Puisi

Sajak Ganto Edisi 162

📅 Jumat, 15 Juli 2011 14:30 WIB • 👁 1.784 Pembaca

Kisah yang Terpinggirkan

Kayu tua

Dikerubung anai-anai pemerkosa

Lebur sudah

Buang jauh-jauh dengung itu

Hempaskan ke pulau terujung dari segala ujung-ujung cakrawala

Gerigi menikam, menembus, membuat serpihan

Tertabur sudah

Di hamparan bumi yang meronta

Terinjak alas kaki yang tak pernah lupa disemir

Binasa sudah

Hanya tertinggal tetesan embun asin di rerumputan yang kuinjak pagi ini

Memanggil kisah yang memuai bersama kisah-kisah lainnya

Santi Syafiana; Mahasiswa Pendidikan Kimia TM 2007

Seruanku

Amanatmu!

Fatamorgana yang tergenggam

Dulu dan tempoe doeloe

Haluan temaram meraba suasana kelam

Alih punya alih, alihkan

Hangtuah berkata!

Engkau akan sampai di pelataran dermaga

Deburan ombak mengalunkan melodi

Ratapan angin menghujat perjalanan

Akankah traktat itu berkisah manis

Yang depan harus di depan

Akankah saimbara itu termenangkan

Namun seruan kalbu menyerukan

Angan yang terwujud, senantiasa terwujud

Cici Nur Azizah; Mahasiswa Prodi PKN TM 2010

Tuhanku Menangis

Nguing... Nguing...Nguing...

Tak lagi kudengar lengkingan itu

Samar...

Lengang...

Alif Ba Ta menghilang

Sarung para Bapak dikerubungi rayap

Jalanan berduri

Tuhanku menangis

Bulan bintang terbang ke singgasananya

Elvia Mawarni; Mahasiswa FMIPA UNP TM 2009

Kritik Puisi

Bunyi dan Nilai Estetis Puisi

Oleh Zulfadhli

Salah satu unsur yang membangun kepuitisan sebuah puisi adalah aspek bunyi. Bunyi memegang peran yang sangat penting dalam puisi. Kemampuan penyair dalam menyusun dan merekonstruksi bunyi melalui diksi yang ditampilkan, tentu akan memberikan warna estetis tersendiri dalam puisinya. Bunyi di dalam puisi, tidak hanya sekedar memberi nilai keindahan terhadap sebuah puisi, tetapi bunyi juga turut menentukan makna puisi. Bunyi dalam puisi akan memberikan kesan dan efek tersendiri. Begitu pentingnya kedudukan bunyi dalam puisi, maka Roman Ingarden menempatkan bunyi sebagai lapis pertama dalam teori strata norma puisinya yang dikenal dengan lapis bunyi (sound stratum).

Di samping itu, bunyi di dalam puisi juga menyuguhkan dan menciptakan suasana tertentu. Suasana dalam puisi dapat diketahui melalui permainan bunyi yang digunakan oleh penyairnya. Kombinasi dari bunyi-bunyi vokal atau konsonan misalnya, tentu akan menimbulkan suasana tertentu dalam sebuah puisi. Dengan demikian, salah satu sarana kepuitisan yang dapat menimbulkan nilai estetis sebuah puisi adalah bunyi, sehingga ada puisi yang kekuatan dan keindahannya terletak pada kemampuan penyair dalam mendayagunakan bunyi.

Di dalam puisi-puisi yang ditampilkan Ganto edisi kali ini, penyair menyuguhkan permainan bunyi dengan gayanya masing-masing. Puisi Kisah yang Terpinggirkan yang ditulis oleh Santi Syafiana, memperlihatkan bahwa ‘kekuatan’ bunyi dapat menimbulkan kesan dan suasana tertentu dalam puisi. Puisi ini menggambarkan tentang kejadian atau peristiwa masa lalu yang sudah terlupakan. Peristiwa itu seakan-akan Dikerubung anai-anai pemerkosa. Kini, semua mimpi, keinginan, dan harapan telah berakhir, Lebur sudah, Binasa Sudah. Namun, Hanya tertinggal tetesan embun asin di rerumputan yang kuinjak pagi ini. Dari segi bunyi, dalam puisi ini terdapat bunyi aliterasi /m/ pada larik Gerigi menikam, menembus, membuat sepihan. Bunyi aliterasi adalah persamaan atau pengulangan bunyi konsonan dalam satu larik. Dalam larik-larik yang lain juga dijumpai bunyi aliterasi /g/, /h/, /r/, /k/, /s/. Perpaduan bunyi konsonan yang dominan dalam puisi ini, menimbulkan kesan dan suasana yang mencekam, buram, gelisah, dan menakutkan. Kesan dan suasana ini ditimbulkan oleh perpaduan bunyi-bunyi konsonan. Di dalam teori puisi, bunyi seperti ini disebut dengan bunyi kakafoni.

Puisi Seruanku karya Cici Nur Azizah, juga didominasi oleh bunyi aliterasi. Misalnya aliterasi /m/ pada larik Haluan temaram meraba suasana kelam. Aliterasi /n/ pada Namun seruan kalbu menyerukan, Ratapan angin menghujat perjalanan. Secara keseluruhan, puisi ini juga memanfaatkan bunyi kakafoni.

Pemanfaatan jenis bunyi yang lain juga dapat dilihat dalam puisi Tuhanku Menangis yang ditulis oleh Elvia Mawarni. Puisi ini menggambarkan suasana ketika manusia tidak lagi patuh terhadap Tuhannya. Manusia tidak lagi menjalankan perannya sebagai makhluk Tuhan. Hal ini tampak pada larik Alif Ba Ta menghilang, Sarung para Bapak dikerubungi sayap. Jalanan berduri berarti manusia hidup dalam kesengsaraan. Di dalam puisi ini, penyair juga memanfaatkan bunyi anomatope. Anomatope (tiruan bunyi) artinya adalah penggunaan kata yang mirip dengan bunyi sesuatu. Misalnya pada kata Nguing...Nguing...Nguing...tak lagi kudengar lengkingan itu. Pemanfaatan bunyi seperti ini juga akan menimbulkan kesan atau suasana tertentu dalam sebuah puisi.

Bunyi di dalam puisi tidak hanya menentukan nilai estetis sebuah puisi, tetapi juga menentukan makna sebuah puisi. Dengan demikian, bunyi merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan oleh penyair untuk menimbulkan efek kepuitisan di dalam puisi.

Selamat untuk Santi Syafiana, Cici Nur Azizah, dan Elvia Mawarni. Teruslah berkarya, berimajinasi, dan ekspresikan ke dalam puisi.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Santi Syafiana, Cici Nur Azizah, Elvia Mawarni
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.