Surau tua itu masih terlihat berdiri tegap di tepi jalan raya Solok KM 7, Kecamatan Batipuah, Tanah Datar. Dari kejauhan terlihat empat buah atap bagonjong menjulang ke langit. Gonjong tersebut saling membelakangi, menghadap ke empat arah berlawanan mengapit kubah. Surau itu bernama Surau Nagari Lubuak Bauak. Lubuak Bauak diambil dari nama sungai kecil yang terletak persis di sebelah surau, yang memiliki dua buah lengkungan. Masyarakat sekitar menyebut lengkungan itu dengan istilah Bauak.
Desain bangunan dari surau ini dibuat bukan tanpa makna. Empat gonjong mengisyaratkan surau dibangun atas dasar gotong royong oleh empat suku, yaitu suku Koto, Jambak, Pisang dan Sikumbang. Sedangkan Kubah yang berada di tengahnya melambangkan kebesaraan Allah, sesuai dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. "Seperti inilah gambaran Falsafah Adat Minang yang sesungguhnya," ujar Armi Lestari, juru pelihara surau, Rabu (12/10).
Surau sekaligus Situs Cagar Budaya ini telah berdiri sejak 1884. Surau itu dibangun oleh masyarakat Nagari Lubuak Bauak di bawah kepemimpinan Datuak Angku Panjang sebagai orang yang dituakan. Mulai dari dinding, lantai, dan tonggak yang menopang surau, semuanya terbuat dari kayu yang diambil dari gunung merapi, seperti kayu Juar, Surian dan Bayur. Tak ketinggalan, motif Bungo Rampai diukir di tonggak dan dinding surau yangmenampilkan nilai keindahan tersendiri untuk dipandang mata.
Surau yang juga pernah digunakan Buya Hamka untuk menuntut ilmu ini memiliki empat lantai. Tiap-tiap lantai memiliki ukuran dan fungsi yang berbeda, semakin ke atas ruangannya semakin kecil. Setiap ruangan dihubungkan oleh sebuah tangga kecil yang melambangkan cara pengambilan keputusan. Armi menuturkan, lantai pertama merupakan ruangan terbesar, ditopang oleh 12 tonggak yang berfungsi sebagai tempat perundingan bersama masyarakat, kemudian keputusan dari lantai satu dibawa naik ke lantai dua. Begitu seterusnya hingga sampai di lantai empat.
Ukuran lantai empat paling kecil, lantai ini digunakan oleh dua orang Ninik Mamak yang berunding mengambil keputusan akhir. Setelah mendapatkan keputusan di lantai ini, dua orang Ninik Mamak turun kembali ke lantai tiga untuk menyampaikan hasil, begitu seterusnya hingga keputusan sampai di lantai satu. Proses seperti inilah yang dilakukan dalam pengambilan keputusan oleh masyarakat Nagari Lubuak Bauak dahulunya. Proses seperti ini dikenal dengan istilah bajanjang naiak batanggo turun.
Sekarang Surau Nagari Lubuak Bauak tetap digunakan sesuai fungsinya, aktivitas pengajian rutin diadakan. Anak-anak yang belajar Iqra berada di lantai satu. Untuk belajar Alquran di lantai dua. Selain berfungsi sebagai TPA, surau sering juga dipakai untuk rapat adat, PKK dan kegiatan pariwisata.
Armi juga mengaku surau yang telah ia tempati selama 27 tahun ini pernah mengalami renovasi dinding tahun 1984. Perbaikan yang dilakukan tetap merujuk pada bentuk asli dari konstruksi awal. Bapak dua anak ini juga menambahkan, kalau surau Nagari Lubuak Bauak merupakan aset miliaran rupiah yang harus dipelihara dengan baik, bukan untuk masyarakat minang saja melainkan untuk kebanggaan Indonesia. "Karena setiap sudut dari bangunan ini memiliki nilai seni sejarah dan budaya yang sangat besar," tegas Armi, Rabu (12/10).
Meski memiliki banyak potensi dan keunggulan, surau ini masih belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah, baik itu pemerintah daerah maupun pusat. Terbukti dari masih terbatasnya fasilitas yang berada di surau, seperti Alquran yang sudah terlihat lusuh, tikar salat dengan jumlah yang tidak banyak.
Menurut Armi, ia telah berjuang sekuat tenaga dalam memelihara surau menjadi lebih baik. Berbagai upaya sudah dilakukannya, seperti pengajuan proposal bantuan kepada pihak kenagarian serta Badan Pengawas Keuangan Daerah. Selain untuk kebutuhan TPA, bantuan yang diperoleh nantinya digunakan untuk membangun perpustakaan. "Hingga sekarang belum ada bantuan sama sekali," akunya. Meski kompensasi yang ia terima belum mencukupi, namun ia mengaku tetap bahagia.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!