Cerpen

Gadis Kecil di Suatu Sore

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 30 Juli 2021 12:25 WIB • 👁 4.719 Pembaca
Gadis Kecil di Suatu Sore
Ilustrator Oleh Fitria

Launan angin yang bertiup pagi itu seolah memberiku instruksi untuk menarik napas panjang, lalu hembuskan perlahan. Berjalanlah dengan pelan lalu nikmatilah kedamaian yang masih tersisa di tengah hingar-bingar kehidupan tak nyata. Hingga akhirnya aku harus kembali lagi ke dunia virtual yang memungkinkan segalanya di dalam gengaman. Dengan hanya bermodal benda kotak dan stimulan yang bernama jaringan internet.

Kecintaan terhadap dunia tulis-menulis agaknya ku warisi dari kakek. Di masa mudanya kakek adalah seorang pemimpin redaksi di sebuah koran lokal di kota tempat kami sekeluarga menetap. Hingga pada akhirnya kakek memilih menetap di sebuah desa kecil, daerah pesisir yang terletak di sudut kota ini. Kata beliau itu adalah tanah kelahirannya, sebelum memboyong nenek , ibu dan paman yang saat itu masih belia untuk kemudian mengadu untung di kota. Pensiun dari pekerjaan jurnalistiknya, kakek masih aktif menulis hingga saat ini. Aku adalah salah satu penggemar berat buku-bukunya. Setiap kali buku kakek terbit maka akulah yang harus menjadi pemilik cetakan pertamanya. Kini selain menulis aku juga mengelola sebuah rumah baca. Selain itu, semenjak kebijakan bekerja dari rumahdiberlakukan, aku juga rutin menyelenggarakan kelas menulis secara virtual.

Kelas menulis online yang berlangsung dua kali dalam sepekan itu akhirnya usai juga. Setelah kelas virtual itu di dalam to do list ku hari ini sudah tercatat hal selanjutnya yang harus aku lakukan, yaitu menemukan ide untuk novelku yang terbaru. Lama berkutat namun tak ada satupun ide bersileweran di kepalaku. Tiba-tiba aku ingat sebuah cerita perihal gadis kecil dengan keranjang lusuhnya yang berisi beberapa plastik kerupuk. Dari cerita kakek tentang gadis itu ku ketahui jika namanya Inara. Menurut penuturan kakek 7 tahun lalu dia datang ke sudut kota kecil ini masih berbalutkan kain digendongan ibunya. Sementara ayahnya, tak ada yang pernah mendengar cerita tentangnya. Pun ibunya yang selalu bekerja sebagai juru masak di rumah makan milik kakek tak pernah sekalipun menyinggung perihal suaminya. Di sela-sela tugasnya sebagai juru masaklah ia menyempatkan diri menggoreng kerupuk-kerupuk yang kemudin dijajakan Inara. Aihhh, tiba-tiba rindu akan cerita-cerita kakek dan rasa penasaran tentang gadis kecil yang pernah kutemui di tepi pantai itu mengerogotiku.

**

Suatu sore sebulan yang lalu, kala itu lembayung membayang di ufuk barat. Biasnya tampak kemerah-merahan dipantulkan air laut sore itu. Disanalah aku lihat gadis kecil itu duduk berpangku lutut dengan sebuah keranjang lusuh di sampingnya. Aku perhatikan tubuh mungil nan lusuh itu. Kulit putih, rambutnya pirang. Ia cukup cantik untuk ukuran seorang gadis kecil menurutku. Tak lama ia berjalan, mendekati rumah perahu yang agaknya menunggu roboh. Duduklah ia di sebuah dipan-dipan menghadap rumah perahu lapuk itu. Serasa ada magnet yang menarik langkahku untuk berjalan mendekat kearahnya. Rambut pirang itu tampak sedikit tidak tertata dari dekat. Tak lama ia menoleh ke arahku. Tersenyum dan sungguh cantik sekali, dia memiliki mata hitam pekat nan indah dan bibir yang membentuk bulan sabit saat tersenyum.

Rasanya aku terhisap bersama pusaran matanya, tertegun dan entah apa yang melayang-layang dipikiranku, rasanya ada sesuatu yang tertahan didalam pusaran hitam di bola matanya itu.

"Kaka.." Katanya.

"Hei cantik, sedang apa di sini? Kenapa sendirian?" Tanyaku sambil melayangkan seulas senyum lalu menjatuhkan tubuh disebelahnya. Ia tak menjawab, dan hanya tersenyum. Ku ikuti pandangan matanya merayapi rumah perahu tua itu.

"Kakak bisakah Kakak tinggalkan yang disayangi dengan bahagia?" Suara yang berebut dengan gaduhnya ombak sore itu mengagetkanku.

"Aa..aapa?" Hanya patahan kata itu yang sempat keluar dari mulutku seolah tak menangkap dengan baik apa yang dikatakannya.

