Dalam dunia warna, abu-abu bukanlah termasuk ke dalam kelompok warna primer. Warna primer adalah warna yang berdiri sendiri, ia bukan campuran dari berbagai warna lainnya.Sebaliknya, abu-abu adalah kelompok warna netral, yang merupakan kombinasi dari beberapa warna. Namun, ada juga yang mengatakan abu-abu lebih merujuk kepada tingkat kecerahan yang posisinya berada antara warna hitam dan putih. Dengan kata lain, ia tidak hitam dan tidak juga putih.
Dalam dunia fashion, sifat netral dari warna abu-abu menjadikannya mudah untuk diÂÂkombinasikan atau matching dengan berbagai macam warna pakaian seperti putih, pink gelap, dan sebagainya. Begitu juga jika dibawakan ke dalam jiwa sosial seseorang. Sikap abu-abu mengarah kepada fleksibilitas. Dengan kata lain, ia bisa bergaul dengan siapapun. Tidak hanya golongan hitam maupun putih.
Meskipun begitu, karakter yang dimiliki warna abu-abu ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi merupakan kelebihan, namun di sisi lain merujuk kepada kekurangan. Dalam masalah prinsip, abu-abu sering diartikan negatif. Seperti halnya ketika ada orang yang dicap "abu-abu" yang kemudian diartikan sebagai orang yang tidak memiliki ketetapan prinsip. Dalam kondisi tertentu, ia dengan begitu mudah mengubah prinsipnya. Tidak usah jauh-jauh, kita ambil saja contohnya mahasiswa.
Ada sebagian mahasiswa yang awalnya menjadikan berlaku jujur disegala situasi sebagai prinsip hidupnya. Namun, ketika berada di posisi sulit, kala ujian misalnya, tak jarang mereka menggadaikan prinsip kejujurannya tersebut. Mereka lantas berlabuh pada perilaku menyontek. Lebih dari itu, ada yang lebih parah. Beberapa mahasiswa bahkan sedari awal tidak memiliki prinsip untuk dijadikan pegangan. Mereka ini hanya meliuk mengikuti kencangnya angin. Baik dalam konteks ujian diperkuliahan maupun dikehidupan pribadinya.
Mahasiswa sangat rentan terpengaruh pesatnya perkembangan dunia. Bisa dikatakan, setiap minggu bahkan setiap hari akan ada saja up date terbaru. Bagi mahasiswa yang tidak memiliki prinsip tadi, tentu akan begitu mudah mengadopsi style yang berkembang. Walaupun sebenarnya, hal tersebut tidak sesuai denga karakter pribadinya. Itulah yang akhirnya menjadikan terlahirnya "mahasiswa abu-abu" tadi.
Dalam kasus besar, abu-abu juga bisa diwakili oleh perilaku para koruptor. Sebelum terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan, tentulah mereka tampil sebagai sosok yang jujur. Namun, ketika pucuk kekuasaan sudah di tangan, lantas tak jarang prinsip tersebut tergerus seiring berjalannya waktu.
Terlebih jika abu-abu dikaitkan dengan dunia politik. Banyak lini yang tersandung karenanya. Kita telah mengenal ada istilah politik abu-abu. Begitu juga dengan politikus abu-abu. Politik abu-abu mengarah kepada ketidakjelasan sikap politik seseorang maupun kelompok atau lembaga. Sehubungan dengan tujuan politik sebagai alat untuk mencapai tujuan, maka tak jarang kita melihat kelatahan dalam berpolitik. Politik akan bermanuver mengikuti celah mana yang terbuka dan berpeluang untuk dibuka. Lebih konkretnya, ada saat-saat ketika suatu partai malah mendukung kebijakan tertentu demi memuluskan tujuan politiknya. Meskipun sebenarnya, hal tersebut bertentangan dengan hati nuraninya atau cita-cita luhur yang diusung partai tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan politikus abu-abu yang kemudian diartikan kepada ketidaksetiaan. Tentu tak asing lagi di telinga kita, mendengar adanya sosok politikus yang awalnya mendedikasikan dirinya pada partai A. Namun karena suatu hal dan dalam waktu yang tidak begitu lama, ia malah bermanuver dan berlabuh di partai B. Banyak alasan yang bermunculan ketika ditanya atas sikapnya tersebut. Ada yang berkilah bahwa sudah tidak se-ide , tidak nyaman lagi, dan sebagainya. Apapun alasannya, masyarakat tidak mau tahu dan menilai politikus yang bersikap demikian adalah politikus yang tidak loyal.
Bila telah demikian, jika semua aspek kehidupan dinilai relative, tidak adakah yang baik, dan yang salah secara pasti? Bukankah kesetiaan dapat dinilai secara pasti? Abu-abu. Tidak hitam dan tidak juga putih, sehingga banyak yang berseloroh dan bersembunyi di balik fleksibilitas yang dika ndung oleh abu-abu ini. Namun apapun alasannya, sikap abu-abu telah berhasil menggiring seseorang kepada ketidaksetiaan. Cukup pilih, putihlah atau hitamlah.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!