Meski sudah memasuki tahun kedua, peserta PMW seolah matang diperencanaan namun gagap dipelaksanaan.
Rencananya, Temu Konsepsi Komunitas Wirausaha Mahasiswa UNP akan dimulai pukul 14.00 WIB, Jumat (10/6). Namun, peserta yang hadir di ruang MKU GM 4 hanya lima orang, termasuk seorang inisiator kegiatan, Edo Andrefson. Inisiator lainnya, Rian Julius Sapta dan Edrianosmoy belum datang. Mereka berasal dari tiga kelompok mahasiswa yang sedang mengelola Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2010.
Setelah jarum jam menunjuk pukul 15.00, satu-persatu peserta mulai berdatangan, termasuk Rian. Dari Rian didapat informasi Edrianosmoy tidak dapat hadir karena ada agenda mendadak yang tak dapat ditinggalkan. Ketika acara dibuka oleh Edo, peserta genap 10 orang. Semuanya laki-laki. Masih ada mahasiswa yang hadir belakangan, baik peserta PMW sendiri maupun mahasiswa.
Edo mulai menjelaskan tujuan utama diadakannya pertemuan sebagai wadah silaturahmi bagi peserta PMW untuk menceritakan perkembangan wirausaha dan kendala yang dihadapi. Selanjutnya, Rian mengaku senang karena kegiatan ini mendapat respon positif dari mahasiswa. "Reaksi awal sudah ada, meskipun masih skala kecil," katanya, Jumat (10/6). Lebih lanjut, Rian menjelaskan telah mengirimkan informasi kegiatan ini kepada peserta PMW 2009 dan 2010 lewat pesan singkat, jejaring sosial dan pemberitahuan langsung. "Mungkin banyak rekan peserta yang bentrok dengan jadwal kuliah," tambahnya.
Pelaksanaan temu komunitas wirausaha UNP tak diketahui oleh Yelvi Elita, peserta PMW 2010 yang mengelola pembudidayaan Lobster. Ia mengaku tidak mendapat kabar tentang pertemuan ini. Padahal ia begitu menunggu pertemuan sejenis ini dikarenakan ada beberapa masalah seputar usaha yang dikelolanya. Kurangnya komunikasi dan modal menjadi kendala utamanya. Hingga kini, usahanya masih jalan, meski sempat mengalami kerugian karena lobsternya banyak yang mati. "Kami usahakan menjalin komunikasi meskipun hanya lewat SMS," katanya, Jumat (1/7). Ia dan kelompoknya memakai uang pribadi dengan status pinjaman untuk mengatasi krisis modal.
Ditemui di tempat berbeda, Putri Desvira, peserta PMW periode 2010 yang mengelola usaha kerajinan dari kain flannel, mengemukakan alasan yang berbeda. Awalnya ia dan empat orang teman mengajukan usaha souvenir dari bubur kertas, namun gagal. "Kami kehilangan tiga anggota, makanya proses pengembangan usaha menjadi tidak lancar," ujar Putri, Selasa (21/6).
Selain itu, masih menurut Putri, kendala yang dihadapi kelompoknya sudah diberikan solusi oleh panitia PMW yang datang melakukan survei. Selama satu periode, dua-tiga panitia sudah melakukan survei sebanyak empat kali ke tempat usaha Putri. "Panitia sudah memberikan solusi, namun masih belum begitu terasa manfaatnya," Putri menambahkan. Hingga kini, usaha Putri masih berjalan meski tersendat-sendat. Ia juga sudah mengusahakan mencari jalan keluar dengan mempromosikan usaha melalui media online dan bazar. "Bisa dikatakan usaha kami hanya balik modal," tuturnya.
Habis-Habisan Berwirausaha
Bermula dari keinginan untuk memanfaatkan dan menjebol dana PMW, mereka memasang niat berwirausaha.
Rian Julius Sapta tengah panik karena program wirausahanya krisis. Dana sebanyak Rp.32 Juta yang diberikan pihak PMW tidak cukup untuk pengelolaan usaha. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk meminjam sejumlah uang kepada kenalannya. Nominalnya Rp.15 Juta. "Dalam satu bulan harus dikembalikan," ujar Rian, Senin (10/6). Ia harus mengambil pilihan sulit itu, jika ingin wirausahanya tetap jalan. Beruntung, uang tersebut bisa dikembalikan tepat waktu, lanjutnya.
Tidak hanya itu, Rian juga harus mengorbankan mata kuliah Praktek Lapangan (PL) karena harus fokus mengelola usahanya. Awalnya tidak masalah. Ia bisa membagi waktu antara kuliah dan usaha. Namun, ketika programnya mulai tidak kunjung berkembang sedangkan dana tidak cukup, ia mulai tidak berkonsentrasi PL. "Akibatnya, saya harus membuat laporan ulang untuk PL," ungkapnya.
