Catatan Budaya

Mengumpat

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 24 November 2010 07:15 WIB • 👁 11.948 Pembaca

Mengumpat dilihat dari pengertiannya menurut KBBI, berarti mengeluarkan kata-kata keji disebabkan adanya perasaan marah, kesal, atau jengkel. Kalau dahulu, orang yang sering mengumpat diindentikan dengan orang yang tidak atau kurang berpendidikan, namun pada masa sekarang orang yang notabenenya memiliki pendidikan tinggi pun tak ayal menjadikan umpatan sebagai makanan sehari-hari.

Kata-kata kotor atau kasar yang diungkapkan dengan suara lantang maupun dengan bantuan tulisan dianggap mampu menjadi jurus ampuh untuk mewakilkan dan meluapkan emosi yang dirasa. Anehnya, banyak dari mereka yang mendengar umpatan itu merasa bahwa umpatan ditujukan pada mereka, dan akhirnya termakan kalut emosi sehingga tak jarang sepatah umpatan bisa berujung perkelahian.

Sebut saja kejadian yang menimpa Luna Maya beberapa waktu lalu. Luna menggunakan media twitter untuk mengumpat para wartawan yang selalu mengusik kehidupan pribadinya. Alhasil, para wartawan marah dan melaporkan kejadian tersebut pada pihak berwajib dan mengharuskan Luna untuk meminta maaf pada seluruh masyarakat memalui media.

Belum lagi, cerita tentang wakil rakyat kita yang duduk di bangku DPR RI. Kegiatan rapat, sidang atau sejenisnya acap kali diwarnai umpatan dan ucapan-ucapan kasar. Padahal selaku wakil rakyat, orang berpendidikan, mereka dianggap memiliki kelebihan kemampuan dibanding rata-rata rakyat, sehingga kemudian dipilih dan diberi gelar "yang terhormat" untuk mewakili rakyat dalam mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika orang-orang terpilihnya sudah lumrah saja mengeluarkan umpatan dan kata-kata kasar, bagaimana dengan rakyatnya awamnya?

Baru-baru ini, warga di Tangerang, Banten, berkelahi hanya karena merasa tak terima salah satu dari keluarganya ditabrak. Hal ini berbuntut perkelahian antar-suku, antara suku betawi dengan suku madura yang mengakibatkan hilangnya satu nyawa dan rusaknya beberapa pemukiman akibat pembakaran.

Tergambar jelas disini, hanya orang yang lemah dan berkualitas rendahlah yang suka mengumpat dan yang gampang terhasut. Ini dikarenakan lemahnya diri dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Menurut Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) menjelaskan penyebab kebiasaaan mengumpat tersebut karena rendahnya Self Awarness pada diri mereka. Self Awareness adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut. Untuk dapat mengendalikan perilaku emosional, kita perlu mengenali dulu emosi apa yang kita rasakan pada saat tersebut.

Sudah seharusnya kita sebagai makhluk yang bisa berfikir mencari jalan terbaik dengan lebih banyak bertindak daripada hanya mampu melontarkan kata-kata yang hanya mewakili perasaan emosi sesaat. Dengan begitu barulah kita bisa disebut sebagai manusia yang berfikir, bertindak dan bermartabat tinggi yang tentu membuat kita berbeda dari mahkluk ciptaan Tuhan yang tak diberi karunia untuk berfikir.

*Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNP TM 2007

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Oleh Ainul Addinna
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.