Cerpen

Jeritan Hati

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 22 September 2019 00:18 WIB • 👁 1.276 Pembaca

Hari ini aku ingin menceritakan apa yang ku rasakan, saat ini telah ada orang baru yang mencoba mengisi kekosongan hati. Dimana aku merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya lewat kata-kata. Namun yang aku takutkan dari semua ini adalah hanya perasaan untuk melampiaskan kekosongan yang telah berlalu. Aku selalu mengingat orang-orang yang sangat aku cintai dan disayangi sebelumnya tapi tak bisa ku miliki. Aku sendiri bingung dan takut akan sesuatu yang membuat hatinya menjadi sedih karna rasa yang ku miliki padanya hanya biasa saja.

Aku menyesal telah memberi kebaikan yang berlebihan hingga menyentuh hatinya. Mungkin seiring waktu berjalan, hari demi hari, detik demi detik akan mengubah segala yang ku rasakan dimasa lalu. Ini semua butuh proses yang sangat panjang untuk move on, aku belum bisa menerima siapapun dihati ini. Setiap kali aku merasa kesepian, yang teringat bayang mereka yang seolah-olah membuatku hanyut dalam lamunan tanpa sadar tertawa kecil yang tak diketahui oleh siapapun. Aku heran dengan sikap pria, padahal aku sendiri memiliki dua saudara laki-laki yang bisa ku tebak sifatnya, namun tidak untuk mereka.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang mudah memalingkan hati pada setiap orang yang aku sudah terlanjur cinta padanya, meski orang tersebut tak bisa dimiliki atau dipertahankan lagi, aku masih tetap mengingat mereka. Hati ini terasa sakit dan tak kuasa menahan luka yang perih. Seberapa banyak orang yang diluar sana yang sedang menanti hanya merekalah yang terpikirkan di hati ini. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana perasaan mereka.

Apakah hanya aku saja yang memikirkan, dan begitu bodoh untuk menerima itu. Andai aku tahu sedikit saja perasaan kalian disaat aku menjauh tanpa kabar apapun. Apakah mereka tidak merasa cemas atau khawatir terhadap ku??? Atau kalian sangat merasa bahagia dan benar-benar melupakan ku untuk selamanya??? Jujur yang paling dalam dari lubuk hati ku, seberapa jauh kalian pergi dari hidup ku, bayangan itu selalu membekas. Sungguh betapa rapuhnya hati ini, penuh kegundahan yang tak menentu dan tak tahu arah. Aku sadar akan hal ini bahwa diri ku memeang tidaklah baik dan tak sepantasnya untuk mereka, aku selalu berusaha untuk mencoba bangkit dari kekalaman masa lalu, justru aku sendiri malah tenggelam dalam kenangan manisnya yang tak bisa digenggam. Hati ku hancur, bagaikan butiran-butiran salju yang bertebaran. Ntah sampai kapan aku bisa sanggup melupakannya.

Kenapa setelah kehilangan dua orang dan sekarang malah ada penggantinya dua orang juga. Ya Allah apa yang harus aku lakukan, bagaimana cara aku menghadapi mereka dan aku tidak ingin menyakiti perasaan siapapun. Aku benar-benar bingung hari ini, rasanya ingin menyendiri dan tak ada orang yang mengisi hati ini sampai pada waktunya benar-benar tiba. Jawaban apa yang harus aku berikan kepada mereka agar tidak terjadi kesalah pahaman.

Aku akui setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, disinilah hal itu tampak dari mereka. Yang satu paham agama, baik, bertanggung jawab, disiplin namun tidak memilliki orang tua. Dan yang satu lagi adalah teman satu SMK dimana dialah orang yang menembak ku dua kali tapi tidak pernah ku terima. Disaat kelas 3 dia pun memiliki pasangan yang sangat mengerti terlebih lagi jauh lebih baik dibanding ku, yang anehnya aku tidak pernah merasakan cemburu atau apapun ketika melihatnya telah memiliki pasangan malahan aku turut senang dengan kebahigaanya. Sekarang semuanya telah berbeda semenjak tamat sekolah kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kami tidak pernah bertemu selama 1 setengah tahun, dan tibalah pada waktu disaat kami bertemu satu sama lain di universitas.

Aku merasa biasa saja melihatnya, cuman dianya saja yang kaget ketika melihat ku. Aku masuk ke perguruan tinggi sedangkan dia bekerja di hotel. Kini hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya, dia sudah terlihat mapan, sopan, ramah, tapi tidak begitu alim, alias biasa-biasa saja tentang pengetahuan agama. Apakah aku termasuk orang yang sangat egois dan tak bisa memihak pada yang sudah ada didepan mata. Rasanya aku ingin sekali memilih yang terbaik dari yang baik tapi itu tidak mungkin dan mustahil. Bagaimana bisa aku mendapatkan orang seperti itu. Jauh dibalik dunia ini, masih tersimpan orang yang beruntung pada asal mulanya itu semua dikembalikan lagi pada Yang Maha Kuasa.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Siti Fahirah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.