Tingkat keberhasilan PMW turun 40% dari tahun sebelumnya. Pertanggungjawan laporan usaha peserta menjadi kendala
Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) intinya bertujuan memberikan pengalaman mahasiswa dalam berwirausaha. Hal ini diharapkan mahasiswa bisa membuka lapangan pekerjaan baru setelah lulus nanti. Sesuai dengan program pemerintah yang menyatakan bila dua persen saja warga negara Indonesia yang berwirausaha, maka permasalahan pengangguran di Indonesia akan tuntas. Sedangkan, saat ini baru sekitar 0,8 persen penduduk Indonesia yang berwirausaha. Hal ini disampaikan oleh Drs. Bahrul Amin, ST. M.Pd., selaku ketua panitia PMW tahun 2011 ketika mengadakan sosialisasi PMW di Ruang Serba Guna Fakultas Teknik UNP, Selasa (21/6). Bahrul berharap, PMW benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana mencari pengalaman berwirausaha. "Bukan lahan untuk mencari uang," katanya, Selasa (21/6).
Pernyataan Bahrul bukan tanpa alasan. Dua tahun berjalan, PMW banyak menyisakan permasalahan yang menyangkut laporan pertanggungjawaban usaha dan dana. Masih ada peserta yang ‘nakal’ dan mempermainkan dana yang diberikan. "Mungkin, karena mereka berpikir itu uang milik negara, jadi tak perlu dikembalikan," ujar Bahrul. Bahkan, lanjutnya, proses pelaksanaan usaha terkadang tidak sesuai dengan apa yang dibuat dalam proposal. Adapula peserta yang mengubah bentuk usaha tanpa sepengetahuan panitia PMW. "Meski begitu, kami juga tak menargetkan semua program itu sukses, asal bisa mempertanggungjawabkan kepada panitia saja," tambahnya.
Panitia PMW lainnya, Abror, SE., ME. juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, dalam berbisnis ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Namun, poin utama dari program ini adalah mahasiswa mau berbisnis. "Kalau tidak sekarang, kapan lagi," kata Abror, Jumat (10/6). Bisa saja, Abror melanjutkan, ketidakberhasilan program mahasiswa ini disebabkan jadwal perkuliahan berbenturan dengan waktu untuk mengelola bisnis.
Sayangnya, ‘kenakalan-kenakalan’ yang dilakukan oleh sebagian peserta ini berdampak pada keberlangsungan PMW pada tahun berikutnya. Terutama masalah dana. Pada 2009 dan 2010, dana PMW untuk UNP yang diberikan Dikti sebesar Rp.1 milyar. Namun, pada tahun ini, nominal itu berkurang menjadi Rp.700 juta. Penyebabnya terkait dengan pengelolaan program sebelumnya. "Makanya, peserta PMW juga harus memikirkan generasi selanjutnya," tegas Drs. Sudiro Sembiring, selaku panitia PMW UNP. Sudiro mengakui tingkat keberhasilan peserta PMW tahun 2010 menurun sekitar 40% dari tahun sebelumnya, Rabu (11/5). Tingkat keberhasilan ini dilihat dari pelaksanaan usaha. Hal ini terlihat pada keterlambatan pengumpulan laporan usaha dari peserta. Padahal, pihak panitia sudah memberikan pengumuman lewat pesan singkat agar segera menyerahkan laporan tersebut.
Bagi peserta yang gagal dan tidak bisa memberikan laporan usaha dengan jelas dan terperinci, panitia PMW sudah mengambil tindak tegas. Sudiro mengungkapkan ada mahasiswa yang portal pribadinya diblokir karena tidak bisa mempertanggungjawabkan program yang diajukan. Ditambahkan oleh Bahrul, bentuk sanksi lain berupa penahanan ijazah tamat dari UNP.
Namun, mahasiswa yang mampu dan sukses mengelola usahanya diperbolehkan melanjutkan program ini. Pengembangan usaha dapat dilakukan dengan merekrut anggota baru. Selain itu, pertimbangan izin perpanjangan usaha juga dilihat dari pendanaan dan manajemen usaha yang dilakukan. Lebih diutamakan keterlibatan mahasiswa dalam berwirausaha bukan hanya sekedar mencari untung besar, tetapi keterlibatan dalam berwirausaha.
Optimis Lewat Rencana
PMW memasuki tahun ketiga. Mahasiswa UNP tak patah semangat mengajukan program usahanya. Hal ini terbukti dari jumlah proposal yang masuk ke meja panitia yang mencapai 80 proposal atau 300 mahasiswa. Mereka datang dengan alasan yang berbeda dan harapan yang berbeda pula.
