Resensi

Menyelami Kebudayaan Nias Melalui Fiksi

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 3 Mei 2011 13:04 WIB • 👁 1.546 Pembaca

Judul Buku : Manusia Langit

Pengarang : J. A. Sonjaya

Penerbit : Kompas

Terbit : September 2010

Tebal : 210 halaman

Melalui karakter Mahendra, seorang arkeolog yang ingin menyelami cara hidup orang di Nias pada dimensi lalu, novel ini pun secara tidak langsung ikut memaparkan kebudayaan dan juga adat istiadat yang berlaku bagi masyarakat Nias di era modernisasi yang mulai melibas kebudayaan di Indonesia.

Mahendra sebagai protagonis dalam novel etnografis ini juga memaparkan betapa harga diri menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya bagi orang Nias. Mahalnya pun mampu membuat seorang Nias berhutang dari generasi ke generasi hanya untuk mengukuhkan sebuah harga diri. Melalui tokoh Ama Budi, seorang tetua adat di Nias, arti harga diri bagi seorang Nias pun dideskripsikan dengan jelas. Untuk memperoleh gelar sebagai tetua adat saja, Ama Budi harus mengadakan sebuah upacara yang membuat ia harus berhutang kepada kerabat hingga puluhan tahun. Bahkan, di penghujung hayatnya, Ama Budi tetap digalayuti hutang meski ia telah menjadi orang yang dihormati di kampung kecilnya.

Tak hanya itu saja, aturan adat masyarakat Nias yang mengekang begitu erat juga menjadi hal menarik yang ditampilkan dalam novel yang juga merupakan hasil penelitian Sonjaya dari Agustus 2005- Juni 2010 ini. Di era globalisasi yang mulai melindas adat dan kebudayaan khas dari sebagian wilayah Indonesia, Nias menjadi salah satu daerah yang adat dan kebudayaan masih belum terkikis habis modernisasi.

Melalui tokoh Saita, kedudukan perempuan dalam masyarakat yang seutuhnya berada di bawah cengkraman laki-laki tergambar dengan sangat jelas. Untuk urusan pernikahan saja, misalnya, si anak gadis ditempatkan pada posisi menunggu hingga ada seorang pria Nias yang mampu membelinya kepada keluarga gadis tersebut. Pada akhirnya, si Bapak lah yang akan menentukan jodoh anak gadisnya. Tak sampai disana saja, ketika telah resmi menikah, seorang perempuan pun harus meninggalkan anggota keluarganya dan pergi mengikuti suami. Pada masa setelah menikah ini, suamilah yang menjadi penguasa atas seorang perempuan Nias.

Benturan nilai agama dan nilai adat yang terjadi pada masyarakat Nias yang sebelumnya tidak mengenal agama juga menjadi konflik hebat di dalam novel ini. Dalam upacara kematian, misalnya. Masyarakat Nias biasanya membiarkan mayat anggota keluarganya berada di depan rumah selama berbulan-bulan hingga dagingnya luruh secara alami, lantas tulang belulangnya akan disematkan di bawah patung yang terletak di depan rumah. Sebuah pesta pun diadakan untuk menghormati roh yang telah mati. Namun, ketika agama mulai merebak di masyarakat Nias, kebiasaan yang telah menjadi adat ini pun diupayakan agar hilang. Alhasil, berbagai benturan agama dan adat pun merebak.

Pada akhirnya, fiksi tetaplah bermuara pada imajinasi si pengarang. Fiksi bukanlah fakta, namun setidaknya melalui Manusia Langit, pembaca tak hanya disuguhkan dengan keindahan narasi yang membentuk cerita. Namun, banyak hal menarik yang ditemukan setelah membaca novel ini.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Sari Fitria
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.