Judul : Trilogi Insiden: Saksi Mata; Jazz, Parfum & Insiden; Ketika Jurnalisme
Dibungkam, Sastra Harus Bicara
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : 1, April 2010
Tebal : 452 Halaman
Harga : Rp74.000,-
Pergantian orde baru ke era reformasi tak tanggung-tanggung mengubah hampir semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di bidang jurnalisme. Kalau dahulu, seorang jurnalis dipusingkan antara idealisme dengan nasib hidup yang akan datang, sekarang, jurnalis justru sudah santai melebarkan sayapnya.
Tentunya masyarakat sekarang belum lupa dengan tragedi kemanusiaan di Dili Timor-Timor. Bergulirnya pemerintahan Soeharto, juga ikut menguak lebar tabir fakta yang sengaja dibungkam kekuasaan. Sebuah insiden yang merupakan penyebab dipecatnya Seno Gumira Ajidarma dari jabatan redaktur pelaksana media massa Jakarta waktu itu. Sekaligus sebagai pengantar bagi Seno, meracik fakta-fakta tersebut menjadi kumpulan sastra.
Begitulah, bagi Seno, jurnalisme bersumber dari fakta, sastra bersumber dari kebenaran. Fakta-fakta bisa saja diembargo, dimanipulasi, atau ditutupi dengan tinta hitam kekuasaan, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis hingga politik, tetapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.
Setidaknya ada tiga buku yang ditulis Seno seputar fakta dalam Insiden Dili yang ditabukan media massa semasa orde baru. Itulah saksi mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum & Insiden (novel) dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai). Ketiga buku ini diterbitkan kembali dalam satu judul "Trilogi Insiden". Sengaja, di tahun 2010 ini, semua dibundel dalam satu buku, dan diterbitkan kembali bukan sekedar untuk mengingatkan generasi penerus bangsa atas sejarah yang dibungkam bahkan diselewengkan demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Namun juga untuk menyentil jurnalisme masa sekarang.
Kalau jurnalisme tempo dulu berpolemik akan idealisme penyajian fakta, namun sekarang berperang dengan kebebebasan itu sendiri. Jurnalisme yang dahulunya begitu malu-malu, sekarang mendadak tampil dengan retorika selangit. Kontras dengan orde baru dulu, media massa sekarang tumbuh seperti jamur di musim hujan namun tak bisa diharapkan mengembangkan kebudayaan. Tak terlalu banyak yang tampil agak sedikit reflektif dan menyejukkan. Lebih tepatnya tiada lagi tempat bagi kesusastraan.
Prioritas media massa sekarang berlebih kepada politik yang bersifat kuantitatif, panjang, tapi tidak menukik. Kesusastraan semakin terpinggirkan karena dianggap tidak mengikuti arus. Dari sekian banyak media massa, umumnya hanya diluangkan koran minggu tempat mengadu kreatifitas dalam bersastra.
Tak sampai di situ saja, mencermati pergulatan jurnalisme sekarang, tak ada lagi Seno temukan fakta yang dibalut dalam keindahan sastra. Media massa hanya mementingkan kuantitas berita untuk memadankannya dengan ruang yang tersedia. Fakta-fakta yang disajikan datar dan melupakan transfer moral kemanusiaan. Tak ayal, jika berita pemerkosaan anak kandung oleh ayah kandung hanya memenuhi halaman ke berapa belas dalam beberapa baris saja.
Tentunya bagi pembaca yang haus akan kebenaran dan rangkaian kata-kata sastra yang penuh daya pikat, buku ini merupakan pilihan yang tepat. Seno memang pakarnya memainkan kata-kata dan menyusunnya menjadi alur cerita yang sederhana dan santai, namun penuh kejutan, unik, dan menggelitik jiwa pembaca. Membaca ceritanya, tak akan disangka bahwa ternyata Seno sedang menguak fakta-fakta yang sengaja dibungkam kekuasaan dalam model pengungkapan yang bertitik tolak pada keindahan bahasa sastra yang memikat hati pembaca.
Resensiator: Santi Syafiana
Mahasiswa Pendidikan Kimia UNP TM 2007
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!