Meski sudah berdiri dari tahun 90-an, namun Iluni UNP tak dirasakan kehadirannya oleh alumni sendiri
Ruangan berpapan nama Sekretariat Ikatan Alumni (Iluni) di lantai I perpustakaan pusat UNP terlihat sepi. Di dalamnya, terdapat sebuah meja bundar yang dikelilingi enam kursi yang dijorokkan ke kolongnya. Juga ada satu meja tempat kotak berisi kartu yang harus diambil wisudawan setelah membayar uang sejumlah Rp. 15.000,- sebagai syarat mendapat toga. Meja ini dihuni oleh Lusia Nitri, alumni UNP angkatan 2005. Ia mengaku bukanlah pengurus Iluni. Ia hanya bertugas membagikan kartu dan menulis nama pemiliknya di buku besar. "Sebagai database," terangnya Senin (4/4).
Memang, sejak tahun 90-an Iluni didirikan hingga kini belum begitu diketahui oleh sebagian alumni itu sendiri. Seperti yang disampaikan Ade Haoria alumni angkatan 2006. "Saya saja baru tahu Iluni ketika mendaftar wisuda kemarin, itu pun tak ada sosialisasi apa itu Iluni," ungkapnya, Rabu (6/4). Dikuatkan Siska, alumni angkatan 2005 ini mengaku mengetahui ketua Iluni baru belakangan ini. "Saya tahu nama ketua juga karena tertera di belakang kartu Iluni," selorohnya, Kamis (17/3).
Hal senada diungkapkan Vivaldi dan Mardiwan yang juga alumni angkatan 2005. Berharap terpampang informasi lowongan kerja, yang ditemukan hanyalah kertas bertuliskan ‘Di sini Sekre Iluni’. "Dan juga tulisan buka sandal dan sepatu," ujar Mardiwan, Selasa (5/4). Selain itu, di jendela sekre juga terpampang website iluni "http://iluni.unp.ac.id". Namun, setelah ditelusur, website ini tidak update. Postingan terakhir adalah tahun 2008.
Agaknya mereka kecewa karena tak tahu jelas program kerja, kegiatan, serta fungsi ikatan itu sendiri. Layaknya ikatan alumni universitas lain, seperti ITB dan UI, mereka berharap Iluni UNP juga bisa menjadi wadah alumni untuk mendapat informasi lapangan kerja. Selain itu, Iluni hendaknya memiliki link ke beberapa perusahaan dalam perekrutan karyawan yang dikhususkan pada alumni UNP sendiri. "Jangankan itu, fungsi kartu iluni saja tak jelas," kata Siska.
Kekecewaan ini pernah pula diangkat Ganto di tahun 2008 silam. Ketua Iluni Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., yang juga merangkap sebagai walikota Padang menyatakan sibuk kampanye menjadi salah satu kendala pergerakan Iluni jalan di tempat. Namun, telah memasuki tahun 2011 pun Iluni masih saja tak berkutik sedangkan setiap wisudawan tetap harus membayar sumbangan Iluni. "Kalau dihitung-hitung uang yang terkumpul pasti sudah sangat banyak, tapi apa realisasinya?," tambah Ade.
Menjawab problema yang ada, sekretaris Iluni Drs. Ganefri, M. Pd., pun angkat bicara. Ia menjelaskan Iluni hadir sebagai wadah berkumpulnya sekitar 94.000 alumni di seluruh penjuru tanah air untuk membangun komunikasi dan kecitraan UNP di lingkungan masyarakat. "Dampaknya negatif jika alumni tidak bisa berkontribusi di masyarakat," katanya, Senin (21/3).
Ganefri pun menerangkan, program kerja Iluni adalah peningkatan potensi alumni melalui seminar dan lokakarya. Juga, memberi informasi tentang peluang kerja yang ada di seluruh Indonesia. "Agar mudah, sekarang sudah dibentuk Iluni masing-masing fakultas, bahkan jurusan."
