Sudah sejak dua tahun lalu teras sebuah toko di pasar raya ini menjadi tempat mangkalku. Berarti sejak usiaku memasuki 70 tahun. Tak kusangka, cepat juga waktu berlalu. Sudah 72 tahun saja usiaku sekarang. Tempat mangkal ini dulu Salman, putraku yang pilih. Katanya di sudut ini ramai. Banyak orang yang lewat. Jadi bisa dapat banyak uang.
Pekerjaanku bukannya apa-apa. Aku hanya perlu duduk bersimpuh seharian di depan toko ini. Beralaskan selembar sarung lusuh dan sebuah kantong plastik ukuran sedang yang kuletakkan di sampingku. Plastik yang berisi bekal makan siang.
Salman yang suruh. Katanya, aku mesti menengadahkan tanganku pada setiap orang yang lewat. Agar mereka mengisinya dengan beberapa recehan, atau jika ada yang murah hati memberiku lembaran ribuan. Kalau perlu aku mesti memasang wajah sesedih mungkin. Tapi itu tak pernah kulakukan, aku tak pernah mau mengangkat tanganku untuk meminta-minta. Jika mereka yang lewat merasa kasihan padaku, mereka boleh melemparkan recehan atau uang kertas ke atas sarung lusuh ini. Itu jika mereka merasa kasihan. Jika tidak, apa boleh buat, kubiarkan saja.
Dari pekerjaan inilah aku mendapatkan uang untuk makan setiap harinya. Sebenarnya tak pula hanya untuk makan. Setiap hari Salman selalu menagih uang hasil kerjaku itu, atau katakanlah hasil meminta-mintaku seharian. Dan dengan uang itulah ia memberiku jatah makan tiga kali sehari. Selebihnya ia ambil untuk keperluannya dan istrinya yang sama sekali tak tahu hormat padaku itu.
Salman dan istrinya yang congkak itulah yang memaksaku meminta-minta di depan toko ini. Salman bilang padaku ia tak punya pilihan. Pendapatannya yang hanya 30 ribu perhari sebagai buruh bangunan tak mencukupi biaya hidupnya dan ketiga orang cucuku. Apalagi sejak aku juga menumpang tinggal dengan mereka. Karena gubukku di kampung sudah sangat lapuk dan habis dimakan rayap.
Waktu itu Salman menceritakan kesusahannya padaku. Bujuknya, aku hanya perlu duduk di depan toko itu seharian. Menengadahkan tangan serta memasang wajah sedih dan memelas. Dengan begitu akan banyak yang merasa kasihan lalu akan memberiku sediki uang. Awalnya aku menolak, tapi Salman dan istrinya terus memaksaku. Mereka tidak akan mengizinkanku tinggal bersama mereka, juga tidak akan memberiku jatah makan jika aku tak mau melakukannya. Jadilah, terpaksa aku melakoni pekerjaan ini, jika boleh ini disebut pekerjaan, Hingga sekarang. Hingga dua tahun lamanya.
Kata-kata Salman saat itu sangat terekam jelas di benakku.
"Ibu kan hanya perlu duduk saja di tempat itu, mudah kan Bu!" ucapnya memaksa.
"Tapi ibu sudah tua, Nak," bantahku mencoba memelas.
"Ibu jangan manja begitu. Aku tak punya cukup uang untuk menghidupi ibu. Jadi setidaknya ibu harus mencari uang untuk menghidupi diri ibu sendiri."
Aku hanya bisa diam membiarkan anakku satu-satunya itu mengatur hari tuaku di tengah-tengah keramaian kota ini. Setiap pagi, belum lagi azan subuh berkumandang, ia telah sibuk membangunkanku. Menyuruhku segera bersiap-siap ke tempat yang dituju. Toko buku di tengah pusat kota. Pagi-pagi sekali itu Salman akan mengantarku dengan mengayuh sepeda tuanya. Sama tuanya denganku. Ia mengantarku sebelum terang ke sudut toko agar tak ada yang melihat. Kata Salman, tak boleh ada yang tahu bahwa ada seseorang yang mengantarku, atau bahwa aku masih memiliki keluarga. Bisa-bisa tak kan ada yang mau memberiku uang. Begitu juga saat pulang. Salman menunggu gelap turun, barulah ia datang menjemputku. Begitulah setiap harinya hingga kini.
