Dari lantai bawah, suara teriakan dan hentakan kaki yang berlari perlahan-lahan terdengar, seperti gemuruh. Suara-suara itu semakin dekat. Tak beberapa lama, dari mulut jenjang, puluhan remaja laki-laki dan perempuan keluar bagai semut yang keluar dari sarang. Mereka semakin banyak memburu meja panitia pendaftaran. Teriakan dan hentakan kaki itu tak berhenti hingga setengah jam kemudian, setelah sebarisan panjang peserta TalkshowBersama Raditya Dika mengantri di sepanjang lantai empat Gedung Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi UNP, Minggu siang (5/2).
Satu jam kemudian, setelah kursi merah di ruangan acara penuh, Raditya dika keluar dari belakang panggung. Teriakan menggema dari penggemar setia pengarang buku komedi KambingJantan ini. Ketika Raditya menyapa, pekikan itu semakin riuh dan dibarengi dengan tepuk tangan yang berbalas-balas dari satu sudut ruangan ke sudut yang lainnya.
Raditya Dika dikenali khalayak ramai ketika buku pertamanya Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005)terbit di pasaran. Buku tersebut merupakan intisari dari berbagai pengalaman hidup yang awalnya ia tuliskan di blog pribadi. Buku itu menjadi best seller. Kemudian, berturut-turut Raditya menerbitkan buku masih dengan personal-essay-comedy, yaitu: Cinta Brontosaurus (2006), Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (2007), Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang (2008), Marmut Merah Jambu (2010) dan Manusia Setengah Salmon (2011). Raditya memiliki penggemar tersendiri yang semakin lama semakin banyak. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang hadir pada saat Talkshow lebih dari 600 peserta.
Namun, semua keberhasilan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang mudah dan instan. Ia bahkan pernah ditolak berkali-kali oleh penerbit yang berbeda. "Mungkin mereka pikir, buku pertama saya itu bercerita tentang hewan jadi dianggap kurang menarik," ujarnya, Minggu (5/2). Ketika ada satu penerbit yang mau menerbitkan bukunya, ia harus berjuang keras mempresentasikannya agar bisa diterima. Akhirnya buku itu tersebar di toko buku. "Kita memang tidak boleh menyerah bila ingin sukses," tambahnya.
Meskipun bergaya komedi, semua bukunya selalu menampilkan dan membuka pandangan baru terhadap suatu pengalaman. Kejadian yang kecil dan biasa saja, bisa menjadi unik dan menggelitik oleh Raditya. Ia mengaku, banyak pengalaman yang ia tuliskan berdasarkan kegelisahannya terhadap suatu hal. "Menulis merupakan cara untuk mengungkapkan kegelisahan," katanya. Kegelisahan yang bisa dijelaskan dengan cara komedi dan menertawakan diri sendiri. Menurutnya, setiap kegelisahan bisa dilihat dari berbagai sisi. Selain itu, Ia tetap ingin menampilkan kesan santai namun berisi dari setiap buku yang ditulisnya.
Raditya yang tak pernah memikirkan akan menjadi penulis terkenal ini menjelaskan sebuah karya itu tidak bisa langsung menjadi besar. Untuk mencapai semua itu butuh proses. Seseorang harus menyenangi dunia tulis menulis, bukan karena terpaksa. "Ketika kamu telah lupa waktu dalam menulis, berarti saat itulah kamu mulai mencintainya," tegasnya. Ia berpesan, bila ingin menjadi penulis hebat, perbanyak membaca.
Tidak hanya menjadi penulis, Raditya juga terkenal karena keahliannya dalam Stand Up Comedy, yaitu seni berkomedi yang disampaikan secara monolog kepada penonton. Ia adalah salah seorang yang kembali mempopulerkan aksi tersebut di Indonesia. Biasanya, Raditya menyampaikan cerita bertemakan ‘protes’ terhadap hal-hal yang terjadi dalam kehidupan. Namun, semua itu disampaikan dengan gaya bercerita yang lucu dan menggelitik.
Ia sempat melakukan Stand Up Comedy di hadapan peserta talkshow. Ia juga menantang peserta untuk menampilkan Stand Up Comedy di atas panggung. Seorang siswa maju ke depan. Siswa itu tampil dengan percaya diri dengan tema yang telah dipersiapkan. Setelah 5 menit berlalu, Raditya mengomandoi seluruh peserta memberikan applause. Selanjutnya Ia memberikan masukan-masukan positif. "Kalau Stand Up Comedy, ambil materi yang dekat dengan lingkungan kamu saja. Jangan ambil materi yang tidak kamu kuasai sehingga membuat kamu menjadi tidak nyaman" ujarnya. Tepuk tangan menggema lagi.
Satu setengah jam berlalu. Acara selesai. Peserta bubar. Tapi, ada beberapa peserta yang masih bertahan di dalam ruangan. "Saya ingin meminta tanda tangan Raditya Dika," katanya. Tapi, ia telah pergi ke Bandara dan kembali ke Jakarta.
Komentar & Tanggapan Pembaca (1)
untuk tahun ini ada acara lagi Admin ?Â