Demokrasi kerap dikenal sebagai ruang berpartisipasi yang menjadi wadah dalam kebebasan berekspresi. Namun terlihat nyata, dalam kehidupan saat ini hal itu tidak menjadi filosofi nyata seperti yang kita ketahui. Di usia remaja yang saat ini tergolong muda harus menerima kenyataan bahwa demokrasi kian mati dan kehilangan makna. Dikutip dari Kumparan.com, survei CSIS (2022), menyatakan sekitar 87,8% anak muda Indonesia merasa demokrasi penting, namun hanya 33,3% yang merasa suaranya benar-benar didengar oleh pemerintah. Artinya, ada jarak besar antara semangat partisipasi dan kenyataan di lapangan.
Ironisnya, demokrasi yang seharusnya tumbuh dengan gagahnya justru layu di tangan generasi muda yang mestinya menjadi pewarisnya. Banyak remaja dan mahasiswa merasa bahwa kritik mereka kerap diabaikan, bahkan dianggap ancaman. Mengkritisi hal dengan lantangnya bukannya di jadikan suatu batu loncatan terhadap perubahan justru dinilai pedang tajam yang menghancurkan stabilitas. Padahal, stabilitas sejati bukan berarti membungkam suara berbeda, melainkan mampu mengelola perbedaan demi mencapai solusi bersama.
Fakta di lapangan menunjukkan banyaknya suara rakyat yang dibungkam, terancam, bahkan disudutkan. Seolah kebenaran tidak pantas untuk disinarkan. Bahkan lembaga pers yang sudah tertera bertugas menyampaikan fakta dan data dengan kenyataan yang ada justru dituntut untuk menghapus berita yang sesuai pada realitanya. Kondisi ini menimbulkan ironi besar, demokrasi seolah hidup di atas kertas, tetapi nyatanya mati di tangan si pembuat kebijakan.
Generasi muda khususnya mahasiswa, mestinya memiliki kesempatan lebar untuk menumbuhkan pola pikir kritis, bukan malah diarahkan pada satu versi kebenaran yang dibatasi. Bila situasi ini berlanjut, demokrasi akan menjadi kata-kata hampa tanpa substansi. Akibatnya, bangsa ini akan kehilangan generasi yang berani bersuara, digantikan oleh mereka yang apatis, penurut, dan enggan memperjuangkan kebenaran.
Jika kondisi ini dibiarkan, apa yang tersisa dari demokrasi hanya omong kosong. Demokrasi akan mati sebelum sempat tumbuh di tangan penerus bangsa. Inilah saatnya remaja dan mahasiswa bukan hanya jadi objek kebijakan, tetapi subjek yang berani memperjuangkan kembali ruang kebebasan berbicara. Karena sejatinya demokrasi bukan hadiah dari pemerintah, melainkan hak yang harus dijaga dan diperjuangkan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!