Di bawah ranting kering yang tak lagi berbunga,
Diriku duduk menatap langit dengan penuh tanda tanya dan harapan,
Sosok yang lahir dari tanah yang retak,
Tumbuh dari dinding tak bewarna dan kusam dimakan usia
Meja makan seringkali menjadi saksi ketika diriku menahan lapar,
Dan sepasang sepatu yang menjadi saksi betapa beratnya perjalanan,
Setiap langkah menjadi sebuah peringatan,
Air mata menjadi tanda ketidakberdayaan,
Itulah diriku yang selalu mencoba menggapai setiap Impian.
Angin berbisik tentang kegagalan yang selalu datang menghantui,
Tentang setiap pintu yang tertutup sebelum diketuk,
Dan tentang jalan berliku yang tak kunjung bertemu.
Namun, diriku tetap tersenyum pada setiap luka,
Mencoba bangkit dari setiap jatuh yang membawa lara.
Pohon mati ini selalu berbisik kepada sanubariku,
Bahwa aku pernah hidup,
Aku pernah hijau,
Dan pernah mekar, berdiri kokoh menantang indahnya dunia.
Kini meski aku sudah mati, aku tetap berdiri memberimu teduh.
Di bawah bayangan tanpa daun itu aku selalu bermimpi,
Tentang setiap hari esok yang akan lebih cerah dari hari yang telah usai,
Tentang setiap langkah kecil yang akan membawaku jauh,
Melampui setiap garis batas yang selalu mengikatku.
Pohon yang telah mati ini menjadi saksi yang paling setia,
Menjaga setiap air mata, setiap tawa, setiap doa,
Menjadi pengingat bahwa bahkan dalam setiap kehampaan,
Masih banyak ruang untuk berharap, untuk tumbuh, dan untuk bermimpi.
Inilah mimpiku di bawah pohon mati itu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!