Hujan datang lagi malam ini, suara air deras berjatuhan di atap rumahku yang sederhana, mengisi sunyinya kamarku. Tiupan angin masuk tanpa izin melalui ventilasi, memeluk sepinya jiwaku. Ku buka kain jendela yang sudah tampak lusuh, lalu menatap ke langit yang tak berbintang. Bulan malam ini tentu juga enggan hadir karna hujan sudah mendahuluinya. Aku kembali duduk di kasur menatap dinding kamar yang kosong. Hanya helaan nafas yang kini dapat ku keluarkan. Detikan jam yang tak pernah diam, menemani sunyiku tiap waktu. Aku menoleh pada lemari di sudut kamar, lacinya ku buka dan ku ambil kenangan beberapa tahun lalu. Potret masa kecilku bersama ayah, ibu, dan adik pertamaku. Aku tersenyum kecil sembari mengelus foto itu. Potret itu di ambil saat aku berusia 8 tahun, tubuhku saat itu gemuk, karena semua keinginanku dituruti ayah, dan aku sangat bahagia saat itu, tak ada kesedihan yang menyapa. Ku pandangi diriku yang sekarang di depan kaca, aku tersenyum miris, tubuhku yang kurus dan menyimpan luka sudah tak sesehat waktu kecil. Aku merebahkan diri di kasur tua sembari menatap ke langit-langit hingga terlelap menahan tangis.
Pagi ini upacara, aku bergegas berangkat ke sekolah dan berpamitan dengan Ibu dan Pak Tono, beliau suami ibuku. Aku enggan memanggilnya dengan sebutan ayah, karena bagiku yang pantas dipanggil ayah hanya ayah kandungku saja. Walau dia sudah tiada saat aku berumur 10 tahun, tetap dia tak akan tergantikan. Saat ini aku duduk di bangku kelas 12 SMA. Sekolahku tak terlalu jauh dari rumah, dengan berjalan kaki 10 menit, aku pun sampai di sekolah. Sebenarnya semangatku untuk berangkat ke sekolah hanya karna ingin bertemu teman-temanku, hari-hariku yang sunyi seketika akan terisi jika bertemu dengan mereka. Aku masuk ke kelas dengan senyuman sumringah, mereka pun memberi sapaan hangat padaku. Sembari menunggu bel untuk upacara, kami mengobrol dengan sesekali memberikan candaan. Tak lama dari itu bel pun berbunyi, kami pun melaksanakan upacara bendera dengan khidmat.
Setelah upacara bendera selesai, kami pun belajar seperti biasanya. Jam istirahat pun tiba, teman-teman membeli makanan di kantin, terkecuali aku dan Fania, kami membawa bekal dari rumah. Aku hanya membawa nasi dan telur, bagiku itu sudah enak, yang penting perutku tidak kelaparan. Saat sedang menikmati makanan, Fania curhat padaku tentang keinginannya yang ingin kuliah di luar kota, namun tak diizinkan oleh ayahnya. Aku pun menanggapi curhatannya dengan memberikan saran dan menenangkannya agar tidak sedih dengan keputusan ayahnya. Teman-temanku banyak yang curhat kepadaku tentang semua masalah mereka, namun aku hanya mampu menyimpan semua lukaku dalam sebuah diari kecil. Mereka beranggapan aku tak punya masalah yang begitu berat, karena tawaku tampak begitu lepas ketika bercanda tawa dengan mereka. Aku merasa ceritaku baiknya ku simpan sendiri, karena mereka juga pasti punya masalah dan aku tak mau membebaninya dengan ceritaku. Lucu ya, aku mampu mengobati luka mereka, namun lukaku sendiri tak kunjung sembuh. Tak lama setelah Fania bercerita Luna, Kayla, dan Dinda datang bergabung dengan kami.
"kalian bahas apa? Serius banget kayaknya" ujar Dinda bertanya
"ini si Fania dia ga diizinin ayahnya buat kuliah di luar kota" jawabku dengan tenang
"ih sama tauk aku juga gitu, nggak dibolehin sama bapakku untuk kuliah di luar pulau, padahal kan impianku ingin mencoba jadi anak mandiri" ujar Kayla dengan raut sebal
"nggak papa guys, yang penting dimanapun kita ke depannya, itulah yang terbaik untuk kita" kata Luna menenangkan
Semuanya tersenyum dan mengangguk pertanda setuju dengan pendapat Luna. Aku hanya diam dan tersenyum sembari berpikir betapa beruntungnya mereka yang masih ada ayah untuk menjembatani mereka menggapai cita-cita. Sedangkan aku sekarang masih dalam kebingungan apakah aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi, atau berhenti sampai SMA. Kami pun melanjutkan makan siang sambil mengobrol ringan.
