Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, dunia menyaksikan bagaimana sebuah peradaban hancur dalam sekejap. Namun hanya dalam dua dekade, Jepang bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia. Apa yang terjadi dalam jiwa bangsa itu?
Jepang memasuki Perang Dunia II bukan sebagai aktor pasif, melainkan sebagai kekuatan imperialis yang telah lebih dulu memulai ekspansi militernya ke Asia Timur. Sejak awal 1930-an, Jepang menunjukkan ambisinya dengan menginvasi Manchuria (1931) dan kemudian melancarkan perang besar terhadap Tiongkok (1937), yang dikenal dengan nama Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Dorongan ekspansi ini dilandasi oleh ideologi Hakko Ichiu—gagasan bahwa Jepang memiliki misi untuk mempersatukan dunia di bawah kekuasaan Kaisar, serta dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan propaganda yang militeristik.
Pada Desember 1941, Jepang menyerang Pearl Harbor, memicu keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Jepang dengan cepat menguasai sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Filipina, Malaya, Indonesia (Hindia Belanda), dan Burma. Namun, sejak 1943, kekuatan Sekutu mulai membalikkan keadaan. Jepang mengalami kekalahan demi kekalahan hingga puncaknya pada tahun 1945.
Kekalahan Jepang bukan hanya militer, tetapi juga ideologis. Setelah Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan diri Jepang melalui siaran radio pada 15 Agustus 1945 sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya rakyat Jepang dipaksa menghadapi kenyataan bahwa kekaisaran bukanlah institusi suci yang tak terkalahkan. Sejarawan John W. Dower dalam karya monumental Embracing Defeat: Japan in the Wake of World War II (1999), menyatakan bahwa momen ini adalah "kehancuran total dari satu sistem kepercayaan yang telah menjadi fondasi kehidupan sosial dan politik Jepang modern."
Namun ibaratkan sebuah anomali faktuil, kita justru menyaksikan bahwa pasca kehancuran yang dikatakan sebagai "puncak perang" bahkan tidak menyisakan atau bahkan tak terlihat. "Jepang tetaplah Jepang", mungkin itulah slogan yang cocok untuk Negara ini. Betapa tidak,
setelah kekalahan dan trauma yang menjadi alasan perang dunia ini dihentikan, suatu fenomena global, suatu bentuk kekalahan telak bagi Negara dan sipil, justru membuat Jepang menjadi salah satu Negara yang dikategorikan "sangat maju", dan adikuasa. Namun jika narasi ini kita pikirkan, apakah benar perang ini tidak berdampak apa-apa terhadap Negara dan sipil di lingkaran "de facto" Jepang? Dan apakah benar bahwa kejayaan Jepang tidak ada hubungannya dengan narasi Sejarah masa lalu yang dibuat di Negara ini? Pertanyaan- pertanyaan ini akan menjadi dasar dari tulisan ini, tentang bagaimana di Negeri ini matahari ini tak berhenti terbit, tak terlambat dan tentunya masih akan tetap kita tungggu di hari esok.
Mendikte Sejarah dan Mentalitas
Sebelum kekalahan pada tahun 1945, mentalitas kolektif bangsa Jepang sangat dipengaruhi oleh semangat militeristik, nasionalisme ultra, dan kultus terhadap Kaisar. Sistem pendidikan sejak era Meiji telah menanamkan nilai loyalitas mutlak kepada negara dan Kaisar. Etos ini diperkuat oleh prinsip Bushido (kode etik samurai), yang menekankan kehormatan, keberanian, dan pengorbanan diri demi atasan atau negara.
Dalam tulisan yang dibuat oleh pihak Amerika, mereka menyebutkan bahwa Jepang Pra- Perang bukanlah seperti apa yang kita lihat sekarang, rakyat Nippon sangat akrab dengan keterlambatan, feodalisme akut, dan segala hal yang mengganjal ini dibuat menjadi lebih "chaos" pasca kekalahan Jepang terhadap sekutu. Keterpurukan ekonomi juga sudah pasti menjadi efek domino lansung dari kekalahan ini, roda kekalahan ini seakan berhenti ditempat dengan menempatkan Jepang di Posisi tapak terbawah. Pada saat itu Jepang bergantung pada Rakyat-rakyat yang takut, tak punya mentalitas, meruntuhkan semua semangat yang mereka bangun selama berabad-abad, semua ini akibat dari ledakan Fat-Man dan Little Boy itu.
Presiden Ke-7 Indonesia mungkin sedikit terinpirasi oleh Jepang dalam slogan "Revolusi Mentalnya", sebab pada tahun 1947 sang Kaisar Jepang meluncurkan pedoman Gerakan Rekonstruksi Nasional yang menandai bahwa Nippon tak mau berlarut-larut dengan kekalahan ini. Dalam pedoman ini, hal yang paling sentral dan prioritas adalah sektoral pendidikan. Kalimat sang kaisar yang berbuny "Berapa Guru lagi yang tersisa di Negeri ini?" seakan menjadi bukti nyata, bahwa langkah pertama dari sebuah Revolusi adalah masyarakat yang terdidik.
