Resensi

Syair Letusan Krakatau

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 24 November 2010 07:00 WIB • 👁 2.295 Pembaca

Judul Buku : Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883

Penulis : Suryadi

Penerbit : Komunitas Penggiat Sastra Padang

Cetakan : I, Januari

Tebal : 206 Halaman

Harga : Rp50.000,-

Letusan gunung api Krakatau tahun 1883 yang lampau merupakan bencana terdahsyat di Indonesia bahkan dunia. Selain berdampak besar bagi masyarakat Indonesia, bencana alam ini juga dirasakan oleh bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Letusan yang menyemburkan awan panas setinggi 70 Kilometer dan tsunami setinggi 40 meter. Bencana ini merenggut 36 ribu jiwa.

Selama ini kita banyak mengetahui dan membaca kesaksian tentang meletusnya Krakatau dalam bentuk tulisan, laporan, maupun foto dari arsip bangsa Belanda, Inggris, atau bangsa Eropa lainnya. Namun kali ini, Suryadi, dosen/peneliti di Leiden University, Belanda ini telah menuangkan hasil 2 tahun penelitiannya ke dalam buku berjudul Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883. Di dalamnya, Suryadi mendokumentasikan kesaksian dan catatan-catatan masyarakat pribumi.

Salah satu kesaksian pribumi yang terungkap setelah 125 tahun Krakatau meletus adalah Syair Lampung Karam. Menariknya, syair ini tersebar di enam negara berbeda yaitu Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia. Syair yang ditulis oleh Muhammad Saleh dalam bahasa Melayu ini memakai aksara Arab-Melayu (Jawi). Sedikit orang yang mengerti Arab-Melayu membuat catatan-catatan kuno ini kerap diabaikan. Padahal jika diteliti ternyata dapat menjadi dokumen yang sangat berharga. Di dalam syair indah yang terlihat sederhana terkandung informasi berharga tentang bencana maha dahsyat yang pernah terjadi di negara kita. Foto dan sketsa keadaan ketika bencana dan dampak yang ditinggalkan stelahnya juga akan kita nikmati.

Berbeda dari laporan-laporan bangsa Eropa yang telah ada. Penulis kelahiran Nagari Sanur, Pariaman, Sumatera Barat ini tak lagi menonjolkan laporan-laporan geologis akibat letusan dahsyat itu. Dia lebih membahas kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat letusan, beserta dampak psikologisnya. Di dalam syair yang diterjemahkan itu juga diceritakan sifat manusia terhadap sesama ketika sedang dalam keadaan pilu bencana. Ada yang masih tulus menolong, namun ada juga yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri dengan mengambil harta orang lain.

Buku ini menjadi semacam pengingat sekaligus alarm bagi masyarakat Indonesia. Menyadarkan kalau kita berdiam di sekitar cincin Pasifik, harus tetap waspada dan berhati-hati. Bencana alam berupa gempa dan letusan gunung api akan kerap menghantui.

Resensiator: Sonya Winanda

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris TM 2006

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Sonya Winanda
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.