Salah satunya Engriyo, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris TM 2007. Ini adalah kali ketiga ia mengajukan proposal PMW. Dua tahun sebelumnya, nasibnya masih belum beruntung. Namun, tahun ini ia datang dengan program yang baru. Ia menyebutnya Creative English, sejenis kursus bahasa Inggris dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga SMA. "Usaha ini sudah jalan hampir dua bulan, PMW bisa menjadi penambah modal," tegasnya, Selasa (21/6). Modal awal ia dapatkan dari hasil patungan bersama beberapa teman. Menurutnya, PMW sangat berguna untuk menambah pengalaman dan mencari uang. "Makanya, saya perlu ikut PMW ini," tegasnya lagi.
Lain pula dengan Welly Dolendra yang mengajukan program Kimchi Kafe (Kafe masakan Korea yang dilengkapi dengan perpustakaan). Ia sudah merencanakan program ini sejak empat bulan yang lalu. Semester depan, ia mempunyai banyak waktu kosong karena mata kuliahnya sudah selesai. "Tak ada salahnya saya manfaatkan untuk mencari pengalaman lewat berwirausaha," ujarnya, Selasa (21/6). Ia telah lama menyukai hal-hal yang berhubungan dengan korea. "Jadi, kesukaan saya terhadap korea tidak hanya sebatas hobi saja, tapi bisa tersalurkan dengan berbisnis kafe ini," tambahnya.
Orang Kaya adalah Orang yang Berwirausaha
Adanya Program Mahasiswa Wirausaha menjadi salah satu bekal keterampilan bagi mahasiswa dalam menanamkan jiwa berwirausaha. Lantas, bagaimana peran kampus terhadap perkembangan pengelolaan peserta PMW? Berikut wawancara Reporter Ganto, Priondono dengan Pembantu Rektor III UNP, Drs. Alizamar, M.Pd.Kons., Selasa (21/6).
Apa tujuan dilaksanakannya PMW?
Tujuan diadakan PMW adalah untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Sehingga dengan adanya program PMW ini mahasiswa diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan tidak lagi menganggap menjadi PNS adalah satu-satunya keinginan yang harus dicapai.
Seberapa penting PMW bagi mahasiswa?
Sangat penting, saat ini banyaknya anggapanuntuk menjadi pegawai negeri adalah hal utama. Padahal dalam kuotanya penerimaan pegawai negeri berbanding terbalik dengan jumlah peminat, artinya para mahasiswa harus mampu mengubah paradigma tersebut yakni sukses juga bisa dengan jalan wirausaha. Kita melihat sendiri, orang-orang kaya pekerjaannya justru adalah berwirausaha. Bahkan prorgam wirausaha sendiri sudah ada sejak tahun 1997. Dengan adanya PMW, mengajarkan mahasiswa untuk mempraktekkan secara langsung di lapangan bagaimana berwirausaha.
Bagaimana minat mahasiswa UNP dari tahun ke tahun?
Cukup signifikan, namun tetap tidak bisa menampung sesuai dengan banyaknya jumlah mahasiswa saat ini, karena jumlah dana yang terbatas. Jika tahun pertama pengajuan proposal mahasiswa mencapai 40 proposal, maka pada tahun kedua mencapai 80 proposal. Tetapi kalau kita bandingkan dengan jumlah mahasiswa UNP, jumlah peminat masih kurang. Hal ini dilihat dari jumah serta yang mengirimkan proposal yang belum mencapai seperempat dari jumlah mahasiswa UNP.
Pernah Anda melakukan survei terhadap peserta?
Untuk survei ke tempat-tempat peserta PMW yang membuka wirausaha dilakukan oleh panitia yang telah dibentuk.
Bagaimana peran universitas dalam program ini?
Peran universitas sendiri dalam pelaksanaan PMW adalah sebagai pengusul untuk pelaksanaan PMW kepada Dirjen DIKTI. Setelah diterima usulan maka selanjutnya dibentuk struktur kepanitiaan. Universitas juga berperan sebagai pengkoordinir dan pengontrol terhadap pelaksanaan PMW.
Apa harapan Anda untuk pelaksanaan PMW ke depannya?
Mahasiswa tentunya harus ikut berpartisipasi dalam program ini. Mahasiswa yang mengikuti program ini tidak dituntut untuk berhasil 100% dalam menjalankan usaha, tetapi yang terpenting adalah pembelajaran dalam berwirausaha. Sehingga, nantinya setelah wisuda tidak ada lagi yang menganggur dan bisa berwirausaha sendiri tanpa harus bergantung pada orang tua.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!