Di bawah sini, saklar lampu rumah-rumah terlihat telah dipetik si empunya sehingga sepanjang mata memandang, rumah-rumah telah memancarkan pendar-pendar cahaya. Aku saat ini tengah mengintip rumah yang terletak di seberang. Lampunya yang terang ternyata juga telah tampil ditambah pintu rumah yang dibuka lebar-lebar, membuat sinar dari dalam rumah yang terhambat menyembur melewati pintu.
Aku menghela napas. Biasanya, saat seperti itulah para laron mulai datang. Sekarang musim kemarau tengah berlangsung. Mereka, si pemilik rumah, sepertinya lupa tentang hal itu. Di rumahku sendiri, sudah ada tiga sampai lima laron yang terbang mengitari lampu sejauh ini. Jika dibanding dengan rumah tersebut, lampuku memang jauh lebih redup, jadi tak heran jika laron-laron itu tidak tertarik. Aku jadi membayangkan berapa banyak laron yang akan datang ke rumah di seberang itu.
Aku memandang jam, kemudian kembali ke posisi semula. Aku tengah berada di teras rumah sambil menyesap segelas teh hangat. Sepertinya menunggu untuk melihat laron-laron datang ke rumah itu tidak akan rugi-rugi amat.
Dan benar saja, laron-laron itu datang. Tidak dengan ukuran yang kecil, namun jauh lebih besar. Mungkin semakin terang lampu, maka semakin besar laron yang datang. Pintu rumah tersebut sudah terbuka dari setengah jam yang lalu. Tidak perlu lagi mereka mengetuk dan mengucap salam, sebab sepertinya si Tuan Rumah sudah tahu jika mereka akan datang.
"Ehh, selamat datang!" aku mendengar si Tuan Rumah menyambut dengan gembira. Aneh sekali. Mereka kan hanya seekor laron. Kenapa Si Tuan Rumah malah menyambutnya?
Sesi sambut menyambut pun tidak terelakan. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, yang terdengar oleh telingaku hanya tawa-tawa mereka yang berdenging. Cukup menganggu, tapi aku masih betah untuk mengobservasi mereka. Keren sekali, Tuan Rumah itu bisa bahasa laron!
Aku tiba-tiba jadi membayangkan berapa banyak makanan yang ada di rumah itu. Sekarang seluruh negeri sedang dilanda kekeringan akibat kemarau, tetapi rumah tersebut sepertinya tidak mengenal kemarau. Rumah mereka selalu memiliki bahan makanan yang berlimpah—tidak kenal musim. Entah karena mereka memang kaya raya, atau jangan-jangan karena mereka punya kebun ajaib yang tahan pada segala musim di belakang rumah mereka? Duh, yang aneh-aneh memang selalu menarik untuk diimajinasikan.
"Enak sekali kuenya!" aku mendengar sebuah suara lengking menguar dari celah pintu, "Pintar sekali istrimu memasak!"
Pemilik rumah itu baru saja menikah dua bulan yang lalu, dan rumah itu memang merupakan rumah yang diwariskan keluarga si wanita kepada mereka. Aku kenal dengan orang tua mereka, tetapi aku tidak cukup kenal dengan mereka. Yang aku tahu dari mereka hanya julukan 'pasangan paling serasi'-nya. Oh, serta istrinya yang selalu dipuja-puja kalangan ibu-ibu komplek.
Baru-baru ini lingkunganku mempunyai dua pengantin baru. si Tuan Rumah di depan rumahku itu dan sepasang lagi di belakang rumahku. Dan menurutku, pasangan yang tinggal di belakang rumahku itu jauh lebih serasi, walaupun rumah milik mereka hanyalah hasil dari mengontrak dan berukuran kecil. Dan lucunya lagi, dua pasang pengantin baru itu berteman dekat. Sayang, nasib mereka tidak sebanding, terutama dalam segi materi.
"Saya mau ke rumah belakang dulu, manggil Fauzan dan istrinya."
Aku melihat si Tuan Rumah berdiri di ambang pintu, hendak melangkah keluar sebelum cepat-cepat dicegat seekor laron besar yang ternyata bisa bicara. "Ah, nggak usah, kita-kita aja," katanya. Sungguh luar biasa, bahkan aku mengerti ucapannya. "Lagipula, dia pasti lagi sibuk ngukir. Kasian, nanti kalo kamu bawa kesini, ukirannya nggak selesai. Bos-nya jadi marah. Istrinya itu mau dikasih makan apa?"
Aku menyesap tehku sambil menyimak ucapan laron itu. Ah, iya benar. Pasangan di belakang rumahku ini memang hanya bekerja sebagai pengukir kayu. Hidup mereka cukup susah, bahkan hanya untuk beli beras. Aku tidak habis pikir, kalau laron-laron datang ke rumah mereka, mau jadi apa rumah kecil itu.
"Kalau begitu, aku bawakan saja mereka makanan," kata si Tuan Rumah kembali.
"Terserah kamu saja, sih," kata laron itu lagi, namun dengan nada yang cukup mengintimidasi. "Tapi ya, kalau kamu sering ngasih-ngasih begitu, nanti mereka jadi terbiasa minta, lho."
Rasa manis yang tertinggal di lidah lambat laun menyisakan rasa pahit. Aku baru saja mengganti merek teh yang biasa ku konsumsi. Karena kemarau keluargaku jadi tidak punya penghasilan, sehingga kami tidak sanggup membeli teh yang biasa. Teh yang kuminum saat ini lebih murah harganya, dan menurutku rasanya lebih pahit di mulut.
"Apa salahnya?"
Aku mengangguk dalam hati. Benar, apa salahnya? Lagipula mereka adalah teman sekaligus tetangga. Tidak ada salahnya untuk saling meminta pertolongan.
"Sekarang sedang kemarau, semua serba susah. Kadang kalau diberi cuma-cuma, mereka jadi terbiasa datang."
Laron-laron di rumah itu kudengar makin berdenging. Susah sekali jika punya rumah yang besar dan terang, laron-laron jadi sering datang. Cahaya-cahaya itu tersedia secara cuma-cuma, dan karena itu mereka malah jadi terbiasa datang.
"Sudah, jangan dikasih. Nanti mereka jadi manja."
Musim kemarau memang selalu menjadi momen laron-laron mencari cahaya untuk dikerumuni. Dan sepertinya aku sudah bisa mengambil kesimpulan atas apa yang kulihat, laron yang saat ini ada di rumah si Tuan Rumah itu ialah sejenis laron yang paling menyebalkan. Mereka besar, pemilih dan berisik.
Si Tuan Rumah akhirnya tidak punya pilihan lain selain kembali ke dalam rumah dan duduk. Diam saja saat laron-laron itu mulai mengerubunginya lagi.
Semua cahaya pada hakikatnya selalu sama, bersinar. Tetapi, mereka para laron tahu cara membedakan mana cahaya yang terang dan mana cahaya yang redup. Aku terkadang merasa beruntung rumahku tidak punya cahaya yang terlalu terang, dan mungkin pasangan di belakang rumahku juga berpikir demikian. Sebab, aku tahu laron-laron besar dan berisik itu datang tidak hanya untuk mencari cahaya, melainkan mereka datang juga untuk mencari segala yang kemarau tidak pernah berikan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!