"Assalamu'alaikum" salam ibu dari luar
"wa'alaikumussalam" jawab kami serentak
Kami membukakan pintu untuk ibu dengan penuh harap ada makanan yang dibawa.
"akhirnya ibu pulang, ibu bawa apa?" tanya Yola dengan antusias
"Ini ibu hanya membawa tempe dan tahu goreng sisa jualan di tempat kerja ibu tadi" jawab ibu sambil mengeluarkan bungkusan plastik yang berisi tahu dan tempe.
"tidak apa-apa bu, ini sudah cukup untuk makan kita malam ini" ucapku dengan senyuman
"Yola suka banget sama tempe bu, tempe yang kriuk dimakan pakai nasi anget, behh nikmat banget itu bu" ujar Yola dengan senangnya
"Ayo kak mamam" ajak Kiara sambil menarik tangan Yola
"Yaudah ayo kakak suapin" ujar Yola dengan tersenyum gemas melihat adik kecilnya.
Sekarang hanya aku dan ibu yang duduk di kursi tua itu. Aku menatap wajah ibu yang lelah walau berusaha menutupinya dengan senyuman.
"kamu sudah makan?" tanya ibu padaku
"tadi siang sudah kok bu" jawabku dengan senyuman
"makan malam maksud ibu"
"nanti sajalah bareng ibu, lagian aku masih belum lapar bu"
"maaf ya nak, ibu hanya mampu membawakan kalian makanan itu" ujar ibu terlihat sedih
"ibu nggak usah minta maaf, kami sangat senang dengan makanan itu bu, kan ada proteinnya" ujarku menenangkan ibu
"Ayo bu kita makan dulu, ibu pasti lelah dan lapar" ujarku menambahkan
Aku pun menggandeng tangan ibu menuju dapur untuk makan bersama. Pak Tono belum pulang, biasanya beliau pulang agak larut malam, aku tidak tahu apa alasannya.
Setelah selesai makan aku dan Yola mencuci piring. Setelah selesai, Yola langsung ke kamarnya dan aku pun begitu. Kami pun beristirahat malam itu.
Keesokan harinya saat aku sedang bersiap-siap akan pergi sekolah, ibu memanggilku dari kamarnya, aku pun bergegas menemui ibu.
"ada apa bu?"
"Kiara demam nak, tolong ambilkan kompresan" pinta ibu'
Aku pun bergegas ke dapur untuk mengambil kompresan. Yola sudah berangkat sekolah duluan
"ini sudah hampir masuk jam sekolah nak, kamu berangkatlah sekarang" ujar ibu padaku
"Nina nggak usah berangkat sekolah hari ini bu, Nina jaga Kiara saja di rumah, ibu kan mau berangkat kerja"
Dengan berat hati ibu mengiyakan permintaanku. Karena jika ibu tidak bekerja gajinya nanti akan dipotong, tentu itu akan lebih sulit. Pak Tono yang masih berada di sana hanya diam tak berkutik, dia hanya mengelus kepala Kiara. Setelah beberapa menit berlalu Ibu dan Pak Tono berangkat bekerja. Aku menatap wajah adikku yang lesuh, dia sedang tidur. Aku harap demam Kiara turun secepatnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, terdengar suara ketukan pintu dan suara salam dari luar. Aku tidak asing dengan suara itu, saat membukakan pintu ternyata itu Luna dan Fania.
"eh kalian, ayo silahkan masuk" ujarku mempersilahkan
Mereka pun duduk dan aku mengambilkan air untuk mereka.
