Judul Buku : Padang di Persimpangan Jalan
Penulis : Walneg S. Jas dan Windo Wibowo
Penerbit : PT Visi Nusantara, Jakarta
Cetakan I : Tahun 2012
Tebal : 235, Bibliografi tanpa indeks
... Agak sulit untuk mengatakan bahwa simbol kejayaan [masa lalu] itu adalah gambaran kekinian dari eksistensi kota Padang...."
(Irman Gusman).
MAU KEMANA KOTA PADANG? Itulah judul yang hendak saya berikan terhadap tinjauan buku baru ini. Jawabannya, ya, sudah tersedia pada judul buku ! "Kota Padang di Persimpangan Jalan. Penjelasan selanjutnya dipaparkan penulis dalam delapan bagian. Kata kuncinya terletak pada bagian awal. Inilah kutipannya:
"Saat ini Kota Padang seolah berada di persimpangan jalan, akankah terus tertinggal dari kota-kota lain ataukah bisa bangkit meretas kejayaan masa lampau [masa lalunya] kembali? Apa yang salah dan siapa yang bertanggungjawab dengan fenomena kemunduran ini? Tentu bukan saatnya untuk mengupas siapa yang salah, karena hal itu hanya akan menghabisakan energi dan menimbulkan disharmoni (p.xii, kata dalam kurung, kata dari penulis esi ini).
Dengan membuka halaman-halaman berikutnya, pembaca akan mengerti bahwa buku ini merupakan renungan penulis tentang potret kota Padang dalam perspektif jangka panjang mulai dari masa lalu, masa kini dan visi masa datang. Buku ini juga didukung data memadai. Penulis menggambarkan a.l succes story masa lalu, baik dalam perdagangan, maupun pemerintahan dan penataan kota. Pun dilukiskan potensi sumberdaya (manusia dan alamnya). Misalnya, Padang pernah melahirkan sejumlah "orang besar" yang cukup dikenal dalam khasanah tokoh nasional, seperti tokoh pers Minangkabau, Mahyuddin Dt. St Maharaja, pengarang Roestam Efendi dan Marah Roesli, Wali Kota Padang Bgd. Azizchan yang terbunuh di zaman perjuangan, Jend. Awaluddin Djamin, Jend. Azwar Anas, pengusaha Nasional A Hasjum Ning, dan lain-lain. Pasti jumahnya akan lebih banyak lagi jika dimasukkan tokoh-tokoh besar lain yang pernah hidup dan tinggal (bersekolah) di kota ini seperti, Wk Presiden Moh. Hatta dan mantan Rektor UI, Bahder Djohan, kecuali ketua DPD RI, Irman Gusman, yang memang sudah disebut dalam buku ini.
Kota Padang di Persimpangan Jalan merupakan sebuah kajian evaluasi tentang perkembangan kota dalam tiga zaman (kolonial Belanda, Jepang), masa perjuangan kemerdekaan dan setelah masa merdeka sampai hari ini (ada potret kampus baru Univ. Bung Hatta di Aie Pacah, By Pass). Menurut sejarahnya, Padang adalah kota tua yang sudah berusia 342 tahun (tahun 2011). Namun perkembangannya, seperti dipaparkan buku ini, ternyata tidak berjalan linier, atau progresif ke depan, melainkan terdapat semacam fluktuasi jatuh-bangun yang tidak konsisten dan hari ini gambaran pesimistik lebih mengemuka ketimbang optimistik.
* * *
Akan tetapi itulah soalnya. sengaja saya mengutip langsung cuplikan pandangan penulis tentang kota ini, untuk menunjukkan penulis tidak memilii ‘keberanian’ intelektual untuk mengupas tuntas, mengapa Kota Padang terperosok di persimpangan jalan. Penulis hanya mengatakan seolah-olah..... di persimpangan jalan. Sebagai kajian evaluasi (assessment)penulis tidak berhasil menjelaskan apa yang salah dan siapa yang bertanggungjawab terhadap kemerosotan, kalau bukannya karut marut kota. Penulis juga seperti sengaja melupakan isu kronis dan aktual, misalnya, tentang kisruh pembangunan kios pedagang dan distribusi bantuan paska gempa hebat 2009 yang memenuhi halaman koran padang dewasa ini. Katanya, "karena hal itu hanya akan menghabiskan energi dan menimbulkan disharmoni..."
Jadi salah satu kelemahan utama buku ini ialah kegagalan penulis menganalisis mengapa terjadi kemerosotan dan siapa yang harus bertanggungjawab. Hipotesis saya ialah, tentu masih perlu diuji, bahwa warga kota, khususnya para pedagang sebagai ahli waris penduduk perkotaan dimanapun, tidak mendapat perlakuan yang wajar dan karena itu mereka dibuat nyaman oleh kebijakan perkotaan. Orang yang paling bertanggungjawab, dalam semua ini, ialah pengurus kota, utamanya walikota dan para politisinya yang duduk di legislatif, yang lebih suka menghamburkan biaya untuk hal yang tidak perlu daripada menyisihkannya untuk pelayanan publik. Sesungguhnya merekal harus bertanggungjawab karena mereka digaji rakyat untuk mengurus kota dan warganya. Seandainya penulis mau dan mampu menjelaskan ini, judul buku ini menjadi lebih tajam dan jujur.
Kelemahan kedua ialah buku ini miskin literatur dan data. Apa yang tidak pernah ditulis tentang Padang? Sejarah, populasi, dan pembangunan infrastrukturnya telah ditulis, misalnya oleh antropolog Belanda, Freek Colombijn dalam bukunya Paco-Paco Kota Padang...(2006). Buku Rusli Amran, tokoh yang tercatat dalam buku ini sebagai kelahiran di kota ini, tidak digunakan. Padahal ia menulis tentang Padang Riwayatmu Dulu (1988), sebuah buku tebal yang kaya data. Rusli Amran juga menyebutkan Eduard Douwes Dekker yang terkenal sastrawan dunia nama samaran Multatuli itu, juga pernah tinggal di Padang pada pertengahan abad ke-19, seperti juga seorang pangeran Jawa itu, juga dibuang dan meninggal di Padang di awal abad lalu. Buku saya, Mestika Zed dkk, tentang Kota Padang Zaman Perjuangan (2004) dan Biografi Azizchan (2005) juga cukup kaya dengan data tentang isu perkotaan, populasi dan pendidikan zaman kolonial dan zaman paska-proklamasi. Labih disayangkan penulis tidak menggunakan dokumen resmi berupa laporan pembangunan yang banyak macam dan jumlahnya, termasuk koran yang terbit di Padang yang menyuguhkan drama sehari-hari tentang Kota Padang. Termasuk misalnya, kasus menjual air yang tidak bermodal oleh PDAMN itu, tekor melulu dan celakanya malah terlibat skandal korupsi.
Bagaimanapun saya menyambut baik kehadiran buku ini karena ia mengingatkankita akan banyak hal yang dilupakan orang, khususnya yang terkait dengan seluk beluk kota yang makin rumit dalam era kontemporer ini. Salah satu analisisnya yang menarik ialah tentang gambaran visi masa depan kota ini lewat uraian "kontrak psikologis", suatu saran yang juga sulit diukur, seperti yang dikritiknya terhadap visi resmi Kota Padang. Secara keseluruhan buku ini saya ponten baik dan perlu dibaca oleh para peneliti, politisi, perencana bangunan, dan tentu saja juga oleh warga kota.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!