Feature

Sepenggal Cerita di Jembatan Barelang

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 6 Agustus 2011 12:12 WIB • 👁 1.858 Pembaca

"Jembatan ini dibangun atas ide dari Pak Habibie pada tahun 1992," ungkap Pak Rudi yang menyupiri perjalanan kami mengitari Pulau Batam. Jembatan Barelang merupakan ikon kota industri ini sekaligus menjadi daya tarik pariwisata yang cukup menakjubkan bagi Kota Batam dan Provinsi Kepualau Riau. Sejak jembatan ini selesai dibangun tahun 1998 yang konon katanya memakan biaya hampir Rp 400 miliyar, sejak itu pula hampir ratusan pengunjung dari berbagai penjuru datang menikmati kemegahan jembatan yang juga dikenal dengan Jembatan Habibie ini. Banyak orang menyebutnya sebagai golden gate-nya Indonesia, khususnya Kota Batam, karena cable stay-nya yang menjuntai megah.

"Setiap akhir pekan jembatan ini selalu diramaikan pengunjung dari berbagai daerah dan luar negeri, seperti dari Malaysia dan Singapura," ujar Beni, pedagang jagung bakar di ujung jembatan satu, jembatan yang panjangnya sekitar 642 meter. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Tonton.

Nama Jembatan Barelang, seperti yang diketahui bersama, diambil dari singkatan pulau-pulau besar yang menghubungkannya yakni Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Jembatan Barelang sendiri terdiri dari enam jembatan yang menghubungkan enam pulau juga. Panjangnya mencapai 2 km dan nama-nama jembatan diambil dari nama raja-raja yang dulu berkuasa di Melayu-Riau (abad 15-18). Jembatan ini dirancang BJ Habibie yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, untuk memfasilitasi kemajuan perdagangan, industri, pariwisata, dan alih kapal bagi ketiga pulau tersebut.

Namun, tampaknya peran Jembatan Barelang sebagai fasilitator kemajuan perdagangan dan industri hingga saat ini belum menampakkan hasil. Ketika kami berjalan-jalan ke jembatan dua dan jembatan berikutnya, di Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setokok, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru, ternyata sangat sepi dari aktivitas baik itu perkebunan, perdagangan, apalagi geliat industri.

Potensi pulau-pulau ini masih belum dijamah dan sepertinya keinginan BJ Habibie masih jauh dari harapan. Hal ini menurut berbagai pihak tak lepas dari kondisi pemerintahan Kota Batam yang dipegang oleh dua kekuasaan besar; Pemerintah Kota Batam sendiri dan Otorita Batam atau Badan Pengawasan Batam. Ada dualisme kekuatan yang kadang tak sejalan yang mengakibatkan para investor enggan menanamkan modalnya di tempat tersebut.

Keberadaan jembatan yang terletak sekitar 20 km dari Kota Batam ini, masih memberikan nilai tambah karena daya tariknya yang luar biasa. Ketika singgah di jembatan satu yang juga dikenal dengan Jembatan Tengku Fisabillah ini, ratusan kedai makanan dan minuman serta pedagang makanan keliling siap melayani pengunjung. Makanannya beragam dengan cita rasa tersendiri. Kebanyakan jagung bakar dan air kelapa muda menjadi pilihan utama pengunjung. Harga jagung bakar mencapai Rp 8.000 per buah.

"Cukup mahal," kata seorang teman di sela gigitan jagung bakarnya, Selasa (5/4) lalu.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Adek Risma Dedees
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.