Sungguh pilu hatiku. Aku duduk menekur di depan toko ini agar mendapat jatah makan. Agar bisa menyambung hidup. Agar masih bisa mendapat tempat untuk berteduh. Tapi, kadang pernah aku berpikir untuk tak perlu melakukan semuanya. Lebih baik aku mati saja. Sama saja kan? Aku kah sudah tua. Toh sebentar lagi aku juga akan mati. Tapi hingga siang ini, malaikat maut tak juga datang menjemputku. Atau sekedar memberi kabar, kapan Tuhan akan memanggilku. Si tua ini hanya bisa pasrah.
Meski hampir tak pernah menengadahkan tangan, tiap harinya aku mendapat cukup uang untuk upah makanku pada Salman. Dalam sehari aku yang tua ini bisa memperoleh sepuluh sampai lima belas ribu. Kira-kira setengah penghasilan Salman. Tapi ada kalanya juga aku hanya bisa membawa pulang dua sampai tiga ribu saja hari itu. Jika begini, menantuku hanya akan memberiku jatah makan dua kali sehari saja. Ia takkan memberiku bekal makan siang keesokan harinya. Ya, Beginilah hidupku sekarang.
Begitulah, tapi tak hanya aku sendiri yang menjadikan teras toko buku ini sebagai tempat bergantung hidup. Lima meter di samping kiriku, duduk pula seorang laki-laki tua. Usianya mungkin tak jauh beda denganku. Ia juga sudah terlihat sangat renta. Punggungnya tak lagi tegak lurus, sudah membungkuk. Dan ia menggunakan tongkat yang terbuat dari kayu sebagai alat bantu jalan. Sayangnya ia pun tak dapat melihat. Maksudku buta.
Melihat Pak tua itu, sempat pula aku berpikir, apa ia juga disuruh anak atau menantunya untuk meminta-minta di jalanan sepertiku? Tapi aku tak pernah berani dan berniat bertanya. Jika benar, betapa kasihannya si Pak tua. Apalagi ia buta.
Sementara beberapa jengkal di depanku lain lagi. Seorang bocah kecil tergeletak di sana. Tanpa selembar kain pun penutup tubuhnya. Dan kepalanya membengkak. Tapi ia tak sendiri. Bocah itu ditemani sang ibu yang tak kalah kumalnya denganku. Bocah yang usianya kutaksir masih empat tahunan itu hanya berbaring lemah. Ia hanya tidur sementara matanya tak bisa tertutup karena ujungnya tertarik oleh kepalanya yang membesar. Entah penyakit apa itu, aku tak tahu. Kadang kulihat ia seperti meringis menahan sakit. Sedangkan sang ibu hanya nanar menatap buah hatinya itu yang kurasa berjenis kelamin laki-laki. Bermenung. Mungkin sedang memikirkan penderitaan anaknya atau memikirkan penderitaan hidup terlahir sebagai kaum miskin. Sama sepertiku dan Pak tua itu.
"Sungguh kasihan," gumamku. Tapi tak apalah. Setidaknya jika besar nanti ia tak seperti Salman yang menyuruhku meminta-minta di jalanan. Entah apa ia masih bisa bertahan hidup hingga besar.
Kulirik ke sebelah ibu dengan bocahnya itu. Seorang lelaki lumpuh empat puluhan yang masih saja memainkan salauangnya sepanjang hari. Mengeluarkan nada-nada lirih seperti rintihan. Rintihan hidup barangkali. Dia telah lebih dulu mangkal di sini dari pada aku. Tapi laki-laki yang satu inilah yang kurasa nasibnya tak jauh berbeda denganku. Setiap gelap turun, sama denganku, seseorang menjemputnya. Seorang pria yang entah siapa, sementara aku di jemput oleh Salman.
Siang ini panas begitu terik. Kepalaku sakit. Sebenarnya sudah sedari pagi tadi aku merasakannya. Dan sudah pula aku mengatakannya kapada Salman agar aku tak usah mengemis saja hari ini. Tapi ia dan menantuku itu tetap tak mengizinkannya.
"Ah, hanya sakit kepala biasa Bu. Sebentar juga sembuh. Jangan terlalu dimanja-manja sakitnya." ujar Salman jelang berangkat padaku tadi pagi.
Tapi, sepertinya kepalaku semakin sakit. Sepertinya aku tak enak badan. Setiap orang yang lewat memperhatikanku. Mungkin mereka menyadari wajah meringisku. Tiba-tiba seorang gadis kecil lewat di depan batang hidungku. Sambil terus memegang tangan ibunya, lama ia memperhatikanku. Lalu dijatuhkannya recehan lima ratus ke atas sarung yang juga menjadi alas dudukku. Juga pada baskom kecil milik pak tua yang buta di sebelahku.
