ini mampu menjaga irama plot agar selalu berada dalam logika fiksi yang konsisten. Tiba-tiba, di sepertiga bagian akhir logika yang stabil itu justru dimentahkan dan dibelokkan bagai pada sebuah tikungan yang mencelakakan. Pembaca tidak diberi kode yang cukup meyakinkan, harus kepada pilihan yang bagaimanakah realitas Papanya Melan hendak ditentukan? Apakah kita harus menerima Papa Melan sudah berpulang, atau ternyata masih hidup dengan segenap memori nostalgik dan apologianya terhadap Melan?

Saya menduga, Hendrika mencoba teknik enigmatik dalam menyelesaikan konflik di akhir cerita. Teknik ini, sesuai namanya, selalu menghadirkan teka-teki yang membingungkan. Namun, sebuah cerpen bagus mestilah menawarkan teknik enigmatik yang elegan, sehingga fakta apapun yang menjadi modal cerpen tidak tercerabut atau malah terrekayasa secara tidak bertanggungjawab oleh pengarangnya. Cerpen dengan teknik penyelesaian enigmatik biasanya berhasil manakala pembacanya tetap diberi ruang untuk secara cerdas mampu mencerna dan akhirnya menjawab sendiri teka-teki itu secara meyakinkan. Anyway, Teruslah membaca dan berlatih, Hendrika!***

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Hendrika Era Farida
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.