Feature

Menyelam untuk Rumah Ikan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 3 Mei 2011 06:45 WIB • 👁 2.548 Pembaca

Minggu pertama bulan Desember 2010 lalu, menjadi perjalanan akhir pekan bagi Penyelam Yayasan Minang Bahari dan empat orang sukarelawan Penyelam Proklamator Universitas Bung Hatta (UBH). Tim ini akan melakukan penyelaman untuk memasang terumbu dari beton untuk rumah baru ikan. Pembuatan rumah baru ikan ini bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Padang Pariaman. Berangkat dari pelabuhan Muaro Padang menuju Pulau Tangah, Padang Pariaman. Kurang lebih tiga jam perjalanan dengan kapal nelayan berkekuatan 190 PS menyisir Pantai Padang, Pasir Jambak dan sampailah pada tujuan akhir yaitu Pulau Tangah. Begitu kapal motor mendekati Pulau Tangah, anak buah kapal segera membuka palka yang berisi ratusan beton. Beton-beton itulah yang nantinya akan disusun di bawah air sebagai terumbu buatan untuk rumah ikan yang baru.

Selanjutnya, Samsuardi pimpinan tim dan sukarelawan dari Diving Proklamator yang juga mantan ketua BEM UBH Mubruri Tanjung, bersiap-siap untuk turun dan memasang pelampung tanda tempat penurunan beton-beton tersebut. Yaser Arafat mulai mengatur peralatan selam, sedangkan tim yang lain melakukan briefing untuk menyamakan persepsi tentang bentuk dan struktur beton yang akan disusun di bawah air. Pada akhir briefing, dilakukan simulasi dan peragaan penyusunan beton-beton yang dijadikan terumbu buatan di darat. Simulasi penting dilakukan mengingat bahwa nantinya tim tidak hanya sekadar menyelam tapi juga bekerja di bawah air.

Beton yang akan disusun ini dibuat dari bahan semen dengan rangka dasarnya besi. Konstruksi terumbu buatan ini seperti piramid. Terdapat 14 balok yang terdiri dari: sembilan balok beton untuk dasar, empat balok untuk tinkat dua dan satu balok untuk puncak dengan ukuran yang sama yaitu 50 cm x 50 cm dengan berat sekitar 50-60 kg. Kami harus menyusun beton-beton itu. Pada penyelaman pertama, tim kami memutuskan untuk melakukan orientasi (penyelam fun) dan menentukan titik lokasi pemasangan lebih dulu. Titik lokasi pemasangan (stasiun) ditentukan berdasarkan kondisi terumbu karang yang telah hancur atau rusak. Hal ini menyebabkan ikan-ikan sudah kehilangan rumah dan tempat mencari makan dan berdasarkan pada kondisi perairan yang datar (flat) dan tidak curam (slope).

Kedua faktor tersebut cukup penting mengingat terumbu buatan ini dapat dikatakan sebagai pengganti rumah ikan yang telah hancur. Dasar perairan yang datar supaya beton-beton yang akan dipasang tidak mudah lepas antara satu dengan yang lainnya. Pada lokasi ini masih ditemukan pulau beberapa koloni karang keras yang cukup bagus seperti karang meja (table coral), karang masif (massive coral), dan karang jamur (mushroom coral). Sedangkan ikan yang terlihat di lokasi antara lain ikan buntal (Arothron stellatus), ikan kerapu (Epinephelus sp), ikan Moon Wrase (Thalassoma lunare), dan segerombolan ikan ekor kuning (Caesio sp).

Cuaca yang cerah sangat mendukung kami dalam melakukan aktivitas yang menantang ini. Tim kami dibagi menjadi dua tim kecil di mana masing-masing tim kecil terdiri dari empat diver (dua buddy). Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengefektifkan tugas dan lebih menghemat tabung udara. Saya sendiri termasuk dalam tim pertama bersama ketua tim dan dua penyelam dari Diving Prokalamator UBH. Tim pertama empat diver turun pada kedalaman 9-12 meter. Begitu sampai di dasar, beton pertama dengan ukuran 50 cm x 50 cm dan berat sekitar 50-60 kg diturunkan dari kapal dengan bantuan tali. Kami menjemputnya lalu menempatkannya pada tempat yang datar, sedangkan talinya tetap di ikatkan dengan tujuan sebagai rel penurunan beton-beton selanjutnya. Ada 36 beton yang berukuran sama dan harus kami susun dalam tiga tingkat saling bersilangan.

Menyusun 36 balok beton dengan ukuran dan berat yang sama untuk menjadi satu rangkaian piramid tidak semudah yang kami simulasikan pada waktu di darat. Ada beberapa hal yang membuat kami kesulitan dalam menyusun beton tersebut, seperti arus pada waktu kami menyelam, tidak semua beton yang diturunkan dari kapal jatuh pada titik yang sama, belum lagi faktor kejernihan air yang cukup mempengaruhi dalam penglihatan. Hal-hal itulah yang membuat kami harus mencari cara yang efektif dan efisien untuk membuat rumah ikan yang baru.

Tabung (pressure gauge) yang berada pada selang regulator telah menunjukkan posisi 500 Psi, berarti tim pertama harus naik ke permukaan dan digantikan dengan tim kedua. Pada kedalaman ini kami berhasil menyusun sekitar empat piramid, berarti empat rumah baru untuk ikan sudah kami susun di kedalaman 10-12 meter. Jam 16.00 WIB, setelah mengambil poto di dasar perairan, kami harus naik ke kapal dan segera mempersiapkan semua peralatan untuk berkemas kembali ke Padang. Begitu meninggalkan Pulau Tangah, sejenak kami melewati lokasi terumbu buatan tersebut. Timbul satu pertanyaan dan harapan pada benak kami, akankah beton yang telah kami susun akan di jadikan rumah baru oleh ikan? Jawabnya, "kita lihat saja nanti," ujar tim yang lain.

Penulis Pembina UKM Diving Proklamator Universitas Bung Hatta

Kabag Humas Universitas Bung Hatta

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Indrawadi, S.Pi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.