Selaksa cahaya mampir berkedip...
dalam kelam lebam kau bertutur seolah berbisik dalam tidurku...
mengatakan keserakahan mengekor pada perjalanan kita...
wajahmu berkelambur saat remang-remang malam mengepung dan menjebakku dalam pangkuanmu...
gelap yang mabuk dan dekapmu terasa galir dalam rasaku... Asmaralokaku... itu kau...
tapi... dan tapi lagi sedu sedanku tanpa nadi...
menyentuh kedalaman karang yang begitu cadas sangat sulit...
tak acuh air mata yang sia-sia jatuh lebih baik menguap oleh api...
sayang, aku tak mampu nyalakan sepercik pun...
tapi aku menantikan asmaraloka palsu itu membakarmu kelak...
saat rimbaku rimbun dan malam elokku bersahaja...
akan membiusmu tanpa bangun....
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!