"Kebudayaan adalah jati diri bangsa." Ungkapan ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita khususnya sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan sejarah dan kebudayaan.
Kebudayaan mencerminkan identitas dan nilai-nilai sebuah bangsa, dengan menjaga kebudayaan berarti sama dengan menjaga jati diri dan warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada masa sekarang ini, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat membuat masyarakat lebih fokus dan tertarik akan hal-hal yang berhubungan dengan teknologi digital, seperti internet, media sosial, game dan lain sebagainya.
Hal ini terkadang membuat mereka lupa dan seolah tidak peduli akan sejarah dan kebudayaan yang mereka miliki.
Sebagai bangsa Indonesia khususnya masyarakat Minangkabau banyak sejarah dan kebudayaan yang dapat dilihat dan diketahui baik dari buku sejarah, acara kebudayaan, dan peninggalan sejarah yang dapat dilihat melalui museum.
Salah satu museum yang terdapat di Sumatera Barat, yaitu Museum Adityawarman yang terletak di Jalan Diponegoro nomor 10, Belakang Tangsi, Padang Barat,Kota Padang.
Museum ini didirikan tahun 1977 yang menyimpan beragam benda Kebudayaan Minangkabau, seperti kerajinan tangan, perabot rumah tangga, pakaian adat, serta artefak arkeologi dan sejarah.
Penamaan museum ini diambil dari salah seorang raja Martapura pada abad ke 14. Dimana keberadaan kerjaan ini satu zaman dengan Kerajaan Majapahit.
Jumlah koleksi Museum Adityawarman sebanyak 6.217 koleksi. Koleksi utama Museum Adityawarman dikelompokkan dalam sepuluh macam jenis koleksi, yaitu terdiri dari biologika, geologika/geografika, etnografika, arkeologika, historika, filologika, numismatika/heraldika, keramologika, seni rupa, dan teknalogika.
Sementara itu, Museum ini juga menampilkan koleksi seni rupa, seperti lukisan, ukiran, dan patung karya seniman Minangkabau. Koleksi Museum Adityawarman yang merupakan peninggalan Kerajaan Dharmasraya berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa.
Pada ruang utama museum menampilkan diorama yang mempresentasikan sistem adat yang dimiliki masyarakat Minang dengan penjelasan terkait hubungan kerabatan adat Minangkabau.
Sampai sekarang, Museum Adityawarman masih berdiri kokoh dengan arsitektur khas Minangkabaunya.
Namun, atensi atau perhatian dari masyarakat masih kurang dan perlu ditingkatkan.
Kebanyakan dari mereka yang mengunjungi museum ini hanya untuk memenuhi tugas sekolah, seperti melakukan penelitian, observasi, dan analisis, sehingga mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar ataupun mahasiswa.
Dari observasi dan wawancara yang dilakukan dapat dilihat jarang dari para pengunjung tersebut yang sengaja mengunjungi museum untuk belajar dan menambah wawasan tentang sejarah dan kebudayaan Minangkaba.
Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya sejarah dan kebudayaan.
Koleksi dan peninggalan sejarah yang terdapat di Museum Adityawarman ini masih terbilang cukup banyak dan terawat dengan melakukan perawatan rutin terhadap benda-benda sejarah, kemudian menyimpan semua koleksi dengan baik dan tertata.
Meskipun begitu, daya tarik masyarakat untuk berkunjung yang masih kurang membuat museum sepi pengunjung.
Melalui wawancara yang dilakukan oleh penulis, para pengunjung menyampaikan harapannya terhadap museum ini, yaitu dengan mengadakan beberapa kegiatan menarik di Museum Adityawarman contohnya pameran kebudayaan atau promosi ke sekolah sehingga mereka bisa melakukan acara kunjungan dari kelompok pendidikan.
Selain itu, memberikan edukasi atau pemasaran dan promosi yang lebih intensif dan efektif kepada masyarakat melalui media massa dan media sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebudayaaan.
Pengelola museum juga perlu meningkatkan kualitas layanan, termasuk fasilitas, informasi, dan pengalaman pengunjung secara keseluruhan juga penting untuk mengetahui kesan, pesan dan harapan pengunjung untuk museum kedepannya.
Meskipun dalam penerapannya masih terdapat tantangan baik dari pendanaan maupun dari masyarakat sendiri. Diharapkan dengan langkah-langkah ini, kita dapat melihat perubahan positif dalam meningkatkan sejarah dan kebudayaan Minangkabau.
Saat kita semua berkontribusi dalam upaya ini, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang dapat memahami dan menghargai keragaman budaya yang ada serta melestarikan warisan budaya Minangkabau hingga ke anak cucunya.
Hal itu demi mencegah kebudayaan dan sejarah yang ada tidak hilang karena kebudayaan merupakan salah satu aset berharga dari kekayaan manusia.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!