Catatan Budaya

Takhayul

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 27 November 2010 06:30 WIB • 👁 2.716 Pembaca

Manusia Indonesia percaya takhayul, itulah yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia. Kata-kata itu tentu saja tidak terangkai tanpa alasan. Kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan mistis, benda-benda keramat, seperti keris, pohon, batu, begitu tumbuh subur di tanah air.

Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki tempat-tempat keramat. Sebut saja makam Syekh Burhanuddin, di daerah Ulakan Pariaman, Sumatera Barat. Masyarakat dalam maupun luar daerah ramai mengunjungi makam ini untuk berziarah. Konon, jika orang-orang berdoa meminta kehidupan yang lebih baik dan memohon dimurahkan rezeki di makam ini, maka permohonan itu akan terkabul.

Bukan di Ulakan Pariaman saja, masih banyak tempat lain di Indonesia yang didatangi berbondong-bondong oleh masyarakat untuk mengantarkan sesajen dan berdoa memohon kemurahan rezeki, jodoh, kesuksesan dalam karir, dan lainnya. Bahkan kita mungkin pernah membaca kalau tokoh-tokoh bangsa ini ternyata memiliki hubungan erat dengan dunia mistis dalam kesuksesan jabatan dan karirnya.

Kepercayaan-kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat mistis seperti ini memang sudah menjadi warisan turun-temurun bagi masyarakat Indonesia. Keterbatasan akal dan beberapa kebetulan membuat sebuah hipotesis yang salah tentang tempat-tempat dan benda-benda, begitu juga dengan makhluk-makhluk gaib.

Di era kepesatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang semestinya masyarakat Indonesia banyak mendapat pencerahan. Sayangnya, media justru makin memupuk kepercayaan terhadap takhayul itu. Rumah produksi film berebut memproduksi film-film horor. Hantu-hantu berkeliaran di bioskop, malah dibumbui pula dengan adegan-adegan yang tak layak, sebut saja hantu puncak datang bulan, kain kafan perawan, paku kuntilanak dan film-film lainnya. Selain film-film layar lebar, canel-canel televisi pun sering menyangkan acara-acara mahkluk halus, tempat angker, foto-foto penampakan. Sudah menjadi konsumsi masyarakat memang.

Percaya pada hantu, tempat-tempat keramat tanpa sadar dapat membatasi kita dalam berbuat. Kita akan terlalu hati-hati dan kadang meninggalkan pekerjaan karena rasa takut. Belum lagi dengan mengunjungi tempat-tempat keramat, mengantar sesajen atau berdoa, alih-alih mendapat keberuntungan justru nanti malah jatuh ke syirik. Walhasil, tak sedikit orang yang lebih yakin pada bantuan mistis dari pada berjuang untuk menggapai keinginannya.

Pencerdasan tentu saja mesti dilakukan pada masyarakat kita yang kata Mochtar Lubis percaya takhayul. Untuk merubah kebudayaan ini bukan merupakan hal yang mudah. Kebiasaan itu sudah tertanam dalam pola pikir dan tercipta dalam bentuk perilaku masyarakat. Bahkan, pembentukan pemikiran yang dilakukan dengan pendidikan bahkan juga sulit untuk menghilangkan kepercayaan pada takhayul yang tumbuh segar di pikiran mereka. Arus pola pemikiran warisan dan pengaruh media lebihlah kuat.

Setiap pribadi mestinya memiliki kemampuan untuk membedakan hal yang logis dan tidak logis. Tentu saja dengan pijakan ilmu dan agama. Media pun sebenarnya sangat berperan untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia. Bukan justru memberikan suguhan-suguhan informasi yang makin mempersubur kepercayaan masyarakat kepada takhayul.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Isra Hermanto
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.