Baju Dipakai Samakin Usang, Adaik Dipakai Mangko Baru
Siang itu, bunyi petasan dan pukulan bedug yang diselingi dengan pukulan gong tak henti-hentinya dilantunkan. Bunyi itu kian terdengar ketika bus kampus UNP yang membawa rombongan Mahasiswa Konsentrasi BAM Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah UNP memasuki lokasi perhelatan, tepatnya di kenagarian Sungai Geringging, Pariaman. Setelah turun dari bus, rombongan langsung disambut oleh Mamak kapalo alek (Si Pangka) selaku tuan rumah, Sabtu (25/12).
Tak hanya sampai di situ, dari jarak yang tidak terlalu jauh dari gerbang masuk, sebuah tarian adat mulai juga diperagakan. Dua kelompok penari membawakan Tarian Galombang. Kelompok penari yang beranggotakan tujuh orang ini mulai memperagakan gerakan yang disebut langkah nan ampek. Tangan terbuka dengan jari yang melentik, para lelaki itu menunjukkan kebolehannya. Tarian ini semakin semarak dengan musik tradisional yang dihasilkan dari tingkahan berbagai gendang segala ukuran.
Gerakan mundur, merupakan kepunyaan dari kelompok Si Pangka (tuan rumah) sedangkan kelompok Tamu, gerakan kunci mereka adalah maju terus hingga Janang, yang menjadi pemimpin upacara tampil ke tengah dengan langkah dan gerakan pemain pencak di kala melerai perkelahian. Tarian ini terlihat berbeda dengan pencak karena tidak ada gerakan penyerangan dan mengintai lawan.
Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang tuo (laki-laki tua) yang memberikan aba-aba di setiap pertukaran gerakan. Hanya dengan tepukan tangan yang diiringi dengan suara hap, ta, hep, gerakan akan berganti ke gerakan berikutnya.
Di Minangkabau, Tarian Galombang ditampilkan hanya pada acara-acara perjamuan besar, seperti dalam upacara perkawinan dan penobatan penghulu. Pada kesempatan kali ini adalah upacara penobatan penghulu. Tepatnya acara Pengukuhan Gelar Rang Kayo Bintaro Batu Gadang dalam Prosesi Adat Iduik Mangulipah dari H.M. Rauf Rang Kayo Bintaro kepada Yusrizal, S.Pd Rang Kayo Bintaro Basa Adat Nan Balingkuang Aua Kuranji Sabatang Panjang Kelarasan XII Koto yang berkedudukan di Batu Gadang Kuranji Hulu Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman.
Rasa penasaran akan perhelatan yang sedang diadakan pun kian muncul. Dengan berseragam batik, mahasiswa UNP terlihat sibuk mewawancarai. Apa yang mereka lakukan terlihat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh tamu-tamu yang lain, yang hanya menikmati hidangan yang disediakan. Dengan bermodalkan buku tulis dan pena, mahasiswa yang berjumla 75 orang mulai mewawancarai tokoh masyarakat. "Tugas kita adalah untuk merekam dan mendiskripsikan prosesi acara," ujar salah seorang di antara rombongan dari UNP.
Antusias untuk mengikuti perhelatan acara adat ini juga diakui oleh Rika Astuti. Menurutnya dengan adanya model pembelajaran yang terjun langsung ke lapangan menjadikan mahasiswa tidak bosan dalam melaksanakan tugas akhir. "Di samping penyelesaian tugas, juga menambah pengetahuan akan kekayaan adat di Minangkabau ini," akunya, ( 10/2)
Kesempatan dalam mewawancarai pemangku adat juga menjadikan pengalaman tersendiri yang dirasakan Rika. Di tengah-tengah prosesi acara berlangsung, ia mendapatkan kesempatan mewawancarai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau(LKAAM) Padang Pariaman. "Pengalaman menarik yang pernah saya rasakan," serta "Apresiasi beliau terhadap kami pun luar biasa," kenangnya.
Kebanggaan Ketua LKAAM pun terlihat ketika ia menjawab dengan serius dan menerangkan tentang prosesi acara kepada mahasiswa yang hadir ketika itu. Ia mengatakan keterlibatan mahasiswa selaku generasi muda dalam menggali ilmu tentang adat akan menjadi sebuah kekokohan akan budaya, khususnya di Minangkabau. "Sehingga akan adanya pelestarian budaya yang lebih baik untuk masa yang akan datang," ungkapnya.
Adanya proses pembelajaran yang terjun langsung ke masyarakat memang sengaja dilakukan pada Program Studi Konsentrasi BAM UNP. Prodi ini tergolong usia masih muda di UNP. Prospek jurusan ini adalah untuk menghasilkan guru BAM yang handal dan profesional. Untuk mencapai itu, maka dilakukan proses pembelajaran yang melibatkan mahasiswa untuk terjun langsung ke lapangan. Sebagai pembelajaran bagi mahasiswa BAM sendiri dalam memperkaya khazanah budaya dan pegangan untuk dilapangan nantinya.
Kegiatan ini juga terkait dengan mata kuliah Pasambahan Dan Pidato Adat Minangkabau. Hal ini disampaikan oleh Drs. Amril Amir, M.Pd., selaku dosen pembimbing. Ia mengatakan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini agar mahasiswa bisa melihat aplikasi antara yang terjadi di lapangan dengan teori yang dipelajari di kelas. "Sehingga teoretis dan praktisnya sejalan," ungkapnya, Senin(28/2).
Ia mengharapkan dampak yang diperoleh mahasiswa dengan cara terjun langsung ke lapangan tidak hanya sekadar tahu dengan prosesi adat, namun juga mengerti tahap demi tahap rangkaian acara dan apa saja persiapan yang di lakukan untuk kelangsungan acara. "Saya berharap mahasiswa Program Studi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Konsentrasi BAM ini akan lebih dikenal," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!