Rian bersama 3 orang rekannya, Desember lalu dinyatakan lulus dalam Program Mahasiswa Wirausaha dengan mengusung usaha Digital Printing, dengan produk berupa Pin, ID card, Plakat, Gantungan kunci, Spanduk, Baju sablon dengan gambar UNP. Mereka menamakannya UNP Handycraft Center (UHC) yang sekarang terletak di depan BAAK. "Kami ingin membuat aksesoris dengan ciri khas UNP," katanya. Hingga sekarang, UHC telah mendapat untung mencapai 40%. Untuk mengembangkan kemampuan pengelola, Rian sebagai manajer juga mengirim anggota untuk mengikuti kursus dan membelikan buku-buku kewirausahaan.
Ia sesekali mengunjungi pembimbing untuk berkonsultasi. Hal yang biasanya dibicarakan mengenai perkembangan wirausaha. "Pembimbing kami sangat mendukung apa yang kami lakukan, meskipun ia tidak sepenuhnya paham dengan usaha ini," kata Rian.
Lebih lanjut, Rian mengungkapkan harapannya agar pihak pemberi dana, khususnya di UNP dapat membuat keputusan pemberian dana sesuai dengan kebutuhan peserta PMW. Hal ini bertujuan agar mahasiswa yang ikut dapat mengelola usahanya dengan maksimal. "Seharusnya, UNP membuat kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan," katanya.
Entrepreneur Mesti Kreatif dan Pekerja Keras
Adanya PMW menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha. Namun, masih ada beberapa hal yang harus dilakukan pihak pemberi dana (pemerintah), mahasiswa, dan universitas terkait pelaksanaan PMW ini. Berikut selengkapnya wawancara Reporter Ganto, Afdal Ade Hendrayana dengan dosen FE UNP, Thamrin, S.Pd., MM., kandidat doktor bidang Manajemen dengan kekhususan Entrepreneur Marketing.
Bagaimana Anda melihat kehadiran PMW bagi mahasiswa?
Positif. Tetapi saya masih melihat ada nuansa politis ketika banyaknya kritikan terhadap kebijakan pemerintah yang dilakukan oleh beberapa organisasi mahasiswa. Saya juga melihat DIKTI belum sepenuhnya paham konsep dalam mengajarkan mahasiswa untuk berwirausaha. Kehadiran PMW justru mengajarkan mahasiswa untuk berdagang seperti halnya pedagang kaki lima, bukan untuk berwirausaha. Itu bisa kita lihat melalui bisnis mahasiswa seperti usaha aksesoris dan sovenir, kafe, ternak ayam, laundry, budi daya ikan dan lain sebagainya. Lantas, kalau seperti itu usaha yang dijalankan, itu sama halnya dengan berdagang.
Jenis usaha seperti yang harus dijalankan.....
Ekonomi Indonesia saat ini mengarah kepada ekonomi industri kreatif. Artinya mahasiswa menjalankan usaha dengan melahirkan ide-ide atau inovasi baru. Misalnya, mahasiswa bisa menjual jilbab, tetapi bagaimana jilbab itu diolah dengan menambahkan sulaman, kreasi bentuk yang beraneka ragam. Usaha seperti itu yang dikatakan entrepreneurship. Mestinya dalam hal ini, DIKTI harus menjelaskan apa itu wirausaha dan seperti apa bentuk-bentuk usaha yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Ketika hal ini dilakukan, maka akan akan connect dengan ekonomi industri kreatif yang sedang digalak-galakkan pemerintah saat ini.
Sistem perekrutan seperti apa untuk menjaring mahasiswa yang akan mengikuti program ini?
Yang pertama dilakukan panitia adalah melihat sikap dan mental atau resourse base bagi kelompok mahasiswa yang akan mengikuti program ini. Apakah mahasiswa tersebut sudah memiliki jiwa berwirausaha. Untuk mengetahui itu, belum cukup hanya dengan melakukan seleksi terhadap proposal. Pihak panitia juga harus melakukan seleksi wawancara dan presentasi usaha dengan melibatkan wirausahawan dan praktisi wirausaha dalam memilih kelompok mahasiswa wirausaha. Dari presentasi yang dilakukan itu maka akan terlihat mental seorang wirausaha. Pihak universitas mestinya harus menyediakan tempat bagi mahasiswa yang akan melakukan wirausaha. Dengan hal seperti ini, pihak universitas nantinya bisa bekerja sama dengan mahasiswa yang membuka usaha.
Sikap dan mental seperti apa yang dilihat...
Wirausahawan adalah orang-orang yang bekerja keras, tidak mudah menyerah, optimis dan mampu melihat pangsa pasar atau peluang dari usaha yang akan dijalankannya. Banyak sekali mahasiswa wirausaha yang tidak jeli melihat pangsa pasar dari produk usahanya. Contohnya, mengapa kelompok wirausaha mahasiswa tidak melihat mahasiswa sebagai pangsa pasar. UNP memiliki sekitar 35 ribu mahasiswa. Apakah itu bukan target dari pangsa pasar? Sebenarnya itu yang harus dipikirkan. Dengan pangsa pasar seperti itu, tidak akan ada bentrok ketika mahasiswa berwirausaha dengan perkuliahan. Karena target pasarnya adalah mahasiswa dan pelaksanaan usaha pun dilakukan di lingkungan kampus.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!