"Bisakah Kakak tinggalkan yang disayangi lalu hidup dengan bahagia?" Kali ini suaranya bergetar melemah, tapi seolah-olah hanya suara itu yang tertangkap oleh telingaku, tak ada gaduhnya deburan ombak, atau pun bisik angin yang bergegas.

"Kakak tidak tau tentang itu, tapi Kakak akan berusaha sebaik mungkin agar hal seperti itu tak harus terjadi. Namun jika hal itu tak terelakkan, kita juga tidak berhak mengutuk keadaan. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencari makna tersembunyi dibaliknya".

Aku tak tau apakah itu jawaban paling baik yang bisa aku berikan, paling terterima di antara isaknya itu. Meski aku tak sepenuhnya paham entah kemana makna yang disayangi itu merujuk.

"Jika suatu waktu sesaat sebelum Kakak meninggalkannya, Kakak seolah membawakan segala kebahagian ke dalam genggamannya. Apakah menurutmu, engkau telah meninggalkannya dengan baik?" Kini aku paham jika pertanyaanyannya merujuk kepada seseorang.

***

Sepekan kemudian, dari cerita kakek ku ketahui jika Inara dan ibunya hidup berkecukupan sebelum akhirnya ibunya memutuskan untuk merantau dan mengadu nasib di negeri orang bersama anak semata wayangnya. Perihal kenapanya masih menjadi tanda tanya bagiku. Apakah pertanyaan Inara kala itu ada hubungan dengan ayahnya? Entahlah, tidak ada yang tahu. Sore ini aku berniat menggunjungi kakek di desa, barangkali aku bisa mendapatkan ide menulis yang bagus setelah mendengar banyak cerita dari kakek perihal Inara ataupun hal lainnya. Targetku kali ini adalah mendapatkan ide menulis.

Setelah 30 menit di bus, aku harus beralih menaiki perahu motor selama 15 menit untuk bisa sampai kerumah kakek. Kutumpangi perahu motor milik seorang bapak-bapak yang kutaksir sudah berumur tidak kurang dari 50 tahun. Kupandangi sekeliling, hawa sejuk desa kakek sudah tercium. Aku sudah bergerak jauh dari hingar-bingar perkotaan hanya dengan menepi sedikit kepinggiran arah barat daya jatung kota ini. Suasana hening, sampai bapak tua yang mengendalikan laju perahu motor itu membuka pembicaraan. Menanyakan apakah aku dari kota? Seorang mahasiswa? Sedang melakukan pengabdian masyarakat atau sejenisnya?. Aku tidak tau persis apakah ada banyak mahasiswa-mahasiswa yang berniat melakukan penelitian di desa tersebut belakangan ini. Semua rasa pertanyaan bapak tersebut aku jawab dengan sebuah kalimat pendek bahwa aku hendak mengunjungi kakek yang beliau sambut dengan anggukan disusul pertanyaan baru. "Apakah sering berkunjung ke desa ini nak?" Juga disusul pertanyaan lainnya apakah aku kenal Pak Saleh salah satu pemilik rumah makan dengan pondok-pondok mungil yang berisikan beberapa koleksi buku di depannya. Aku hanya mengangguk, tidak ku katakan juga bahwa kakek yang hendak ku kunjungi adalah orang yang baru saja beliau tanyakan.

Dari penuturan bapak tua pemilik perahu motor itu aku tahu bahwa kakek merupakan salah satu sosok yang hangat dan murah hati bagi penduduk sekitar. Tak terasa perahu motor itu sudah menghantarkanku ke tepian. Aku pun merogoh kantong dan menyerahkan dua lembar uang kertas sebagai ongkos. Bapak tua itu berterimkasih, lalu menyerahkan sebuah kantong kresek hitam ukuran sedang, jika ku tebak mungkin isi kantong itu adalah sebuah kain. Sejenis baju atau apapun yang terbuat dari kain.

"Nak bantu Bapak, kunjungi Rumah Makan Pak Saleh, di sana ada seorang juru masak yang memiliki anak gadis usia 7 tahun bernama Inara, berikan hadiah kecil ini untuknya."

Setelah berkata demikian bapak tua itu sudah bergerak lagi mendorong perahu motornya ketengah, sementara aku masih termangu. Lalu tiba-tiba aku memikirkan sesuatu.

"Apakah Bapak ayahnya Inara?" Teriakku.

Suaraku berebut dengan desiran omak, angin dan suara perahu motor itu. Bapak perahu motor itu tak memberikan balasan, ia hanya melambai sambil terus bergerak menjauh keseberang. Dengan kantong kresek di tanganku, kini tekadku semakin kuat, aku harus mendapatkan cerita utuh dari kakek perihal Inara dan Ayahnya. Dari gelagat dan cerita bapak perahu motor tadi jelas mereka saling mengenal.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Liza Marlinda
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.