Namun, mengenai tak bekerjanya Iluni, Ganefri menampik rumor tak sedap ini. Ia menjelaskan di periode ini Iluni telah sukses mengadakan sosialisasi Program Profesi Guru (PPG). Selain itu, Iluni juga mendorong fakultas menggelar kuliah umum yang difasilitasi oleh alumni yang telah sukses. "Kegiatan ini rutin dilakukan di Fakultas Teknik," tambahnya.
Menyoal tak adanya informasi lowongan kerja bagi alumni, Ganefri membenarkan hal itu. Jelasnya, hal ini terkendala akan kurangnya komunikasi antara alumni sehingga informasi yang didapat sedikit. "Susah mengumpulkan kesemuanya karena kesibukan masing-masing." Ditambah lagi adanya faktor kepentingan. "Jika tak ada yang menguntungkan bagi mereka, mana mau mereka berkumpul." Selain itu, tambah Ganefri Iluni memang belum mampu mengumpulkan semua alumni karena sebelumnya tak ada sistem online. Website sekarang pun juga tak up to date lagi. "Adminnya tak jalan karena kurang informasi."
Di tempat terpisah, ketua Iluni, Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., juga melontarkan hal serupa, Kamis (24/3). Ia menuturkan beberapa sumbangsih yang telah dilakukan Iluni. Seperti bantuan pengaspalan jalan UNP, perbaikan GOR, pembangunan shelter di kampus, mendorong sertifikasi guru, pengusahaan pembangunan yang 10% terkendala gempa serta beasiswa S2 dan S3 pada alumni. "Uang 15.000 itu dialokasikan untuk Graha. Rencana ini sudah sejak 2007 lalu, namun terkendala gempa. Dalam waktu dekat, kami usahakan kembali," tambahnya. Namun terkait kendala, Fauzi malah mengatakan tak ada kendala dalam Iluni ini. "Yah ini kan gerakan sosial, mana ada kendala," tutupnya.
Makna Sebuah Kartu
Sebagian alumni hanya mengambil untuk formalitas, sebagian lagi tak peduli
Memasuki sekretariat Iluni, mata langsung tertumbuk pada kartu biru yang berjejal di kotak atas meja. Sekitar ratusan kartu masih menunggu jemputan pemiliknya. Ironisnya, kartu keanggotaan Iluni ini bahkan teruntuk wisudawan tahun lalu. "Banyak teman yang tidak mengambil karena merasa tidak penting," jelas Ade yang juga mengurungkan niatnya mengambil kartu itu. Kala pengurusan, Ade memilih jalur aman saja untuk patuh mengikuti prosedur persyaratan wisuda. "Saya tak ambil pusing saja, toh sosialisasi fungsi kartu dan uang sumbangan di kemanakan juga nihil," jelas Ade lagi. Dibenarkan Siska, kartu keanggotaan Iluninya hanya sebagai pemadat dompet saja. Walau telah menamatkan kuliah Maret 2010 lalu, ia tetap tak merasakan fungsi kartu. "Bahkan kadang saya gunakan sebagai pengganti penggaris," seringainya.
Pertanyaan ini segera dijawab oleh Sekretaris Iluni, Drs. Ganefri, M. Pd. Ia menjelaskan kartu keanggotaan itu berfungsi untuk pencarian kolega lain jika pergi ke daerah-daerah tertentu. Direncanakan, kartu itu akan dijadikan kartu asuransi. "Tapi kita harus membayar premi terlebih dahulu," ungkapnya, Senin (21/3).
Kemudian masalah sumbangan Iluni, Ganefri menjelaskan selain untuk membuat kartu, uang dikumpulkan dalam satu rekening Iluni. "Kira-kira sekarang totalnya 200 juta, tapi saya tidak tahu pasti." Uang ini dipergunakan untuk keperluan administrasi organisasi Iluni sebesar Rp. 800.000/bulan setelah mendapat persetujuan ketua, bendahara dan sekretaris.
Selain itu tambah Ganefri, uang tersebut juga digunakan untuk membangun Graha. Graha adalah tempat berkumpulnya semua alumni dan tempat untuk menyelenggarakan acara. Gedung ini akan didirikan di depan perpustakaan pusat yang sekarang tempat panjat tebing. "Peletakan batu pertama rencananya awal Mei ini bertepatan dengan hari pendidikan."
