Semenjak 1880, pengerukan harta karun bumi Sawahlunto dilakukan. Salah satunya di Lobang Tambang Mbah Soero. Tambang ini merupakan penghasil mutiara hitam terbaik.
Inilah tambang tertua di Sawahlunto yang dibuka pada 1898. Keberadaannya yang terletak di tengah kota diapit bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda di Jalan Mohammad Yazid menjadi daya tarik tersendiri saat ini. Setelah menghasilkan berton-ton mutiara hitam, pada 1932 lobang tambang ini ditutup.
Dahulunya, Lobang ini bernama Lobang Tambang Lembah Soegar karena letaknya di Lembah Soegar. Untuk mengambil mutiara yang terdapat di dalam lembah, pada saat itu pemerintahan Hindia Belanda mendatangkan buruh paksa dari berbagai daerah di Indonesia kemudian dimasukkan ke penjara. Mereka dipaksa bekerja tanpa penghasilan. Tak hanya itu, selama bekerja kaki mereka juga dirantai. "Oleh sebab itu, mereka disebut dengan orang rantai," tutur salah seorang pemandu wisata, Sudarsono, Selasa (6/3). Penderitaan orang rantai semakin bertambah ketika produksi batu bara semakin meningkat. Selain kaki yang dirantai, pekerja paksa itu juga harus menerima cambukan tiga kali dalam setahun.
Beruntung, pada awal abad 20 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan mandor dari Jawa. Namanya Mbah Soerono dan akrab dipanggil Mbah Soero. Ia diangkat menjadi mandor di Lobang Tambang Soegar ini. Dalam kesehariannya ia dikenal sebagai pribadi yang sangat rajin bekerja, berperilaku baik, dan taat beribadah. "Karena sifatnya itu, lobang tambang ini berubah nama menjadi Lembah Soero," ungkap Sudarsono. Namun pada 1932, Lobang Tambang Mbah Soero harus ditutup karena permukaan air Sungai Lunto di sekitar lobang tambang naik.
Kehebatan lobang tambang tak berhenti begitu saja. Meskipun tak mampu lagi menikmati hasil tambangnya, banyak orang yang ingin tahu mengenai sejarah dan pesona masa lalu lobang ini. Akhirnya pada 26 Juni 2007, pemerintah membuka kembali lobang ini sebagai tempat wisata bagi masyarakat. Inilah satu-satunya wisata tambang yang ada di Sumatera Barat.
Perjalanan wisata diawali dengan melewati galeri tambang yang terletak di samping Lobang Tambang Mbah Soero ini. Galeri berlantai dua yang disebut Info Box ini menghadirkan berbagai peninggalan tambang yang dipakai orang rantai saat bekerja. Salah satunya rantai besi yang terdapat di kota kaca berukuran 1,5 x 1 meter yang disuguhkan ketika memasuki Info Box. "Untuk masuk lobang tambang anak-anak bayar 5000 dan dewasa 8000," ungkap Sudarsono.
Menaiki lima belas anak tangga yang terbuat dari besi hitam yang dipasang sebelah kiri pintu masuk, akan terdapat catatan sejarah tambang Mbah Soero yang dipajang pada bingkai kaca merah dengan tulisan kuning. Di sini pengunjung akan mengetahui lebih jauh tentang seputar wisata tambang.
Uniknya, sebelum memasuki lobang tambang yang berkedalaman 30 meter ini pengunjung diwajibkan memakai pakaian ala pekerja tambang. Sepatu dan helm ini tersedia di meja resepsionis khusus untuk pengujung. Hal ini dilakukan supaya pengunjung bisa merasakan keadaan yang pernah dialami pekerja dahulunya. "Ini juga bertujuan untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung," ungkap Sudarsono. Terowongan sepanjang 135 meter dengan tinggi 2 meter dan lebar 1,5 meter ini berdinding dan beratap batu bara. Di isi kanan dan kiri terdapat beberapa ruangan kecil yang berlantai pavin blok sebagai tempat perlindungan pekerja saat lori melintas.
Lobang tambang yang memiliki 2 pintu itu terdapat di bawah pamukiman penduduk. Pengunjung memasuki lobang tambang di samping kiri Info Box dan keluar di depan Info Box persis ditengah pemukiman padat penduduk. "Inilah keunikan wisata tambang yang membuat para pengunjung meningkat setiap tahunnya, baik dari dalam dan luar negeri," ungkap Sudarsono ketika keluar dari lobang tambang Mbah Soero.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!