Evergreen

Bahaya LGBT bagi kesehatan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 5 April 2026 09:43 WIB • 👁 880 Pembaca
Bahaya LGBT bagi kesehatan
Ilustrasi bendera LGBT. f/Ilustrasi

LGBT saat ini memang menjadi sorotan di kalangan mahasiswa, terutama seiring munculnya berbagai komunitas yang mulai terbuka menunjukkan diri di ruang publik. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa LGBT bukanlah bentuk variasi seksual yang wajar, melainkan sebuah penyimpangan atau kelainan seksual yang dapat dicegah apabila didukung lingkungan yang sehat, pengetahuan yang memadai, kesadaran, serta tindakan yang tepat.

LGBT merupakan akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender, yang menggambarkan kelompok dengan orientasi seksual atau identitas gender berbeda dari norma heteroseksual tradisional. Istilah ini mulai populer sejak 1990 an untuk menggantikan sebutan "komunitas gay" agar lebih inklusif.

Secara rinci, istilah ini merujuk pada

- Lesbian: perempuan yang tertarik pada perempuan.

- Gay: pria yang tertarik pada sesama pria.

- Biseksual: tertarik pada lebih dari satu jenis kelamin.

- Transgender: ketidaksesuaian antara identitas gender dengan jenis kelamin biologis yang diperoleh sejak lahir.

Perkiraan jumlah LGBT di Indonesia menurut Central Intelligence Agency (CIA) mencatat sekitar 3 persen atau 7,5 juta jiwa penduduk Indonesia berada dalam spektrum LGBT. Di sisi lain, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan adanya sekitar 1.095.970 jiwa atau 0,44 persen dari total penduduk Indonesia yang teridentifikasi sebagai kelompok berisiko termasuk pria yang berhubungan seks dengan pria dan kelompok dengan perilaku seks non heteroseksual.

Beberapa penelitian dan studi lokal menegaskan bahwa penyebaran perilaku homoseksual dan identitas gender non biner cenderung meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang intens bergaul melalui media sosial dan lingkungan pergaulan bebas.

Angka ini menjadi indikator bahwa isu LGBT tidak bisa lagi diabaikan, melainkan perlu menjadi fokus edukasi, perlindungan keluarga, serta penguatan nilai moral dan keagamaan di masyarakat.

Dikutip dari http://rsud.padangpanjang.go.id, terdapat beberapa dampak kesehatan serius yang dikaitkan dengan perilaku seksual homoseksual dan identitas gender non biner.

1. Kanker anal

Praktik seks anal yang sering dilakukan kelompok gay berpotensi meningkatkan risiko infeksi human papillomavirus (HPV). Studi kesehatan menunjukkan bahwa pola seksual berisiko tinggi tersebut berkaitan erat dengan naiknya angka penularan infeksi dan penyakit kanker di sekitar anus dan dubur, terutama pada kelompok laki‑laki yang berhubungan seks dengan laki‑laki (LSL).

2. Kanker mulut

Kebiasaan melakukan oral seks juga dikaitkan dengan munculnya kanker mulut pada sebagian kasus, karena HPV dapat menyebar melalui kontak seksual oral. Beberapa jurnal kedokteran menegaskan bahwa rokok bukan lagi satu‑satunya penyebab utama kanker mulut, melainkan faktor seksual, termasuk perilaku seks oral, juga berperan signifikan dalam meningkatkan risiko tersebut.

3. Meningitis

Meningitis dapat terjadi akibat infeksi mikroorganisme, penyalahgunaan obat, atau peradangan dalam tubuh. Beberapa literatur kesehatan menyebut bahwa infeksi tertentu dapat menyebar melalui aktivitas seks berisiko, termasuk pada kelompok dengan pola seksual menyimpang, sehingga menempatkan mereka pada kelompok rentan terhadap infeksi sistem saraf dan komplikasi berat lainnya.

4. HIV/AIDS

Berdasarkan berbagai penelitian, kelompok dengan perilaku seks non‑monogami dan berisiko tinggi, khususnya gay dan laki‑laki yang berhubungan seks dengan laki‑laki (LSL), memiliki angka penularan HIV/AIDS yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi heteroseksual berisiko rendah. Pola pergaulan seksual lepas, tanpa pengaman, dan dengan banyak pasangan menjadi faktor utama dalam peningkatan kasus penyakit menular seksual tersebut di Indonesia dan global.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Zahroh Salsabila Basir
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.