Cerpen

Di Balik Kartu Pers

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 11 Oktober 2026 00:45 WIB • 👁 541 Pembaca
Di Balik Kartu Pers
Ilustrasi: Pinterest

Pagi di kampus selalu datang dengan keramaian yang hampir sama. Suara kendaraan memenuhi jalan depan fakultas, mahasiswa berjalan tergesa-gesa menuju kelas, beberapa duduk di selasar sambil menunggu dosen, sementara kantin mulai dipenuhi obrolan. Bagi sebagian mahasiswa, semua itu mungkin hanya rutinitas. Namun bagi Meripam, kampus tidak pernah sesederhana itu. Ia selalu melihat cerita di balik keramaian. Ada mahasiswa yang sedang memperjuangkan sesuatu, organisasi yang sedang berdebat, kebijakan yang membuat sebagian orang resah, atau persoalan kecil yang luput dari perhatian banyak orang. Itulah alasan Meripam bertahan sebagai reporter di pers mahasiswa.

Sudah hampir dua tahun ia mengenakan kartu pers yang tergantung di lehernya. Selama itu, ia belajar bahwa menjadi reporter bukan hanya tentang menulis berita. Suatu sore, Meripam baru saja keluar dari kelas ketika sebuah pesan masuk dari Raka, redaktur pelaksana pers mahasiswa.

"Pam, ke rektorat sekarang. Ada mahasiswa kumpul. Katanya mau audiensi."

Meripam melihat jam. Sudah lewat pukul empat. Ia sebenarnya ingin pulang karena masih memiliki tugas kuliah yang belum selesai. Namun pengalaman mengajarinya bahwa berita tidak pernah datang ketika seorang reporter sedang benar-benar siap. Ia mengambil kamera dari tas dan bergegas menuju gedung rektorat. Sesampainya di sana, beberapa mahasiswa telah berkumpul. Sebagian membawa poster, sebagian merekam menggunakan ponsel. Suasana cukup ramai, tetapi belum ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Meripam tidak langsung menulis, ia mengamati keadaan, mengambil beberapa foto, kemudian mencari mahasiswa yang mengetahui persoalan tersebut. Ia mulai bertanya mengenai tuntutan mereka, alasan audiensi, dan apa yang sudah dilakukan sebelumnya.

"Jangan datang ke lapangan dengan kesimpulan. Datanglah dengan pertanyaan."

Kalimat itu menjadi pegangan Meripam. Ia tidak ingin datang dengan anggapan mahasiswa pasti benar atau kampus pasti salah.

Malamnya, kantor pers mahasiswa masih menyala. Meripam duduk di depan laptop. Beritanya hampir selesai, tetapi ada satu persoalan: pihak kampus belum memberikan tanggapan. Ia tahu berita tersebut bisa saja diterbitkan malam itu. Informasi dari mahasiswa sudah cukup untuk membuat tulisan. Tetapi ia memilih menunggu. "Kalau dari mahasiswa sudah ada, kenapa belum naik?" tanya Raka. "Belum ada konfirmasi dari pihak kampus." Raka mengangguk. "Lebih baik terlambat daripada kita menerbitkan berita yang belum lengkap."

Meripam kembali menghubungi pihak kampus. Pesan dikirim, telepon dilakukan. Hampir tengah malam, tanggapan akhirnya datang. Meripam membandingkannya dengan catatan liputan. Ada beberapa pernyataan yang berbeda dengan apa yang disampaikan mahasiswa. Ia tidak memilih salah satunya. Semua ditulis sesuai konteks.Baginya, pers mahasiswa bukan tempat untuk memenangkan salah satu pihak. Pers mahasiswa harus menjadi ruang yang membuat pembaca memahami persoalan dari berbagai sisi. Ketika berita akhirnya terbit, komentar mulai berdatangan. Ada yang berterima kasih karena persoalan tersebut diberitakan. Ada pula yang menilai pers mahasiswa terlalu berpihak.

Meripam membaca semuanya. Dulu ia mungkin akan merasa kesal. Sekarang ia memahami bahwa kritik adalah bagian dari pekerjaan.Pengalaman tersebut membuat Meripam semakin memahami arti integritas. Integritas bukan sekadar tidak berbohong, integritas juga berarti berani memeriksa ulang informasi ketika semua orang ingin berita segera diterbitkan. Suatu hari, Meripam mendapat liputan tentang seorang mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah. Tidak ada kerumunan atau aksi besar. Hanya sebuah cerita tentang mahasiswa yang harus bekerja setelah kuliah agar tetap bisa bertahan.

Meripam mendengarkan ceritanya hampir satu jam. Semakin lama mendengar, semakin ia sadar bahwa tidak semua bagian cerita pantas dimasukkan ke dalam berita. Ada informasi yang terlalu pribadi. Ada luka yang tidak harus ditunjukkan kepada publik. Ia akhirnya berkata, "Kalau ada bagian yang menurut kamu terlalu pribadi, enggak perlu aku tulis." Mahasiswa itu mengangguk. Saat itu Meripam belajar bahwa menjadi jurnalis bukan berarti mengambil sebanyak mungkin informasi dari narasumber. Ada manusia yang harus dihormati di balik setiap cerita. Bagi Meripam, pers memang menjadi ruang belajar. Namun ruang belajar itu mempertemukannya dengan persoalan nyata. Ia belajar menghadapi narasumber yang sulit ditemui, bekerja di tengah deadline, menerima kritik, dan tetap menjaga prinsip ketika ada tekanan.