Ketika ditemui Ketua Iluni, Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., menjelaskan kartu bisa juga digunakan untuk pengurusan kepindahan dinas dari satu daerah ke daerah lain. Misalnya alumni sudah dinas 10 tahun di Mentawai dan ingin pindah dinas ke Padang. "Caranya bisa saja saya telepon bupatinya," jelas Fauzi, Kamis (24/3).
Iluni dan Universitas Tak Ada Lagi Kaitan
Iluni telah berdiri semenjak UNP masih bernama IKIP dan telah meluluskan banyak alumni. Walau sudah lama berdiri, kehadirannya masih menjadi tanda tanya baik bagi mahasiswa maupun alumni itu sendiri. Bagaimana peran Iluni UNP terhadap almamaternya selama ini? Simak hasil wawancara Reporter Ganto, Diana Besni dengan Pembina Iluni UNP, Prof. Dr. Z. Mawardi Efendi, M. Pd., Rabu (13/4).
Apa-apa saja program kerja yang telah sukses diangkatkan Iluni?
Mengenai hal ini tentu saja yang mengetahui secara detailnya adalah Iluni itu sendiri. Untuk lebih jelasnya tanya langsung ke Iluni.
Bagaimana fungsi dan peran Iluni bagi alumni dan UNP sendiri?
Iluni UNP dibentuk untuk selalu menjaga nama baik almamater UNP dimana saja berada. Ini terlihat dengan banyak alumni UNP yang sukses dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi UNP. Artinya, mereka sudah menjalankan perannya untuk selalu menjaga nama baik UNP dengan kesuksesan. Namun, secara keseluruhan antara Iluni dan universitas sebenarnya tidak ada lagi kaitan karena mereka bekerja dan berdiri sendiri-sendiri. Keduanya memiliki program kerjanya masing-masing. Namun, karena mereka alumni dari UNP, mereka tetap harus menjaga nama baik almamater di manapun mereka berada. Menjaga nama baik almamater tentu akan berpengaruh pada pandangan masyarakat terhadap UNP.
Bagaimana tanggapan Anda tentang perkembangan Iluni?
Iluni selama ini berkembang dan berjalan dengan baik, buktinya banyak alumni kita yang sukses dimana-mana.
Apakah Iluni sudah mampu merangkul semua alumni UNP, khususnya dalam membantu wisudawan dalam mencari pekerjaan?
Tentu saja ada. Hal ini tergantung dengan program Iluni itu sendiri. Setiap kali UNP mewisuda mahasiswanya, mungkin saja ada yang ditarik untuk bekerja dengan mereka.
Apakah Anda tahu untuk apa uang yang harus dibayar mahasiswa kepada Iluni?
Iuran ini tentu 100 persen hak ILUNI, terserah ILUNI nanti mau menggunakan iuran itu untuk apa, mugkin untuk program yang dirancang.
Bagaimana link Iluni menurut anda dengan perusahaan tertentu untuk menjaring alumni memiliki pekerjaan?
Bagus, buktinya banyak alumni kita yang bekerja di perusahaan-perusahaan terkenal.
Bagaimana meningkatkan peran Iluni khususnya dalam membantu lulusan dalam mencari pekerjaan?
Ke depannya Iluni harus lebih kuat, lebih bersatu, dan selalu menjaga nama baik almamater di mata masyarakat.
Komentar & Tanggapan Pembaca (1)
Malahan sekarang, 2015, keberadaan kartu Iluni sudah tidak diketahui lagi. Dari pantauan ke Pustaka pusat, pegawai perpustakaan bilang kalau pengambilan kartu Iluni telah dipindahkan ke FT semenjak renovasi. Padahal saat ditelisik ke FT, keberadaan kartu Iluni sudah tidak tahu rimbanya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah eksistensi kartu Iluni masih ada ataukah tidak ada? Kalau ada, ada dimana? Mohon penjelasannya.Â