Agama

Mindset Dzikir dan Ibadah

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 20 Maret 2012 11:41 WIB • 👁 1.716 Pembaca

Dalam novel Negeri Lima Menara (2009) karya A. Fuadi terdapat sepotong adegan yang menarik bagi penulis dan mungkin merupakan salah satu pesan yang hendak disampaikan si pengarang kepada pembaca. Keputusan Alif memilih pesantren di Pulau Jawa sebagai ‘pelarian’ sebab tak dapat bersekolah di SMA mengantarkannya pada sebuah pemahaman yang berbeda. Awalnya, Alif terikat pada mindset bahwa Pesantren adalah sebuah kungkungan kreatifitas yang penuh dengan peraturan-peraturan agama yang mengikat dan katrok. Hari-harinya akan dihabiskan dengan hapalan ayat-ayat sepanjang waktu.

Namun, betapa Alif sangat terkejut sesaat setelah ia tiba di Gontor melihat ‘kecanggihan’ pelayanan yang diberikan pesantren. Ia semakin ‘geleng-geleng kepala’ ketika telah benar-benar merasakan kehidupan di dalam pesantren. Keadaan ini pula yang akhirnya membuka mata Alif, bahwa pesantren bisa juga berskala modern dengan berbagai fasilitas yang tak kalah dari hebat dari sekolah umum. Tidak hanya secara teori, pesantren yang ia masuki dengan setengah hati itu, bahkan juga menyediakan sarana pengembangan keterampilan semisal olahraga, diskusi, kesenian, dan perlombaan.

Saat itu muncul pertanyaan dari Alif, ayahnya dan oleh si penulis sendiri. Bagaimana pengajaran agama di pesantren ini? A. Fuadi lantas menjawabnya dalam novel tersebut. Pendidikan agama terletak di hati dan dijalankan dengan ridha Allah SWT. Pendidikan agama tidak hanya dengan sekedar berdiamatau melakukan aktivitas taqarub di tempat ibadah saja. Namun agama juga bisa diwujudkan dalam aktivitas keseharian. Setidaknya potongan adegan cerita dalam novel ini mencoba menjawab dan mempertajam kepercayaan bahwa agama memang berfungsi sebagai oksigen yang urgen demi kelangsungan hidup secara utuh. Keberadaan agama tidak hanya terbatas dengan tempat tertentu dalam menjalankannya, namun juga dalam kehidupan yang luas.

Dalam kehidupan sehari-hari petikan kata-kata dzikir dan ibadah seolah menjadi sebuah sekat yang hidup-tumbuh-bersemi dalam pikiran di kalangan awam. Sekat itu berupa mindset bahwa ibadah hanya berpahala bila diaplikasikan dengan duduk-diam di masjid dan dzikir hanya dengan kalimat-kalimat Alqur’an. Pemikiran itu pun semakin mengungkung diri dengan menyempitkan arti kata ibadah itu sendiri. Ibadah masih dianggap sebagai ritual shalat saja sedangkan dzikir dengan cara hanya melafazkan kalimat thayyibah. Pembatasan inilah yang akhirnya memberikan batasan kepada kehidupan saat ini bahwa ibadah dan dzikir hanya terbatas pada satu tempat saja.

Dalam Q.S. Adzariyat:56, Allah SWT. Berfirman, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku". Firman Allah SWT. lainnya dalam Q.S. Al Baqarah:152 berbunyi, "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. bersyukurah kepada-Ku dan jangan ingkar kepada-Ku". Dua firman Allah SWT di atas merupakan himbauan Sang Pencipta kepada para hamba-Nya dalam hal ibadah maupun dalam dzikir. Keduanya ternyata memiliki makna yang lebih luas daripada pemahaman yang tampak saja.

Memaknai konsep yang pertama tentang ibadah, seperti tertulis dalam surat Adzariyat di atas bahwa penciptaan mahluk di bumi ini adalah untuk menyembah kepada sang pencipta yakni Allah SWT. Kata-kata menyembah dalam artian yang lebih luas merupakan perbuatan ibadah sejak membuka mata hingga kembali tidur. Rentang waktu yang tak akan pernah lupa dicatat oleh kedua malaikat. Secara terminologi, ibadah itu sendiri terbagi atas tiga pokok utama, yaitu ibadah hati, ibadah secara lisan, dan ibadah anggota badan. Selain itu, tidak hanya Hablumminallah, Hablumminannas juga termasuk beribadah kepada Allah. Jika Ibadah hanya dikategorikan sebagai perbuatan di dalam mesjid dan shalat saja, tentu itu hanya baru memahami Ibadah dari satu sisi saja; Hablumminallah. Padahal, Hablumminannas juga diperlukan.

