Tengah malam itu gelap dan pilu, kondisi di sekitarnya sedikit mencekam, kelam dan hening. Malam itu angin berembus cukup kencang dan ada rasa bimbang yang harus diatasi, ia adalah seorang pria paruh baya yang hidup dengan seorang gadis belia. Ia lumpuh dan bisu, buah hati dari anak satu-satunya yang telah lama wafat.
Mereka tinggal di rumah bambu kecil di pinggir kota, tepatnya di pinggir jalan Bypass yang cukup sepi pada malam hari. Mereka tidak mempunyai televisi, lemari pendingin atau semacamnya, maklumlah tak ada listrik di istana kecilnya itu. Yang ada hanya sebuah semprongan, yang kacanya sudah menghitam dikarenakan asap, namun cukup untuk menerangi dan menghangatkan penghuni rumah itu setiap malam. Syahdu mereka berdua.
Semprongan itu sudah berusia sebaya dengan Kakek, satu-satunya benda peninggalan mendiang istrinya sekitar satu tahun yang lalu. Ia dan sang mendiang selalu merawat dan menjaga semprongan tersebut. Memang tak mahal, namun benda itu menjadi saksi bisu akan kenangan manis dua insan yang kini telah terpisahkan oleh maut.
Saat matahari tenggelam di ufuk barat, Kakek mulai mengisi minyak dan membasuh kaca semprongan kesayangannya. Hari mulai beranjak gelap, sehingga kakek beserta cucu terkasihnya duduk merapatkan diri ke cahaya api agar bisa mendapat penerangan serta kehangatan dari dinginnya malam, sembari berbincang dalam heningnya malam.
Meskipun sudah kuno, sinar dari semprongan ini tetap indah memancar. Tak ayal, gadis cilik itu sangat suka memandanginya. Terkadang jika kantuk sudah di puncaknya, ia pun dibuat terlelap olehnya. Kemudian, bila gadis kesayangannya sudah melewati deras samudera mimpi, pria tua itu memutar semprongan kemudian meniup sampai habis cahayanya, dan lentera itu dikembalikan ke tempat semula, yakni di sebelah pintu masuk agak ke kiri.
Kegelapan kembali menutupi langit, kepiluannya sedikit terobati karena sang Cucu masih bisa tertidur pulas malam ini, dan lelaki tua itu berharap bahwa esok sinar surya akan dapat menerangi gubuk kecilnya kembali.
***
Petang kembali menjeput, tak terasa hari berlalu dengan cepat. Hari ini si Kakek sedang sibuk memilah sampah plastik yang telah terkumpul, sementara cucunya masih terlelap dalam tidur. Sedang asyik memilah sampah, Kakek teringat akan Cucu kecilnya yang sedang bercengkerama dengan mimpinya. Kemudian Kakek menaruh semprongan di dinding istananya, lalu bergegas beranjak untuk segera bertemu sang Cucu.
Kakek memang jarang membangunkan gadis kecilnya saat pagi, biasanya ia hanya menyiapkan makanan si Cucu dan menaruhnya di samping karpet lusuh tempat si kecil tidur. Lalu biasanya makanan pun akan selalu habis tak bersisa, namun hari ini makanan yang ia sediakan tak tersentuh sama sekali, hanya beberapa kawanan lalat yang menghinggapinya.
Melihat Cucunya masih terlelap, sang Kakek mendekap dan memastikan gadis kesayangannya tetap dalam mimpi indahnya. Betapa tersentaknya hati sang kakek mendapati tubuh Cucunya dalam keadaan panas, kelemahan bercucuran keringat, diikuti dengan helaan nafas yang berat dan memburu.
Jantungnya memompa dengan kencang,
"Apa yang terjadi dengan Cucuku?," seru sang Kakek dalam kecemasannya.
Ia langsung mengambil sepotong kain dan sebaskom air dingin untuk kemudian mengompres panas sang cucu.
Melihat keadaan yang tak kunjung membaik, Kakek berniat untuk membawa cucunya ke dukun pengobatan tradisional terdekat, namun jaraknya tak terlalu dekat dari rumah. Bila ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan.
