Puisi

KARMA

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 11 November 2022 19:09 WIB • 👁 1.551 Pembaca
KARMA
Ilustrasi: Rezi Novita Putri

Tak-tak-tak
Gemersik jarum jam
Seakan tak ingin tunduk pada sang pungguk
Hembusan hawa panas
Menyeruak dalam sanubari seakan telah mati
Mati dikebiri oleh bibir tak manusiawi
Bibir yang kini malah terpaut antara hidup dan maut

Hahahaha hahaha
Entah kenapa saloka tawa terasa nikmat kiranya
Jemari semula merenggang kini mulai menggenggam
Seakan tunjukkan ankara berselimut harsa
Takkan kubiar romansa berbalut amarah dan tawa ini mereda

Jangan jadikan ini sesaat, Tuhan.
Biarkan tabuh gendering perang ini terus dipalu
Jadikan tangisan itu membahang hingga kahang
Pada tiap suara yang semula garang
Kini mulai beralih…
Hingga berbisik lirih, mungkinkah ini terlalu pedih?
Oh, tidak. Tak kudengar suaranya, coba ulangi!
Ya, seperti itu. Tatkala ajal menjemputmu

Temaram seakan mendukung untuk menukil warita
Sebuah hikayat menjelang mayat
Tatkala karma yang kelak jadi wiyata
Swastaita terdaluh di pelupuk mata
Hingga ku bertanya pada tuan dan puan
Apa arti sumpah serapah
Apalagi senyum sumringah
Berbangga dengan kaki memijak tanah
Kini hanya sumarah berbalas darah
Sempena yang kau anggap
Ternyata kini duka lara yang didekap

Mungkinkah sarayu tak nyata masih beralun di telinga
Saat rem yang diinjak, namun raksasa membawamu tetap beranjak
Melaju dan tangisan mulai terdengar liar
Disusul ligar sang raksasa berwarna cerah itu
Membawamu ke segala penjuru
Sang pengendara seakan lupa dan terasa jadi sosok semenjana
Tiada arti lagi, sang raksasa dikemudi kini menerobos pembatas
Terhempas diiringi suara kian memelas
Ada yang ingin mengadu dan barulah teringat pada yang satu
Dirimu permainkan kematian dan kini Tuhan telah serahkan

Hempasan kaca raksasa berkecai dan menusuk disetiap sudut ruang
Baik benda mati apalagi yang pasti kembali
Harmoni dan alunan nada tak berpola seakan jadi paduan suara
Bergemuruh dan berkecamuk pada hati yang awalnya sudah terlanjur kalian remuk
Apakah terasa nikmat tiap darah yang membasahi tanah
Tulang-belulang memainkan nada tak biasa
Bergesekan dengan bunyi kendaraan yang tumbang diperaduan

Dalam sebatang tanah di muka rumah
Kulit yang mengelupas dan badan yang membiru
Serta tangisan, teriakan dalam kesunyian
Sebaiknya tak perlu kalian tahu
Mala yang ada takkan ku timpali dengan nuraga
Seharusnya kalian tahu kenapa
Karena ini adalah KARMA!

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ilhan Erdeannda
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.