Ini puisi untuk Ibuku,
menceritakan perjuangannya mencari rezeki
Bagaskara menjadi saksi perjalananmu
memburu seonggok nasi
Keringat bercucuran
bak tangisan semesta sepanjang hari,
Kulit yang terbakar bagaskara
ikut menjadi saksi
Beban berat kau angkat
dengan tulang rusukmu yang lemah
Tertatih-tatih kedua kakimu
menopang beban itu dengan pasrah
Ketika awan kelabu sudah menampak diri
ke sana–kemari dirimu berlari
tak tahu arah
Nafasmu yang naik-turun
menandakan betapa lelahnya
ragamu melangkah
Ketika bagaskara berpulang ke tempat-Nya,
kau pun pulang dengan senyum yang merekah
Membawa jiwamu yang lelah,
memapah ragamu
yang sudah lemah
Jika rembulan sudah menampakkan diri
waktunya kau berperang
dengan pikiran riuhmu tiada henti
Memikirkan segala hal
yang memenuhi isi hati
pikiranmu yang enggan untuk menyerah
tambah menyesakkan hati
Wahai Ibuku
yakinlah kepada-Nya.
Lukisan semesta yang indah
akan segera menghampiri kita
Ada masanya
perjuanganmu akan digantikan
oleh sebongkah cahaya
Melalui sajak ini
aku kembali tersadar
betapa besarnya perjuanganmu,
cinta.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!