Judul: Na Willa
​Sutradara & Penulis Naskah: Ryan Adriandhy
​Produksi: Visinema Pictures
​Durasi: 118 Menit
​Rilis: 18 Maret 2026
​Adaptasi: Novel "Na Willa: Serial Catatan Kemarin" karya Reda Gaudiamo (2012)
​Di tengah gempuran budaya gila kerja yang sering memicu kelelahan mental, kita kerap membutuhkan jeda untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih sederhana. Film Na Willa (2026) hadir menawarkan suasana tersebut. Bukan sekadar sinema tentang bocah kecil, film ini adalah potret nostalgia yang berfungsi layaknya buku panduan bagi mereka yang merindukan masa sebelum dunia menjadi serumit sekarang.
Jika anak muda sibuk mengampanyekan pentingnya menikmati hari ini, Na Willa menghadirkannya secara alami. Melalui kacamata polos seorang anak di Surabaya tahun 1960-an, penonton diajak merayakan hal-hal kecil. Kebahagiaan Willa digambarkan sangat natural, sesederhana mendengarkan radio tua yang ia sapa "Eres" sembari memutar lagu Oh Hesty karya Lilis Suryani, sebuah lagu favorit yang diwariskan dari sang Mak. Penggambaran ini menjadi refleksi bahwa kebahagiaan tidak selalu berkutat pada pencapaian besar di media sosial, melainkan tentang ikatan jujur dengan apa yang kita cintai.
​Kita juga bisa melihat bagaimana lingkungan sekitar menjadi support system yang baik bagi Willa. Film ini memotretnya secara apik lewat dinamika hubungan Willa dengan kedua orang tuanya. Meski Pak bekerja jauh di atas kapal, ia tetap menunjukkan rasa sayangnya dengan baik, seperti mengirimkan kado dan surat di waktu yang konsisten.
Sementara itu, sosok Mak hadir sebagai pembimbing yang luar biasa dalam menyiapkan Willa menghadapi dunia. Mak mengajarkan tanggung jawab melalui hal sederhana seperti memelihara anak ayam, serta menjadi pendengar yang penuh empati saat Willa merasa tidak percaya diri. Salah satu poin penting adalah saat Willa mengalami perundungan dan ketidakadilan dari teman-teman dan guru yang kejam di sekolah pertamanya, Mak tidak memaksanya untuk bertahan demi formalitas. Ia justru menerapkan pola asuh bijak yang sangat sehat dengan mendukung Willa pindah ke lingkungan yang lebih manusiawi.
Momen paling hangat sekaligus inspiratif muncul melalui karakter Bud, teman Willa yang kehilangan kakinya akibat kecelakaan kereta. Alih-alih tenggelam dalam trauma, Bud menunjukkan penerimaan yang luar biasa. Ia menghadapi keterbatasannya dengan humor, berseloroh bahwa kaki palsunya bisa berbunyi. Hal ini ia tunjukkan melalui nyanyian yang berjudul "Sikilku Iso Muni". Karakter Bud memberikan sentilan lembut bagi kita yang sering mengeluh, mengingatkan bahwa penerimaan diri adalah kunci kebahagiaan.
Secara teknis, bagi para pencinta visual, latar daerah Krembangan dalam film ini adalah primadona. Desain set desa dan pasar berhasil menghidupkan kembali Surabaya masa lalu dengan sangat tepat. Di ruang inilah keberagaman budaya, antara Mak yang berdarah Nusa Tenggara Timur dan Ayah yang Tionghoa, digambarkan secara selaras. Toleransi tumbuh secara alami dalam keseharian tanpa terasa menggurui.
​Oleh karena itu, jika hidup kamu terasa sedang "abu-abu", Na Willa adalah spektrum warna yang kamu butuhkan. Di tengah dunia digital yang serba cepat, film ini menjadi sarana pembersihan pikiran dan jiwa yang efektif. Ia membuktikan bahwa masa kecil yang berwarna bukan karena kemewahan fasilitas, melainkan karena kedalaman interaksi manusianya. Ini adalah sebuah karya yang benar-benar menjadi a truly cinematic hug for our inner child.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!