Pernah suatu ketika sebuah berita diminta untuk ditunda karena dianggap dapat membuat suasana kampus tidak kondusif. Redaksi kemudian berdiskusi cukup lama. Ada yang ingin tetap menerbitkan. Ada yang memilih menunggu. Meripam sendiri sempat ragu. Namun mereka kembali pada satu pertanyaan: apakah berita tersebut memiliki dasar yang kuat dan sudah melalui proses konfirmasi? Jika jawabannya iya, rasa takut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghilangkan informasi. Raka kemudian berkata, "Kalau kita mulai takut pada siapa yang akan marah, nanti kita lupa siapa yang harus kita dengarkan." Meripam mengingat kalimat itu. Ia sadar, idealisme bukan berarti selalu melawan kampus. Idealisme juga bukan berarti selalu membela mahasiswa. Idealisme adalah keberanian untuk tetap memegang prinsip ketika ada kepentingan yang mencoba memengaruhi pemberitaan. Sore itu, setelah menyelesaikan liputan lain, Meripam duduk di tribun lapangan kampus.

Matahari mulai turun. Mahasiswa perlahan meninggalkan lapangan. Ia melihat kartu pers yang tergantung di lehernya. Setiap kali mengenakannya, ia membawa nama pers mahasiswa bersamanya. Artinya, ia tidak boleh sembarangan menulis. Tidak boleh membuat informasi hanya agar berita terlihat menarik. Tidak boleh mengubah kutipan agar terdengar lebih dramatis. Dan yang paling penting, ia tidak boleh lupa bahwa ada orang yang kehidupannya mungkin ikut terdampak oleh sebuah tulisan. Meripam mulai memahami bahwa pers mahasiswa bukan sekadar tempat membuat berita. Pers mahasiswa adalah bagian dari ingatan kampus. Apa yang ditulis hari ini mungkin akan dilupakan beberapa tahun kemudian. Namun tulisan itu tetap menjadi catatan bahwa pernah ada mahasiswa yang bersuara, pernah ada persoalan yang dipertanyakan, dan pernah ada seseorang yang berusaha mencari jawaban. Ia tidak selalu bisa mengubah keadaan. Sebuah berita tidak selalu membuat kebijakan berubah.

Sebuah liputan tidak selalu menyelesaikan persoalan. Namun setidaknya, ada suara yang tidak hilang begitu saja.

"Meripam!" Suara Raka terdengar dari bawah tribun. "Ada liputan lagi." Meripam tertawa kecil. Ia baru saja duduk, tetapi sudah harus kembali berdiri. "Di mana?" "Fakultas sebelah." Meripam mengambil kamera dan memasukkannya ke dalam tas. Ia berjalan menuju gedung fakultas. Di sepanjang jalan, ia kembali melihat kehidupan kampus seperti biasanya. Mahasiswa yang sibuk, organisasi yang sedang rapat, dosen yang berjalan menuju kelas, dan suara obrolan dari kantin. Bagi orang lain, semua itu mungkin hanya rutinitas.

Bagi Meripam, semuanya adalah kemungkinan cerita. Ia tidak tahu cerita apa yang akan ditemuinya. Mungkin hanya sebuah kegiatan sederhana. Mungkin persoalan besar. Mungkin berita yang membuatnya pulang larut malam. Namun ia tahu mengapa ia tetap berjalan. Ia tidak menjadi reporter karena ingin terlihat hebat. Ia menjadi reporter karena percaya bahwa setiap orang memiliki cerita dan setiap cerita berhak didengar. Di pers mahasiswa, Meripam belajar bahwa perjuangan tidak selalu berbentuk aksi besar. Kadang perjuangan adalah keberanian seorang mahasiswa untuk menyampaikan keluhan. Kadang perjuangan adalah kesediaan reporter untuk terus mencari fakta meskipun berkali-kali ditolak narasumber. Ia juga belajar bahwa integritas tidak dibangun melalui kata-kata besar, melainkan dari keputusan kecil: memeriksa fakta, mengakui kesalahan, menjaga narasumber, dan menulis apa yang benar-benar terjadi.

Kartu pers di lehernya kembali bergoyang mengikuti langkah. Bagi Meripam, kartu itu bukan sekadar tanda pengenal. Itu adalah pengingat tentang tanggung jawab. Tentang keberanian untuk bertanya. Tentang kewajiban untuk mendengar. Dan tentang sebuah janji untuk tetap jujur, bahkan ketika kebenaran bukanlah pilihan yang paling mudah. Ia membuka buku catatan. Halaman baru. Cerita baru. Meripam tersenyum kecil sebelum akhirnya melangkah masuk ke gedung. Sebagai reporter mahasiswa, ia tahu perjalanan ini tidak akan selalu mudah. Tetapi selama masih ada suara yang perlu didengar dan fakta yang perlu dicatat, ia akan tetap membawa kameranya, membuka buku catatannya, dan berjalan menuju cerita berikutnya.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Noviar Qodri
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.