Resensi

Ketika Lesbian Menjadi Pilihan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 8 Maret 2011 08:55 WIB • 👁 8.314 Pembaca

Judul : Un Soir du Paris (satu petang di Paris)

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2010

Tebal : xvii + 127 halaman

Cinta, siapa yang tidak kenal dengan kata cinta, mulai dari kalangan remaja hingga dewasa dan tua pasti kenal dengan cinta. Tidak sedikit orang yang menderita karena cinta, dan banyak juga yang bahagia karena cinta. Cinta hadir antara relasi manusia, pria dan wanita. Tapi bagaimana cinta yang hadir di antara sesama jenis? Lesbian, adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang menyukai atau mencintai sesama wanita. Apakah itu pantas disebut cinta? Atau malah hal yang dianggap tabu, menjijikan dan lainnya?

Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi siapa sangka banyak di antara kita yang memilih berpasangan dengan sesama jenis. Meski mereka ada namun mereka selalu menahan diri untuk tidak mengumbar status hubungan yang mereka jalani. Masyarakat selalu menilai bahwa relasi seks yang benar hanya ada antara perempuan dan laki-laki, seperti yang kita ketahui wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Relasi sosial di luar itu dianggap tabu, dosa, menjijikan, tidak bermoral, penyimpangan, dan penyakit.

Apa jadinya lesbian dikaitkan dengan sastra. Mungkin saja ini terjadi. Karena sastra bergelut dalam dunia seni berimajinasi dan lesbian adalah suatu relasi antar manusia yang dianggap tabu dan menjijikan. Lewat gabungan dua hal ini hadirlah beberapa cerita pendek yang mengupas cita rasa yang ada di balik dunia lesbian.

Tidak banyak buku-buku mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), baik fiksi maupun non-fiksi di Indonesia. Maka hadirnya buku Antologi Cerpen Un Soir De Paris, membuka kembali jalan menuju dunia lesbian. Di dalamnya terdapat 12 cerita pendek yang dikarang oleh 12 penulis populer di Indonesia.

Seno Gumira Ajidarma menulis Dua Perempuan dengan HP-nya. Kisah itu, sesuai judulnya, mengenai Susan dan Sandra, dua perempuan (yang saling cinta) dan sibuk bicara melalui ponsel untuk mengurus persoalan asmara mereka. Sandra dengan manis mengatur urusan rumah, tentang apa yang harus dilakukan si pembantu, mulai dari menutup jendela rapat-rapat sampai memberi makan kucing dan anjing peliharaannya, dan ia mengakui keberadannya bersama Susan. Adapun Susan, berbicara keras dengan sekretaris suaminya, mengabarkan ia tak bisa bertemu sang suami, lantaran sekretaris itu adalah simpanan suaminya.

Susan dan Sandra adalah pasangan lesbian. Dari pembicaraan Susan dan Sandra yang dituliskan seperti saling menimpali kita dapat memahami masalah mereka. Selain preferensi seksual yang berbeda, kehidupan mereka sebetulnya sama dengan kehidupan normal lainnya. Dengan kata lain kaum lesbian bukanlah orang-orang dari antah berantah dengan kehidupan yang aneh. Jadi, untuk apa kita membedakan sikap terhadap mereka selama tak bertentangan di ruang publik? Lantaran kita sudah telanjur menilai mereka berbeda dan ‘berdosa’, alangkah baiknya kita mengoreksi diri sendiri dan merubah cara pandang.

Ucu Agustin, dalam cerpen Lelaki yang Menetas di Tubuhku, Ucu pun mempertanyakan kenapa cuma dua jenis kelamin di dunia yang penuh ragam ini, seperti penggalan cerita di bawah ini Ucu menceritakan keresahannya, "Bahkan, kenapa harus ada kata depan ‘jenis’ untuk kelamin. Mengapa bukan ‘macam’ atau ‘tipe’ saja? Siapa yang mula-mula menyebut perbedaan itu dengan ‘jenis kelamin’? Kenapa kalian hanya membaginya cuma dua? Kenapa kata itu hanya untuk ‘lelaki’ dan ‘perempuan’ saja? Jawablah! Sebab aku adalah perempuan, namun ada lelaki yang menetas di tubuhku." Terasa jelas Ucu menggugat norma yang terbentuk di masyarakat.

Selain dua kisah itu, masih ada 10 cerpen lain. Triyanto Triwikromo menulis cerpen Cahaya Sunyi Ibu, Linda Christianty dengan Danau, Twist yang menarik ditawarkan Agus Noor (Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos), Stefanny Irawan (Un Soir du Paris), dan Ratih Kumala dalam Tahi Lalat di punggung Istriku, dan beberapa karya penulis lainnya.

Lewat buku kumpulan cerpen Un Soir du Paris, para pengarang mencoba menghadirkan hal-hal tabu yang terdapat dalam dunia lesbian. Mulai dari kisah percintaan, perjuangan mereka dalam mencari cinta dan hal lainnya. Dari buku ini kita akan dapat mengetahui kisah di balik dunia lesbian.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah TM 2008

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Chandra Firman
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.