Tak lepas dari isu pendidikan, Historigrafi Nasional Negara Jepang juga di rombak secara ekstrem, ketidakmandirian historis ini yang kemudian diubah jika kita mencari bentuk progresif dari sejarah nasional Jepang Pasca Perang Dunia II.
Dalam Tulisan Matthew Nelson, Mentalitas Feodal Jepang yang berpegangan dengan tiang Bushido dan Konfusianisme ini sudah lestari sangat lama, keseriusan ini dilihat dari berdirinya Biro Historiografi yang dibentuk diawal Restorasi. Biro ini tergabung kedalam Universitas Kekaisaran Tokyo pada tahun 1888, dan akhirnya berganti nama menjadi Institut Historiografi pada tahun 1929, nama yang digunakan saat ini. Biro ini menciptakan banyak Propaganda Historis yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan Jepang pada masa itu.
Namun bangunan ini dipaksa runtuh oleh keadaaan, perang dan kekalahan membuat Jepang memilih untuk mengubah rencana invasif yang dibangunnya selama ratusan tahun belakangan. Jepang punya rencana baru, dan rencana ini harus didukung oleh beberapa aspek, dan tak terkecuali Pendidikan Sejarah Nasionalnya.
Belajar dari Jepang
Jika Jepang berlaku jujur dalam penulisan sejarah, mungkin Jepang akan merangkum beberapa kekejaman invasif kebeberapa Negara Asia Pasifik, dan sejarah ini mungkin akan berpuncak pada kekalahan telak di tahun 1945 itu. Tentu jika narasi ini dikemukakan secara vulgar dan frontal, jawaban lansungnya adalah sebuah traumatik historis. Sebuah pilihan yang salah jika narasi sejarah diceritakan sebaliknya dari apa yang rakyat Jepang pelajari saat ini.
Sejarah Nasional Jepang seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak menceritakan beberapa kekejaman mereka di kawasan Asia-Pasifik. Tulisan sejarah di Negara ini semuatan bermuatan Nasionalis dan memupuk mentalitas. Segala isu traumatis di filter sedemikian sehingga masyarakat Jepang secara Mayoritas bahkan tak tahu bahwa di masa lalu terdapat invasi ke beberapa Negara tetangganya.
Penulisan sejarah yang terfilter ini menjaga beberapa kepercayaan individu bangsa Jepang, sebuat statement bahwa Bom Atom Hirosima tak merenggut semua hal yang ada di Jepang, mereka masih punya mental adikuasa, dan hal ini harus dijaga oleh penanaman historis yang sesuai, contohnya penghilangan fakta-fakta traumatis.
Memori kolektif perang tetap dijaga oleh sejarah Jepang diwujudkan dalam bentuk sastra, film, dan budaya populer yang banyak mengangkat tema trauma dan refleksi. Film-film seperti Grave of the Fireflies (1988) dan karya penulis seperti Oe Kenzaburo menyoroti penderitaan rakyat sipil dan absurditas perang. Dalam analisis sejarawan Carol Gluck, narasi budaya Jepang pascaperang berkembang dengan dua wajah: satu yang heroik dan membangun, dan satu lagi yang penuh luka dan penyesalan (Japan's Modern Myths, 1985).
Penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam penulisan Sejarah Jepang dalam Perang Dunia II dan masa sesudahnya bukan hanya kisah tentang kekalahan dan kehancuran, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa dapat membangun kembali dirinya dengan fondasi baru: perdamaian, kerja keras, dan refleksi moral. Dari bangsa militeristik yang menjadikan perang sebagai kebanggaan, Jepang bertransformasi menjadi simbol kemajuan ekonomi dan etos kerja yang disegani dunia.
Pelajaran paling mendalam dari Jepang adalah bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada sumber daya alam atau kecanggihan teknologinya, melainkan pada karakter kolektif, kesadaran sejarah, dan kemauan untuk berubah. Jepang membuktikan bahwa trauma sejarah bukan akhir segalanya. Sebaliknya, jika diolah dengan jujur dan dijadikan batu loncatan, trauma itu bisa menjadi dasar kebangkitan nasional yang kokoh.
Bagi Indonesia dan dunia, pengalaman Jepang menjadi cermin yang jernih: perubahan besar hanya mungkin terjadi ketika bangsa mampu mengakui kesalahannya, mendidik rakyatnya secara kritis, dan memupuk semangat kolektif untuk maju tanpa melupakan masa lalu.
Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!