Catatan Budaya

Berbelanja

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 27 November 2010 07:29 WIB • 👁 1.442 Pembaca

Deretan pernak-pernik memenuhi almari pakaian perempuan muda itu. Berbagai jenis perhiasan; gelang, kalung, cincin, hingga aksesoris rambut, setumpuk mainan kunci, dan rupa-rupa permen sepertinya sangat siap untuk dikudap. Sayang, sejak dibeli 3 minggu lalu, permen bergambar anima itu pun tak jua berkurang jumlahnya. Katanya, gambar-gambar anima permen itu menarik dan lucu, makanya ia beli. Sama nasibnya dengan perhiasan dan aksesoris, tergeletak begitu saja. Permennya tak dimakan, pernak-perniknya tak untuk dipakai. "Peramai almari," kata si empunya suatu waktu.

Tak berbeda jauh ceritanya dengan ide wakil-wakil rakyat di Padang Pariaman beberapa waktu lalu. Meng-ada-kan mobil dinas baru di tengah keterpurukan rakyatnya pasca gempa. Bisa dibayangkan jumlah nominal yang akan dikeluarkan Pemda untuk membeli mobil-mobil tersebut. Padahal suasana duka belum terhapus dari pelupuk mata dan hati masyarakat Sumbar, Pariaman khususnya. Keinginan ini kedengaran miris dan memprihatikan.

Berbelanja sebenarnya merupakan kondisi di saat terjadi penukaran antara uang yang dimiliki dengan barang yang akan dibeli. Ini sebenarnya sudah menjadi aktivitas rutin setiap bulannya. Baik itu pemerintah, pebisnis, apalagi bagi kaum ibu. Siapa pun akan dan dapat melakukannya asal ada uang. Namun sering kali aktivitas berbelanja ini menjebak manusia ke dalam hal yang hanya berbau foya-foya. Dan itulah yang terjadi dengan masyarakat yang sudah mencapai tahap materialistis ini.

Jika sudah dalam aktivitas berbelanja manusia seringkali menjadi pribadi-pribadi yang tak efisien dalam penggunaan uang. Apa yang dilihat menarik, langsung dibeli karena mengingat juga kantong lumayan cukup untuk itu, atau malah berpikir ah, soal uang bisa ditanggulangi nanti. Terlihat kalau hakikat barang yang akan dibeli tak dipertimbangkan dengan matang. Nilai guna dikesampingkan. Kebanyakan terjebak dengan hanya membeli brand bahkan ‘membeli’ karena terdorong nafsu meteri yang liar. Jika ini sudah menguasai pribadi-pribadi manusia maka segala kondisi yang ada disekitar secara otomatis diabaikan, keadaan masyarakat pun terpenggal demi hasrat pribadi atau kelompok. Ini membuat kesimpulan kalau sebagian besar manusia masih samar mengetahui konsep kebutuhan dan keinginan. Berbelanja tidak sesuai dengan hakikat barang dan kebutuhan yang akan digunakan, sama saja dengan menghambur-hamburkan uang. Berfoya-foya bahasa lainnya. Berfoya-foya dalam berbelanja ini termasuk prilaku mubazir. Barang yang dibeli tak seiring dengan kebutuhan, lebih menurutkan nafsu. Kadang sulit dirtimbang skala prioritas karena memang benar-benar itu tak masuk sama seklai dalam skala keperluan yang priorotas. Kembali ke konsep Marx, membeli produk karena nilai guna dan bukan nilai tanda, brand yang diagungkan.

Jika setiap manusia mau menyadari ‘siapa saya?", akan lebih membuka mata dan hati mengenai putusan yang akan diputuskan. Menyadari "dampak apa?" yang akan terjadi jika melakukan ini itu, sebuah pertimbangan matang yang semoga tidak membawa penyesalan. Berpikir ulang dan mendalam, jauh lebih berarti daripada tergesa-gesa sekedar mengikuti hasrat.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Adek Risma Dedees
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.