"kamu sakitkah Nin?kenapa tidak masuk sekolah tadi? Oh iya maaf ya hanya kami berdua yang datang, karena Dinda ada urusan keluarga dan Kayla harus mengikuti les privatnya siang ini" jelas Fania panjang lebar
"aku nggak sakit kok, iyaa nggak papa kok aku paham kesibukan mereka, dan terimaksih banyak ya kalian sudah mengkahwatirkanku"
"jadi apa sebenarnya yang terjadi Nin?" Luna pun bersuara
"adikku yang paling kecil sakit, ibuku bekerja, jadi aku merawat adikku hari ini" jawabku dengan tenang
"maaf sebelumnya ya Nin, bukan bermaksud apa-apa, kenapa tidak ibu mu saja yang libur bekerja sementara Nin, kamu kan jadi ketinggalam pelajaran" tanya Fania dengan hati-hati
Aku pun menarik napas panjang, lalu mengangkat suara
"kalau ibuku tidak bekerja akan banyak pihak yang dirugikan, kalau aku yang libur sekolah, maka hanya aku yang akan dirugikan, karena kalau ibu tidak bekerja, kami mau makan apa"
"maaf lagi nih Nin, bukannya kamu mempunyai seorang ayah?"tanya Fania lagi
"Pak Tono maksudmu? Dia hanya ayah tiriku, beliau memang bekerja sebagai penjual mainan, namun dagangannya itu terkadang tidak laku, jadinya tidak membawa uang, kalau pun ada pembeli uangnya juga tidak seberapa, tidak cukup untuk menutupi kebutuhan kami"
"maaf Nin, kami tidak tahu, kamu tidak pernah bercerita pada kami, ternyata kamu menyimpan kesulitan sendiri" ujar Luna sambil memegang tanganku
"iyaa Nin, maafkan kami yaa Nin" ujar Fania sambil memegang pundakku
"tidak apa-apa guys, kalian nggak salah kok" jawabku dengan tersenyum hangat
"oh iya Nin, besok jadwal kita konsultasi ke BK tentang jurusan dan perguruan tinggi yang akan kita ambil setelah tamat SMA ini" ujar Luna memberitahu
Saat Luna mengatakan itu seketika aku membisu, pikiran ku kembali ribut, hatiku menginginkan untuk lanjut ke perguruan tinggi, namun logikaku berpikir tentang perekonomian yang tak mendukung. Lidahku terasa kelu untuk berucap, hanya air mata yang menggenang di pelupuk, namun aku segera menghapusnya.
"kenapa Nin? Kamu kenapa nangis? apa ada yang menyakitimu? Ayo cerita pada kami Nin, kami kan teman dekatmu, pasti akan kami dengarkan" ucap Luna dengan khawatir
"Tenang Lun, nggak ada yang nyakitin aku kok, aku cuma terluka dengan harapanku sendiri, aku rasa besok aku tidak usah ikut konsultasi jurusan itu"
"kenapa Nin?" tanya mereka serentak
"aku sudah dari lama ragu untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi atau bekerja saja setelah tamat ini, namun setelah beberapa hari ini kupikir-pikir sebaiknya aku lanjut bekerja saja, biarlah harapanku ku kubur dalam-dalam, asalkan adik-adikku tak merasakan luka yang sama. Kalau aku bekerja, aku bisa membantu ibu mencari uang, lalu aku bisa membiayai adikku yang bersekolah. Dan siapa tahu dengan aku bekerja, aku bisa membiayai pendidikan adikku untuk masuk perguruan tinggi" jawabku dengan senyuman yang terasa perih
Luna dan Fania langsung memelukku, pelukan mereka begitu erat.
"Nina, kenapa kamu menyimpan luka sedalam ini, kami merasa tidak berguna selama ini, kami hanya tahu tawamu tapi tidak dengan lukamu, kami terlalu jahat untuk disebut sebagai teman yang baik" ucap Fania sambil terus memelukku dengan Luna
Aku mengusap punggung mereka, lalu pelan-pelan melepaskan pelukan itu dan berkata "jangan bilang begitu, kalian tidak jahat, aku menyimpan rasa sakit ini karena aku tidak ingin memberatkan kalian dengan masalahku"
"ssttt, jangan bicara seperti itu Nin, kami tidak akan merasa terberatkan, kita harus saling ada di saat suka maupun duka, sekarang berjanjilah pada kami, kamu tak akan menyimpan masalahmu sendirian dan akan membaginya pada kami" ujar Fania
Aku pun tersenyum dengan anggukan pertanda menerima perjanjian itu.
"Dan ya satu lagi Nin, kamu tidak perlu mengubur mimpimu Nin, kamu tenang saja, sekarang kan banyak beasiswa, tadi guru BK kita bu Ratih menyampaikan ada beberapa beasiswa unggulan yang bisa kita dapatkan, dengan beasiswa itu kamu bisa kuiah tanpa ada pungutan biaya sedikitpun, bahkan kamu akan diberi uang jajan juga tiap bulannya dari beasiswa itu Nin" ujar Luna menjelaskan
"benarkah Lun? Alhamdulillah aku bisa mengejar cita-citaku Fan Lun" ucapku dengan bergairah
Kami pun saling berpelukan dengan penuh kegembiraan.
Beberapa minggu telah berlalu, akhirnya hari kelulusan pun tiba dan aku berhasil mendapatkan beasiswa itu. Aku berencana akan berjualan kue di kampus nanti, jadi ibu tidak perlu bekerja lagi dan mimpiku tetap terwujud. Ternyata dengan kepahitan yang tersimpan ada rasa manis di peghujungnya. Sekarang aku yakin bahwa luka itu bisa sembuh jika ada penawar yang tepat. Kesabaran, usaha dan doa menjadi tameng untuk menggapai bintang di langit. Kini malamku tak sesunyi dulu, ada kehangatan di dalamnya yang tak ternilai harganya. Raguku meraba mimpi tak lagi jadi alasan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!