Hanya dukun pengobatan tradisional langganan si Kakek yang dapat menerima Kakek. Maklumlah, puskesmas di pinggir jalan yang letaknya sekitar lima meter dari gubuk bambu itu tidak menerima pengobatan gratis karena si kakek tidak terdaftar di puskesmas tersebut.
Dengan hari yang sudah mulai gelap gulita, si Kakek menghidupkan semprongan kesayangannya sebagai penerang di jalan nanti. Ia menyadari bahwa jalan yang akan dia lalui ke tempat dukun itu tidak mudah apalagi ia harus menggendong Cucu kesayangannya, belum lagi jalan yang harus ia lalui cukup berbatu dan banyak semak belukar. Tapi, karena kasih sayangnya kepada sang Cucu Kakek rela mempertaruhkan segalanya.
Tanpa menunggu lama, si Kakek langsung menggendong dan mengikatkan Cucunya pada punggung rapuhnya. Dengan semprongan yang telah menyala di tangan kanannya, ia menyusuri jalan setapak. Jalan berbatu, semak belukar sampai dengan asap pekat semprongan pun tidak ia hiraukan.
Tujuannya hanya satu, ia ingin cucunya sehat dan bugar kembali seperti sedia kala.
***
Sudah cukup jauh Kakek berjalan dengan Cucunya, namun mereka tak kunjung sampai. Ia hanya dibawa berputar-putar oleh jalan malam yang tidak begitu jelas. Belum lagi sejak beranjak dari rumah tadi, ia harus diikuti sesosok bayangan atau mungkin sejenis makhluk gaib.
Kegelisahan Kakek tua semakin memuncak, rasa gundah dan takut bercampur jadi satu. Ia mulai mempercepat langkahnya. Semprongannya berguncang hebat, mungkin karena si Kakek mulai berjalan dengan terburu-buru dan ingin sekali mengambil langkah seribu tapi tak bisa karena ada Cucu yang kini sedang ia gendong.
Dalam gelisahnya, sinar semprongan kesayangannya itu mulai meredup. Seketika si kakek menghentikan langkahnya dan mencoba untuk memperbesar cahaya pada semprongannya. Namun cahaya semprongan itu tak kunjung cerah dan malah menjadi semakin redup, lama kelamaan cahayanya makin memudar dan akhirnya menghilang.
Kini kegelapan mulai menyelimuti segalanya. Kakek tak bisa melihat apa pun dalam gelap. Tubuhnya pun tak mampu untuk bergerak. Ini bukan kegelapan biasa, tetapi bisa dinikmati. Tiba-tiba dari arah depan muncul seberkas cahaya yang perlahan-lahan semakin membesar dan kemudian mendekat. Sinarnya sungguh menyilaukan.
Betapa terkejutnya ia, ternyata sang surya yang menyibak dinding bambu istananya. Kakek terheran-heran mengingat dirinya yang semula berada di tengah hutan kini dapat diterima di istana kecilnya.
Lalu, ia mendekap gadis belia untuk memastikan kondisi Cucunya. Ternyata sang Cucu dalam situasi yang wajar, tak ada badan yang panas atau keringat yang bercucuran. Gadis itu baik-baik saja. Kini si Kakek dapat menghela nafas dengan lega.
Kakek tua itu lalu memperhatikan ada sesuatu yang aneh di dinding tempat dia biasa ia meletakkan semprongan. Ia melihat semprongan kesayangannya tidak ada di tempatnya. Dengan rasa heran, ia menyusuri sekeliling rumah, namun tidak menemukannya.
Timbul beragam pertanyaan di benak si Kakek, "apakah lenteranya terjatuh di jalan tadi malam?" atau "apakah lenteranya dicuri?"
Lalu, "bagaimana aku bisa kembali ke rumah?" dan "bagaimana cucuku bisa pulih?"
Ia terus meracau dalam hati dan imajinasinya pun semakin membohonginya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!