Apa hubungannya asisten staf perkebunan dengan training ala tentara?
Jam 09.00 pagi. Di dalam lapangan sepakbola Sungai Rokan Training Centre, 28 calon asisten staf Perkebunan Sinar Mas (PSM) tengah mengikuti pembinaan mental fisik dan disiplin (Bintalfisdis). Semuanya lelaki. Mereka menggunakan pakaian serba hijau pekat. Baju kaus berlengan panjang dan celana gunung. Topi hitam melekat di atas kepala mereka yang plontos. Dua orang pelatih dan lima orang satpam perkebunan sedang memberikan instruksi. Dua pelatih itu adalah pensiunan tentara. Dua-duanya memegang peluit.
"Ayo, Jongkok! Jongkok, Kalian!" Salah seorang pelatih berteriak. Teriakan itu juga dibarengi dengan teriakan berikutnya. Suasana setiap pagi yang biasanya hanya dipenuhi oleh suara nyaring burung sriti yang ramai bertengger di kabel-kabel dan tiang listrik daerah sekitar lokasi training, sekarang pecah oleh suara-suara teriakan dari pelatih dan satpam.
Segera, semua peserta training itu menekuk lutut. Kedua berada di belakang kepala. Kemudian, mereka diperintahkan berjalan dalam posisi berjongkok. Semuanya bergerak maju. "Kalian ini kan laki-laki!" Suara pelatih dan satpam saling himpit.
Puas berjalan jongkok, peserta training disuruh berguling-guling di tanah. Juga disertai dengan teriakan-teriakan dari pelatih dan satpam.
Hari itu Senin, 31 Januari, merupakan hari pertama training bagi 28 peserta, sebelum akhirnya diangkat sebagai asisten staf Perkebunan Sinar Mas. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebenarnya ada 30 peserta yang akan mengikuti training. Namun, dua dari mereka mengundurkan diri.
Training akan dilaksanakan selama 6 bulan. Seminggu dari tiga bulan pertama, mereka akan diberikan bintalfisdis, selanjutnya outbond dan teori. Pada Tiga bulan kedua, mereka akan terjun langsung ke lapangan. Memasuki wilayah perkebunan kelapa sawit di daerah Sungai Rokan milik Sinar Mas. Setelah enam bulan, mereka akan ditempatkan bekerja di cabang PSM yang ada di Nusantara.
***
Sigit Sadmono berumur 50 tahun. Kulit kuning langsat. Beraksen jawa. Sigid menjabat sebagai manajer PSM V sekaligus koordinator training perkebunan. Ia juga pengajar peserta training dalam materi agronomi. Pada 1989, ia diterima sebagai asisten staf PSM angkatan keenam. Sewaktu awal lulus seleksi, ia juga mendapatkan training yang sama. "Itu sudah biasa." Jawabnya menyoal pembinaan yang diberikan kepada peserta training. Ia mengaku, bahkan mendapatkan perlakuan lebih parah. Sejak empat lima tahun lalu, ia menetap di kompleks perkebunan.
Jadwal peserta training padat. Dari bangun pagi, upacara, sarapan, kegiatan training, jadwal salat wajib hingga piket malam. Semua sudah ada jamnya masing-masing. Jika malam, mulai dari puku 22.00-05.00 pagi, setiap peserta mendapatkan jatah untuk piket selama satu jam. Ada tujuh orang yang piket tiap harinya. Bagi yang mendapatkan bagian pukul lima pagi, diberi dispensasi untuk tidak ikut senam pagi. Setelah sarapan, kegiatan ala tentara dimulai. Peserta training melakukan kegiatan baris-berbaris. Untuk gerakan ‘istirahat di tempat’ saja, menghabiskan waktu setengah hari. "Bukan untuk merusak. Malah akan menguntungkan mereka nanti," ungkap Sigit.
Menjadi seorang asisten staf perkebunan bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kedisiplinan. Juga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menjalankan tugas. Misalnya, di PSM V Sungai Rokan ada lahan sawit seluas 70.000 hektare. Saat ini, staf perkebunan lebih kurang 300 orang. Untuk satu orang asisten staf bisa membawahi hingga 150 karyawan perkebunan dan mengawasi lahan kelapa sawit seluas 800-1000 hektare. Ia harus memeriksa pekerjaan karyawan; apakah pohon dan buah sawit terawat dengan baik atau tidak, terpanen pada saat yang tepat atau tidak, mengawasi pengiriman buah sebelum produksi, dan tugas-tugas lain. "Kuncinya itu disiplin." Tegas Sigid. "Bagaimana mereka nanti melaksanakan tugas dengan baik, jika diri mereka tidak disiplin."
***
"Sinar Mas!" Teriak salah seorang peserta training PSM di depan pintu ruang makan. Dia mengucapkan itu sambil melangkahkan kaki kiri dan mengayunkan tangan kanan. Lalu, menyusul peserta kedua. Dia juga melakukan hal yang sama. Demikian seterusnya sampai 28 peserta berada di ruang makan. Yang sudah berada di ruangan segera mengambil makanan dengan tenang. Yang baru masuk, ngantri di belakang. Kemudian mereka menempati meja yang telah ada di ruangan itu. Setiap meja biasanya diisi oleh 3-4 peserta. Mereka tidak langsung menyantap makanan. Mereka menunggu hingga semua peserta selesai mengambil makanan di meja saji.
Dua orang peserta berdiri berhadapan dengan jarak dua meter. Salah satu dari mereka melaporkan bahwa makanan telah siap. Yang satu lagi menerima laporan sembari mengatakan; "Laksanakan!". Mereka saling melakukan gerakan tangan penghormatan.
"Marilah berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!". Beberapa detik kemudian, suara denting sendok yang beradu dengan piring mulai terdengar. Calon asisten staf perkebunan mulai menyantap makanan.
***
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!