Artikel

Sejarah Etika Protestan Dalam Dampak Ekonomi Korea Selatan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 9 Juni 2025 23:12 WIB • 👁 492 Pembaca
Sejarah Etika Protestan Dalam Dampak Ekonomi Korea Selatan
Ilustrasi: UCAN Indonesia-UCA News

Korea Selatan kini merupakan salah satu negara dengan ekonomi kapitalisme yang berkembang, yang tercermin dari kemajuan ekonomi mereka. Namun, kondisi negara tersebut sangat kontras dengan keadaannya pada tahun 1960. Setelah melewati Perang Korea, negara tersebut memiliki kekayaan yang lebih buruk dari pada saudara mereka, yaitu Korea Utara. Seperti yang dicatat oleh Eui-Gak Hwang, pada tahun 1960 GDP Korea Selatan tercatat sebesar $79, jauh lebih rendah dibanding Korea Utara yang mencapai $177. Akan tetapi, pada akhir abad-20 Korea Selatan menjadi kekuatan ekonomi regional dan merupakan salah satu negara yang termasuk dalam "Empat Macan Asia".

Perubahan dramatis ini, yang dikenal sebagai Keajaiban Sungai Han (Miracle of Han River), berlangsung selama kurang lebih empat dekade dan mengubah wajah ekonomi Korea Selatan secara menyeluruh. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan yang penting: bagaimana negara yang baru sembuh dari perang dan kedudukan Jepang selama 35 tahun dengan sumber daya alam yang terbatas dapat terbebas dari kekangan kemiskinan tersebut? Budaya etika Protestan dan semangat kapitalis Amerika Serikat, yang dijunjung tinggi sejak zaman Benjamin Franklin, menjadi salah satu faktor kunci kemajuanKoreaSelatan.

Saat Korea mengalami penjajahan dari Jepang yang memaksakan kebijakan Soshe-Kaimei, yang berusaha untuk menghapus kebudayaan dan identitas rakyat Korea, menyebabkan kebudayaan Amerika Serikat dapat tumbuh subur dan menyatu saat mereka membantu Korea Selatan dalam Perang Korea. Walaupun hampir terkikis, etika Konghucu, yang sebelumnya mereka anut juga memiliki peran dalam pertumbuhan ekonomi. Kepercayaan ini telah muncul pada era Kerajaan Joseonyang dipengaruhi oleh status mereka sebagai vasal Dinasti Ming. Etika Konghucu melihat bahwa kedisiplinan, penghormatan terhadap otoritas dan pendidikan sangat penting, hal ini terlihat pada peribahasa Tiongkok, yaitu "seorang sarjana seni membahas buku, seorang tukang daging babi berbicara tentang babi".

Namun Weber menyatakan bahwa Konghucu tidak dapat berdampak terhadap pertumbuhan kapitalisme di Tiongkok, karena etika ini hanya peduli terhadap stabilitas dan harmoni sosial sekaligus tidak menaruh tanggung jawab pribadi melainkan tanggung jawab keluarga, yang berbalikan dari etika Protestan. Protestan melihat individu sebagai alat Tuhan, sedangkan Konghucu melihat individu sebagai bagian dari tatanan sosial yang harmonis. Meskipun etika Konghucu mengakar dalam budaya Korea, ia terbukti tidak cukup mendorong pertumbuhan kapitalisme seperti yang terjadi setelah masuknya etika Protestan

Etika Protestan sendiri menurut Weber adalah "Pemenuhan tugas dalam masalah-masalah duniawi sebagai bentuk paling tinggi yang dapat diasumsikan oleh aktivitas-aktivitas moral dari individu...dunia sebagai tugas" Dari kutipan tersebut kita dapat melihat bahwa menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari—termasuk pekerjaan dan urusan duniawi—merupakan bentuk tertinggi dari aktivitas moral individu.

Dengan kata lain, bekerja keras dan menunaikan kewajiban duniawi bukan hanya soal materi, tapi juga tindakan yang membawa makna moral dan spiritual. Pekerjaan sekecil apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini, maka etika Protestan mewajibkan mereka untuk dilakukan dengan kerja keras, bukan saja karena pekerjaan itu dianggap suci, tapi juga menjadi manifestasi dari panggilan ilahi (Beruf) yang dipercayakan Tuhan kepada setiap individu.

Penerapan etika Protestan di Korea Selatan paling jelas terlihat dalam pertumbuhan Gereja Presbyterian, sebuah denominasi Protestan yang berdasarkan Kalvinis yang dimulai pertama kali di Skotlandia. Dengan bantuan Horace Grant Underwood dan Horace Newton Allen yang merupakan warga Amerika Serikat, ajaran Presbyterian dapat tersebar di Semenanjung Korea. Mengingat Presbyterian sendiri berdasarkan Kalvinis, salah satu alasan mengapa kapitalisme dapat berkembang di Eropa seperti yang dikatakan oleh Weber, maka tidak mengherankan hal ini juga dapat terjadi di Korea Selatan.

Kebijakan Gerakan Saemaul Undong, yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Park Chung-hee memiliki kesamaan dengan etika Protestan. Bahkan kebijakan ini dapat dianggap sebagai adaptasi nilai-nilai Protestan dengan karakteristik Korea. Gerakan ini menjunjung tiga nilai kerajinan, swadaya, dan kerja sama. Tiga nilai tersebut ditanamkan untuk membangun kemandirian desa dan memperkuat mentalitas produktif di tengah masyarakat pascaperang.

Akan tetapi yang hampir memiliki kesamaan paling dekat dengan etika Protestan adalah kritikan Park Chung-hee terhadap mentalitas kemalasan yang ia anggap sebagai hambatan bagi kemajuan ekonomi dan mendorong produktivitas, yang Weber sebut sebagai poin utama mengapa Protestan lebih ahli dalam dunia kapitalisme dari pada Katolik, yaitu dorongan untuk berproduktivitas. Dengan kebijakan-kebijakan yang memiliki kesamaan dengan pendapat Weber tersebut dan kehadiran Chaebol, GDP Korea Selatan meningkat dari $569 pada tahun 1974 menjadi $31.838 pada tahun 2019.

Meskipun begitu, setiap hal yang melalui sesuatu dengan cepat akan mengundang bencana, seperti ikan yang berada di dasar laut, jika di bawa ke permukaan dia akan mati, dan negara yang terlalu cepat mengalami pertumbuhan juga akan mengalami kesulitan. Korea Selatan adalah salah satu negara yang memiliki tingkat kelahiran yang rendah dan tingkat bunuh diri yang tinggi di dunia. Kedua masalah ini memiliki akar yang terletak dengan industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Maka dari itu kita, Indonesia sebagai negara yang mungkin akan berada di posisi Korea Selatan harus berhati-hati terhadap bagaimana keberhasilan ekonomi tidak serta-merta menjamin kualitas hidup yang tinggi secara menyeluruh. Budaya kerja yang sangat kompetitif, tekanan akademik, dan biaya hidup yang terus meningkat telah menciptakan lingkungan sosial yang tidak ramah bagi keluarga dan anak-anak. Akibatnya, banyak generasi muda di Korea enggan menikah, memiliki anak, atau bahkan mempertahankan hidup mereka.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Mhd. Reza Efriandi Harahap
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.