Hari ini aku juga merasakan lelah yang sangat. Sakit kepalaku rasanya tak tertahankan lagi, serasa mau pecah. Aku ingin pulang saja, tapi aku tak tahu ke mana jalan pulang. Selama ini aku dijemput dan diantarkan Salman. Apalagi aku yang sudah tua ini, sudah sangat susah berjalan sendiri.
Mataku mulai berkunang-kunang. Setiap orang yang lalu lalang seperti membayang jadi dua di penglihatanku. Badanku rasanya menggigil. Ah, aku tak kuat lagi dijemur di tengah panas terik ini. Aku ingin segera berbaring di kasur tipisku di rumah. Meski tipis, setidaknya tak panas menyengat seperti di sini.
"Ah, aku pulang saja sekarang."
Tapi, jika pulang sekarang, besok aku tak kan dapat jatah makan siang. Bagaimana ya? Tapi tubuhku yang renta ini sudah tak kuat lagi. Tapiā¦
"Ah, pokoknya sekarang aku ingin pulang."
Sekuat tenaga kuangkat tubuhku. Berusaha berdiri, tapi sepertinya aku tak punya cukup tenaga. Setiap kali hendak berdiri, pasti jatuh lagi. Tanganku yang kurus kering ini tak cukup kuat menopang tubuhku. Tapi berusaha juga kulakukan.
Kupegang pagar pembatas toko. Kutopangkan badan agar bisa berdiri. Sedikit demi sedikit, kukerahkan sisa tenaga yang kupunya. Akhirnya bisa juga, aku telah berada pada posisi berdiri. Lalu kuseret langkah satu persatu.
Tiba-tiba saja orang beramai-ramai berkumpul. Serentak mereka berlari ke arahku. Aku jadi bingung bukan kepalang. Ada apa ini? Jangan-jangan terjadi kebakaran, atau ada maling yang sedang dikejar-kejar massa. Tapi, ah.., tidak. Tidak mungkin. Mengapa semua pedagang di pinggir-pinggir jalan ini juga berlarian kesana kemari. Mereka berteriak-teriak. Teriakan yang tak jelas entah apa bunyinya sampai di telingaku.
Keributan itu semakin dekat ke arahku. Sangat dekat. Samar-samar kulihat beberapa lelaki berbadan tegap mengenakan seragam bertuliskan "Satpol PP". Mereka saling kejar dengan pedagang. Apa yang mereka lakukan? Terlebih aku sangat kebingungan, apa yang sedang terjadi.
Rombongan kejar-kejaran itu telah tepat di depanku. Aku takut dan panik. Kutoleh ke belakang, pak tua serta ibu dan anaknya yang berkepala bengkak, tak kalah paniknya denganku. Mereka lalu berdiri. Pak tua sangat kebingungan. Ia berjalan tak tentu arah, sambil tangannya berusaha meraba-raba sesuatu. Entah apa. Sedang aku, kepalaku serasa mau pecah.
Tiba-tiba seseorang memegangiku dari belakang. Sontak aku terkejut. Kupikir Salman, dia menjemputku. Tapi tumben Salman datang sesiang ini. Ia memegang kedua tanganku kuat dan disilangkannya di punggungku. Aku jadi meringis kesakitan.
Bukan, ini bukan Salman. Aku berusaha menoleh ke belakang, tapi sulit. Tak berhasil kulihat wajah laki-laki yang memegangiku ini. Tapi selintas kutangkap ia berseragam yang bertuliskan "Satpol PP" di lengannya. Aku kebingungan. Mengapa orang-orang berseragam ini menangkapku. Tak hanya aku, pak tua yang buta dan bocah kecil beserta ibunya juga. Sementara laki-laki pemain saluang telah lari entah ke mana. Ada apa ini?
"Saya salah apa? Lepaskan Saya, Pak! Saya mau pulang," lirihku memohon pada laki-laki itu. Tapi tak sedikit pun ia mempedulikanku, malah menggiringku ke sebuah mobil dengan bak belakang terbuka. Aku memberontak sekuat-kuatnya. Terus memberontak hingga tenagaku benar-benar habis dan kepalaku yang kurasa telah benar-benar pecah. Lalu gelap.
* * *
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!