Nagari Tanah Datar merupakan daerah tertua di Minangkabau, alam Minangkabau dipercaya berdaulat ke Pagaruyung. Sebagai daerah tertua, Tanah Datar banyak ditemui benda-benda cagar budaya serta sejumlah peninggalan sejarah yang menceritakan kerajaan Pagaruyung. Salah satunya sebuah batu besar yang memiliki tiga cekungan kecil dan selalu berisi air. Batu tersebut dikenal masyarakat sebagai Batu Luhak Nan Tigo, batu ini berada di Jorong Padang Data, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar. Batu tersebut tampak seperti dua mata dan satu mulut, diperkirakan berukuran lebar 4 meter, Panjang 14 meter, dan tinggi 10 meter.
Menurut Pak Ilham, salah satu tokoh yang mengetahui cerita mengenai Batu Luhak Nan Tigo, air di dalam tiga cekungan tersebut tidak pernah kering. Bahkan setelah sekitar tiga bulan musim kemarau, air masih tetap terlihat banyak di dalamnya.
Keberadaan air tersebut menjadi salah satu cerita yang terus diwariskan oleh masyarakat. Bagi mereka, air di atas batu bukan sekadar genangan. Air tersebut memiliki cerita dan kepercayaan yang membuat Batu Luhak Nan Tigo dipandang berbeda dari batu-batu lainnya.
Pak Ilham menuturkan, jika berkunjung ke Batu Luhak Nan Tigo hendaknya berkata sopan, tidak takabur, dan mengucap salam saat datang maupun pergi. Air dari batu tersebut juga dipercaya memiliki khasiat tertentu. Salah satunya, orang yang sedang sakit dipercaya dapat meminumnya dengan harapan memperoleh kesembuhan. Air tersebut juga dipercaya dapat digunakan untuk mandi bagi orang yang diyakini terkena gangguan tertentu.
Nama Batu Luhak Nan Tigo dikaitkan dengan tiga luhak dalam kebudayaan Minangkabau, yakni Luhak Tanah Datar disebut sebagai luhak nan tuo, Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, dan Luhak Lima Puluh sebagai luhak nan bungsu. Pembagian tersebut tidak hanya berhenti pada nama. Masing-masing luhak memiliki wilayah penyebarannya sendiri. Luhak Tanah Datar disebut menyebar ke daerah Solok, Pesisir, Pariaman dan sebagainya. Luhak Agam menyebar ke sebagian wilayah Pariaman, Pasaman, dan sebagainya. Sementara itu, Luhak Lima Puluh disebut memiliki penyebaran hingga Payakumbuh, Lima Puluh Kota, Kampar Kiri, Kampar Kanan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan sejumlah wilayah lainnya di Riau.
Cerita tentang tiga luhak juga berkaitan dengan kerajaan Pagaruyung. Dalam penuturan Pak Ilham, ketika Raja Pagaruyung hendak bepergian keluar daerah, ia akan mandi di luhak sesuai yang ingin dituju. Hal tersebut dipercaya melindungi dari bahaya yang ada di daerah tersebut. Sementara apabila tidak pergi keluar wilayah, ia tetap berada di luhak asalnya, yaitu Luhak Tanah Datar.
Di Batu Luhak Nan Tigo juga terdapat seperti sajadah, yang di pergunakan oleh masyarakat yang berkunjung sebagai tempat shalat.
Pak Ilham mengatakan, bagian tersebut dibuat sekitar tahun 1980–1990-an. Cerita yang berkembang menyebut pembangunan tempat salat itu berkaitan dengan kedatangan orang Malaysia yang berkunjung dan ingin salat di batu tersebut.
Batu Luhak Nan Tigo mungkin dapat dilihat secara sederhana sebagai batu besar dengan tiga cekungan yang berisi air dan tidak kering-kering. Akan tetapi, bagi masyarakat yang mewarisi ceritanya, tiga lubang tersebut menyimpan makna dan kepercayaan yang lebih luas.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!