Puisi

Siluet di Jendela Maya

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 22 Oktober 2025 09:47 WIB • 👁 473 Pembaca
Siluet di Jendela Maya
Foto: Pinterest

Kau adalah asap-
naik, lalu menghilang.
membuat mataku pedih menatap terang.
namun tak kunjung bisa kugenggam pulang.

Aku pernah serupa api:
menyala untukmu,
meski kayuku habis,
dan bara di dadaku terlunta-tanpa tungku.

Kau datang seperti angin yang angkuh:
membelai sebentar, meninggalkan peluh.
lalu pergi sebelum kukenakan dingin
sebagai jubah terakhirku.

Kau tak pernah benar-benar ada
hanya siluet dalam jendela maya,
yang kupikir mengetuk pintu;
namun nyatanya, hanya hujan yang berulang turun, membersamai rindu.

Dan aku,
terlalu lama terduduk bisu,
menyeduh rindu,
untuk tamu yang bahkan tak tahu arah waktu.

Kini, tak ada pintu yang kubuka untukmu.
Tak ada kursi yang kutinggalkan mengabu.
Tak ada kopi yang kuseduh untukmu.

Karena aku bukan rumah-
bagi seseorang yang sekadar mendamba singgah.
Aku hanya sepi yang tak bersuara;
dipijak sejenak, lalu terlupa.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Diva Ratna Indah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.