Penulis teringat dengan sentilan ibadah seperti ini halnya karya Robohnya Surau Kami yang ditulis oleh sastrawan dari ranah Minang, A.A. Navis. Dalam cerita ini AA Navis membuka sebuah paradigma berfikir dalam hal beribadah kepada Sang Pencipta. Ia mencoba memperumpamakan kehidupan orang yang taat beribadah dalam masjid, namun menelantarkan kewajiban duniawinya; si tokoh menelantarkan keluarga, dan hubungan sosial-bermasyarakatnya. Bahkan, secara tidak langsung, ia tidak acuh mengurus diri sendiri. Ia menyerahkan semuanya kepada Allah. Ia seperti sudah hidup dalam menjalin hubungan dengan Allah, tapi memutuskan tali silaturahim dengan sesama manusia.

A.A Navis dengan berani mengakhiri nasib tokoh di dalam neraka dan membangun sebuah ending yang menarik; pembicaraan si Ahli Ibadah dengan Tuhan sebab mempertanyakan kesalahan Tuhan karena telah memasukkan ia ke dalam neraka. Jawabannya ada pada hadits Nabi yang artinya, "Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim," (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam cerita ini, jelas sekali memperlihatkan betapa sempitnya pikiran si Ahli Ibadah dalam memaknai Ibadah itu sendiri.

Selanjutnya konsep dzikir dalam surat Al-Baqarah di atas. kata-kata dzikir mempunyai arti mengingat Allah SWT. Secara umum, dzikir biasa dilakukan melalui lafadz takbir, tahmid, tasbih dan tahlil. Tak alain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, apakah pemaknaan dzikir menjadi sesempit itu?

Rasanya tidak, dzikir adalah hati yang selalu terpaut dengan Tuhannya dan selalu merasa di dekat-Nya. Misalnya, mahasiswa yang tengah mengikuti ujian semester akan berusaha jujur dalam mengerjakan soal, juga bisa dikategorikan sebagai bentuk dzikir, sebab ia merasa Allah dekat dengannya dan malu kepada Allah bila melakukan kecurangan. Tidak hanya itu, dzikir kadang identik dengan keadaan duka dan murung. Bila sudah sedih dan kekurangan, baru manusia akan berdzikir kepada Allah. Seharusnya, dzikir dilakukan hampir di semua situasi dan waktu, dan dalam kegiatan apapun. Hal ini bisa memberi energi positif bagi kehidupan.

Dalam pelaksanaan Ibadah, umat muslim mempunyai target yang mesti dicapai untuk bekal di akhirat, yaitu pahala yang cukup untuk melancarkan jalannya di jembatan sirathal mustakim menuju surga. Namun kadang, target inilah yang akhirnya membuat sebagian umat muslim takut untuk berimprovisasi macam-macam. Mereka cenderung menelan bulat-bulat sebuah pemaknaan tanpa mempelajari lebih lanjut, apakah maksud yang ingin disampaikan oleh Allah itu hanya berkisar dalam skala kecil atau bisa lebih luas. Pemahaman yang jelas akan menambah ruang bagi umat muslim untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya. Mereka tidak terkungkung pada sebuah ajaran yang sempit.

Dzikir dan ibadah memang lazim dilakukan di tempat ibadah kerana di tempat etrsebut ia akan mendapat ketenangan secara spiritual. Walaupun begitu, bukan berarti bahwa ketika keluar dari bilik tempat Ibadah ia akan pula kehilangan esensi untuk melakukan sebuah kegiatan yang mampu menghasilkan pahala. Artinya, tidak hanya di tempat Ibadah, dimanapun umat bisa saja beribadah asalkan dilakukan dengan etika dan pemahaman yang benar. Pemahaman ini pula yang akhirnya mampu membawa seorang muslim untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia dan akhirat tanpa ada yang terlupakan dan dirugikan. Amal untuk akhirat tersimpan, hidup di dunia juga nyaman.

Konsep agama yang hidup dalam kehidupan manusia adalah sebuah pendekatan emo-spiritual. Dimana pendekatan emosi ini akan memberikan sebuah ketenangan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Agama itu tidak statis, tetapi dinamis dengan batasan-batasan yang jelas sesuai dengan pedoman yang telah ditinggalkan Nabi SAW; Alquran dan Sunnah. Sebuah ajaran tidak bisa dimaknai sepotong-potong. Mereka saling berhubungan dan melengkapi. Begitu pula konsep Ibadah dan dzikir. Mereka tidak bisa diartikan dalam keadaan sebagaimana adanya. Tapi, perlu penelusuran mendalam agar tidak terjebak pada mindset ketaklidan. Taklid ini bisa menjadi salah satu penyebab manusia lupa untuk berusaha mendapatkan yang lebih baik. Mereka lupa bahwa bekal di dunia tidak hanya berdasarkan hubungan dengan Allah saja, tapi juga dengan manusia. Akhirnya, mereka menjadi orang yang terpinggirkan dalam kehidupan sosial dan merugi pula di hadapan Tuhan.

Penulis Mahasiswa Universitas Negeri Padang

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Priondono
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.